JD Vance Bela Viktor Orban dan Kecam Ancaman Zelenskyy

Jumat, 10 April 2026 - 14:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Transisi kepemimpinan di Downing Street. Wakil Presiden AS JD Vance menyoroti kerapuhan politik Inggris pasca-mundurnya Keir Starmer dan berharap suksesor baru mampu membawa perubahan besar. Dok: Istimewa.

Transisi kepemimpinan di Downing Street. Wakil Presiden AS JD Vance menyoroti kerapuhan politik Inggris pasca-mundurnya Keir Starmer dan berharap suksesor baru mampu membawa perubahan besar. Dok: Istimewa.

BUDAPEST, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Ukraina dan Hungaria mencapai titik terendah baru di tengah masa kampanye pemilu yang panas. Wakil Presiden AS JD Vance secara terbuka membela PM Viktor Orban dari apa yang ia sebut sebagai intimidasi pemerintah Ukraina.

Dalam konteks ini, kunjungan Vance bertujuan untuk memperkuat posisi Orban menjelang pemilu 12 April mendatang. Oleh karena itu, Washington berupaya menjaga pengaruh pendukung gerakan MAGA tetap kuat di daratan Eropa di tahun 2026 ini.

Vance: “Kepala Pemerintahan Tidak Boleh Mengancam Sekutu”

Berbicara di sebuah universitas di Hungaria, Vance mengungkapkan kemarahannya atas laporan mengenai ancaman Zelenskyy. Orban secara pribadi menyampaikan kepada Vance bahwa Ukraina mencoba memberikan tekanan militer melalui retorika yang agresif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini benar-benar memuakkan dan sebuah skandal,” tegas Vance kepada hadirin. Menurutnya, seorang kepala pemerintahan tidak pantas melontarkan ancaman terhadap pemimpin negara sekutu. Langkah Zelenskyy tersebut dipandang sebagai pelanggaran norma diplomasi internasional yang sangat serius.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Uji Coba CFD di Jalan Tegar Beriman, Pedagang Dilarang Berjualan

Sengketa Energi: Pipa Druzhba dan Pinjaman Uni Eropa

Inti dari perselisihan ini adalah pasokan minyak mentah Rusia yang sangat krusial bagi ekonomi Hungaria. Budapest menuduh Kyiv secara sengaja memutus aliran pipa Druzhba guna menyengsarakan rakyat Hungaria menjelang hari pemungutan suara.

Sebagai balasan, Hungaria mengambil langkah drastis dengan memblokir pinjaman Uni Eropa sebesar 90 miliar Euro ($105 miliar) untuk Ukraina. Akibatnya, Zelenskyy merespons dengan menyatakan bahwa militer Ukraina dapat melacak pihak-pihak yang bertanggung jawab atas blokade dana tersebut. Pernyataan Zelenskyy mengenai pemberian “alamat pihak bertanggung jawab” kepada tentara dipandang Budapest sebagai ancaman fisik yang nyata.

Tuduhan Standar Ganda Media Massa

Vance juga menyerang narasi media massa mengenai isu interferensi asing. Ia membandingkan hiruk-pikuk media pada pemilu AS 2016 dengan sikap diam mereka terhadap tindakan Ukraina saat ini. Dalam hal ini, Vance menilai media menutup mata terhadap upaya sistemik Kyiv dalam memengaruhi kedaulatan politik Hungaria.

Baca Juga :  MUI Minta Koruptor Dijatuhi Hukuman Mati, Ini Alasannya

“Sangat ironis ketika Uni Eropa mengancam menahan miliaran dolar karena Hungaria menjaga perbatasannya,” ujar Vance. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penutupan pipa energi adalah bentuk campur tangan asing yang nyata yang seharusnya masyarakat internasional kecam secara luas.

Menanti Hasil Pemilu 12 April

Masa depan aliansi di Eropa Timur kini bergantung pada hasil kotak suara di Hungaria dalam beberapa hari ke depan. Pada akhirnya, kemenangan Orban akan menjadi kemenangan simbolis bagi kebijakan luar negeri “America First” di tingkat global.

Dengan demikian, dunia kini memantau apakah Ukraina akan memulihkan arus energi atau justru memperkeras posisinya. Perselisihan ini membuktikan bahwa energi dan bantuan militer telah menjadi instrumen politik yang sangat volatil di tahun 2026. Ketidakpastian di Budapest menjadi barometer bagi stabilitas hubungan transatlantik di sisa dekade ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kanada Jajaki Status Anggota Asosiasi Uni Eropa
Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 06:19 WIB

Kanada Jajaki Status Anggota Asosiasi Uni Eropa

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Berita Terbaru

 PM Kanada Mark Carney jajaki status anggota asosiasi Uni Eropa di tengah eskalasi perang dagang dengan Amerika Serikat era Donald Trump. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kanada Jajaki Status Anggota Asosiasi Uni Eropa

Selasa, 15 Sep 2026 - 06:19 WIB

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo. (Posnews/KPK)

NASIONAL

KPK OTT BPN Bogor: 17 Orang Diamankan, Nama Summarecon Mencuat

Selasa, 15 Sep 2026 - 05:40 WIB

Ilustrasi, langit berawan menyelimuti kawasan Jabodetabek pada Selasa 15 September 2026.
(Posnews/Ist)

JABODETABEK

Cuaca Jakarta hingga Bekasi Berawan, Suhu Capai 36°C

Selasa, 15 Sep 2026 - 05:27 WIB