ISTANBUL, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Turki melakukan langkah drastis guna menjamin stabilitas nasional pasca-insiden kekerasan di wilayah diplomatik. Pasukan keamanan menangkap hampir 200 orang dalam operasi sapu bersih di seluruh negeri pada hari Rabu.
Dalam konteks ini, penangkapan tersebut merupakan respon langsung terhadap aksi penembakan di depan Konsulat Israel. Menteri Kehakiman Akin Gurlek menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan ruang bagi kelompok radikal untuk merusak keamanan publik di tahun 2026.
Operasi Serentak di 34 Provinsi
Menteri Gurlek mengumumkan melalui media sosial X bahwa petugas menangkap 198 tersangka dalam satu hari. Operasi intelijen ini berlangsung secara simultan di 34 provinsi berbeda guna melumpuhkan jaringan Daesh atau IS.
Oleh karena itu, otoritas pengadilan telah menempatkan 12 orang dalam tahanan pra-peradilan. Jumlah ini mencakup dua penyerang yang menderita luka tembak dan kini menjalani perawatan medis di bawah pengawasan ketat. Polisi terus melakukan pengejaran terhadap sisa-sisa sel tidur yang diduga merencanakan serangan lanjutan di pusat perkotaan.
Kronologi Baku Tembak di Distrik Bisnis Levent
Aksi teror bermula pada Selasa sore di distrik bisnis Levent, wilayah Eropa di Istanbul. Rekaman kamera pengawas menunjukkan seorang pria bersenjata senapan otomatis melepaskan tembakan ke arah polisi di depan misi diplomatik Israel. Akibatnya, baku tembak sengit pecah selama kurang lebih sepuluh menit.
Petugas kepolisian berhasil melumpuhkan satu penyerang berusia 32 tahun yang teridentifikasi memiliki kaitan dengan IS. Selain itu, dua petugas polisi mengalami luka ringan dalam kontak senjata tersebut. Para penyerang diketahui tiba menggunakan kendaraan sewaan dari wilayah Izmit yang berjarak 86 kilometer dari lokasi kejadian. Dua pelaku lainnya yang terluka merupakan saudara kandung yang memiliki catatan kriminal terkait perdagangan narkoba.
Keamanan Misi Diplomatik dan Respon Erdogan
Pihak otoritas memastikan tidak ada diplomat Israel yang berada di lokasi saat serangan terjadi. Sebab, sebagian besar staf diplomatik telah meninggalkan Turki sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Meskipun demikian, Israel menegaskan bahwa mereka tidak akan gentar terhadap intimidasi teror tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Presiden Recep Tayyip Erdogan mengecam keras serangan yang ia labeli sebagai tindakan berkhianat. Erdogan bersumpah untuk memimpin perlawanan terhadap segala jenis terorisme tanpa kompromi. “Kami akan mengejar mereka hingga ke akar-akarnya guna memastikan keselamatan rakyat kami,” tegas Erdogan dalam pernyataan resminya.
Sejarah Ancaman IS di Wilayah Turki
Lonjakan aktivitas militer ini mengikuti jejak rentetan kekerasan di masa lalu. Pada Desember lalu, anggota IS menewaskan tiga polisi di wilayah Yalova. Terlebih lagi, masyarakat masih mengingat tragedi klub malam Istanbul tahun 2017 yang merenggut 39 nyawa.
Sebagai hasilnya, polisi Turki kini meningkatkan frekuensi razia nasional guna mendeteksi ancaman asimetris secara dini. Pada akhirnya, keberhasilan operasi di 34 provinsi ini membuktikan ketangguhan sistem intelijen Turki dalam membendung pengaruh kelompok radikal di Asia Kecil. Dunia kini memantau apakah langkah tegas Ankara mampu menciptakan stabilitas jangka panjang di tengah ketegangan regional yang kian memanas.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















