WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Amerika Serikat dan Iran resmi mempublikasikan draf kesepakatan damai sementara pada hari Rabu kemarin. Langkah penting ini menghentikan perang besar yang sempat melumpuhkan stabilitas ekonomi global secara signifikan.
Sebab, draf tersebut memuat kesepakatan transisi menuju pengakhiran konflik bersenjata secara permanen. Meskipun begitu, Presiden Donald Trump tetap melayangkan ancaman militer yang sangat keras kepada pihak Tehran.
Retorika Keras dan Sinyal Kelonggaran Trump
Trump bersumpah akan kembali menjatuhkan bom jika Iran berani melanggar komitmen damai tersebut. Namun, ia secara mengejutkan melunakkan retorika kerasnya mengenai kepemilikan senjata rudal balistik oleh pihak Iran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai pembatasan rudal tersebut tidak adil bagi Iran karena negara lain juga memilikinya. Oleh karena itu, Trump membatalkan rencana awal untuk menghancurkan seluruh fasilitas rudal pertahanan Iran.
Jejak Perang dan Fluktuasi Pasar Energi
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel memulai serangan militer ke wilayah Iran sejak tanggal 28 Februari lalu. Gempuran awal tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang telah berusia 86 tahun.
Akibatnya, perselisihan bersenjata ini meluas menjadi perang regional yang meroketkan harga minyak mentah dunia. Kini, prospek pembukaan kembali Selat Hormuz berhasil menurunkan harga minyak mentah dunia secara bertahap.
Harga minyak mentah Brent sempat merosot hingga berada di bawah $80 per barel kemarin. Tetapi, harga kembali naik sebesar lebih dari 1\% setelah Trump melontarkan ancaman perang baru.
Poin Utama Memorandum Kesepahaman (MoU)
Seorang pejabat senior Amerika Serikat membacakan 14 poin kesepakatan memorandum kesepahaman (MoU) tersebut secara terbuka. Kesepakatan sementara ini memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari untuk merumuskan draf damai permanen.
Kedua presiden juga telah menandatangani draf tersebut secara digital melalui saluran komunikasi resmi. MoU tersebut mengatur penghentian perang secara total di semua front pertempuran termasuk wilayah Lebanon.
Selain itu, kesepakatan ini membuka kembali lalu lintas pelayaran Selat Hormuz bagi kapal dagang internasional. AS juga mencabut blokade pelabuhan, menghapus sanksi ekonomi, serta mengembalikan aset keuangan milik Iran.
Bahkan, draf damai ini menjanjikan program pemulihan ekonomi bagi Iran senilai $300 miliar dolar AS.
Sambutan Hangat G7 dan Teguran untuk Israel
Di sisi lain, para pemimpin negara anggota G7 menyambut hangat pencapaian kesepakatan damai sementara ini. Meskipun mendukung perdamaian, mereka tidak pernah merestui keputusan awal Donald Trump untuk memulai perang sepihak.
Mereka juga mendesak pemberlakuan gencatan senjata segera untuk mengakhiri penderitaan warga sipil di Lebanon. Trump sendiri menyempatkan diri untuk menegur taktik perang agresif Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ia menilai militer Israel terlalu reaktif dalam menghancurkan gedung-gedung pemukiman di wilayah Lebanon selatan. Meskipun mendapat teguran, militer Israel tetap meluncurkan serangan udara baru ke beberapa wilayah Lebanon kemarin.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa











