PM Sanae Takaichi Bantah Tuduhan Kampanye Hitam

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Strategi konsolidasi di Tokyo. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membentuk kelompok riset baru yang didukung oleh 347 anggota parlemen guna memperkuat basis kekuasaan serta mendorong agenda keamanan dan ekonomi nasional. Dok: Istimewa.

Strategi konsolidasi di Tokyo. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membentuk kelompok riset baru yang didukung oleh 347 anggota parlemen guna memperkuat basis kekuasaan serta mendorong agenda keamanan dan ekonomi nasional. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menghadapi tekanan baru terkait taktik kampanye digitalnya. Takaichi secara resmi membantah laporan yang menyebut timnya menyebarkan video penghinaan melalui akun anonim guna menjatuhkan kredibilitas lawan politik.

Pernyataan tersebut ia sampaikan di hadapan parlemen Jepang pada Senin pagi. Takaichi merespons pertanyaan tajam dari anggota parlemen oposisi, Yuko Mori, mengenai integritas staf kepresidenan dalam pemilihan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) tahun lalu serta pemilihan umum Februari 2026.

Tuduhan Shukan Bunshun: Target Koizumi dan Edano

Skandal ini bermula dari laporan investigasi majalah mingguan Shukan Bunshun pada akhir April. Majalah tersebut mengeklaim bahwa sekretaris pertama Takaichi—yang didanai publik—terlibat langsung dalam pembuatan konten digital negatif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Video-video tersebut diduga menyerang Shinjiro Koizumi, rival Takaichi yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Konten tersebut menjuluki Koizumi sebagai sosok yang “tidak mampu” dan “boneka politik keturunan”. Selain itu, laporan tersebut mengeklaim tim Takaichi memproduksi video untuk pemilu 8 Februari yang melabeli Yukio Edano sebagai “tukang komplain profesional”. Edano sendiri akhirnya kehilangan kursi parlemennya dalam pemilihan tersebut.

Baca Juga :  Modus Pancing ke Hotel, Pasutri di Tangerang Rampok dan Lukai Mantan Pacar

Pembelaan Takaichi: “Saya Percaya Sekretaris Saya”

PM Takaichi memberikan bantahan kedua dalam sidang parlemen sejak hari Jumat lalu. Ia menegaskan telah melakukan verifikasi langsung kepada seluruh staf kantor dan tim kampanye pusatnya terkait tuduhan tersebut.

“Tim saya tidak menyebarkan informasi negatif tentang kandidat lain atau memproduksi video semacam itu,” tegas Takaichi. Saat Mori mempertanyakan validitas konfirmasinya, Takaichi memberikan jawaban retoris yang menonjolkan loyalitas internal. “Apakah saya harus mempercayai majalah mingguan atau mempercayai sekretaris saya? Saya memilih percaya pada sekretaris saya,” ujarnya.

Pendekatan Serangan Pribadi dan Strategi Digital

Takaichi menambahkan bahwa melakukan serangan pribadi terhadap lawan bukanlah pendekatannya dalam berpolitik. Meskipun demikian, kemahiran Takaichi dalam menggunakan media sosial memang diakui secara luas sebagai faktor penentu kemenangannya.

Baca Juga :  Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum

Penguasaan platform digital membantu LDP meraih kemenangan telak dalam pemilihan Majelis Rendah. Strategi ini juga mengantarkan Takaichi menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang pada Oktober lalu. Oleh karena itu, munculnya tuduhan kampanye hitam melalui proksi anonim ini menjadi isu sensitif yang dapat merusak citra modernisasi politik yang ia usung.

Menanti Bukti Lanjutan

Hingga saat ini, pihak Shukan Bunshun menyatakan tetap memegang teguh laporan investigasi mereka. Masyarakat politik Jepang kini memantau apakah akan ada bukti digital tambahan yang muncul guna membuktikan keterlibatan staf pemerintah dalam operasi “polisi bayangan” di dunia maya tersebut.

Singkatnya, integritas administrasi Takaichi kini berada di bawah pengawasan ketat. Di tahun 2026 yang penuh dengan persaingan teknologi informasi, transparansi kampanye digital menjadi standar baru bagi kepercayaan publik terhadap kepemimpinan nasional di Tokyo.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terbaru

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB