Pria Tewas Ditikam di Pesta Lulo, Cuma Gara-gara Musik Nggak Mau Dimatiin

Sabtu, 1 November 2025 - 16:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Tewas. (Freepik)

Ilustrasi, Tewas. (Freepik)

KOLAKA, POSNEWS.CO.ID Keributan pesta lulo berubah jadi horor berdarah di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Warga yang ada lokasi sempat geger menyaksikan penikaman tersebut.

Pemuda berinisial AA (21) itu tewas setelah ditikam brutal oleh pria berinisial J (35), Jumat dini hari (31/10/2025). Penyebabnya, cuma gegara musik pesta mau dihentikan tapi korban ngeyel.

Perkelahian pecah di Desa Dunggala, Kecamatan Wolo, tepat saat warga sedang asyik joget lulo. Suasana ramai mendadak kacau ketika penolakan korban memicu emosi pelaku.

Baca Juga :  Update Kasus Alvaro Kiano Ditemukan Tewas, Kakek Korban: Ayah Tirinya Diduga Pelaku

“Korban dan pelaku sempat berselisih hingga berujung penikaman,” tegas Kasi Humas Polres Kolaka Iptu Dwi Arif, Sabtu (1/11/2025).

Awalnya Joget, Berakhir Maut

Menurut polisi, pelaku sempat pulang dari pesta, kemudian balik lagi bawa badik dan ikut minum minuman keras. Sekitar pukul 02.00 Wita, pelaku menegur agar acara dihentikan karena sudah larut.

Namun, korban justru menantang dan memaki pelaku di depan tamu pesta. Teguran berubah jadi panas.

Baca Juga :  Perang Total Narkoba, BNN Hancurkan 113 Kg Sabu dan 5.044 Ekstasi - Bongkar Lab Gelap

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak terima dipermalukan, pelaku pergi meninggalkan lokasi. Rupanya korban mengikuti pelaku ke jalan poros desa. Di situlah pelaku langsung menghujamkan badik ke perut AA.

Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya melayang sebelum sempat ditolong.

Pelaku langsung diburu setelah aksi sadis itu. Polisi memastikan kasus ini dalam penanganan dan pelaku terancam pidana berat. (red)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan
Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton
Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun
Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek
Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global
Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig
Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global
Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:30 WIB

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:30 WIB

Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:00 WIB

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:56 WIB

Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:30 WIB

Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Berita Terbaru

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Mar 2026 - 19:30 WIB

Ilustrasi, Modernisasi vs Tradisi. Kyoto mengkaji rencana pelonggaran batas tinggi bangunan dari 31 meter menjadi 60 meter guna menarik investasi, memicu perdebatan mengenai identitas visual ibu kota kuno Jepang tersebut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Mar 2026 - 18:00 WIB

Membongkar narasi perang. Perspektif Keamanan Kritis mengungkap bagaimana konstruksi maskulinitas militeristik mendominasi kebijakan luar negeri dan sering kali mengabaikan kerentanan nyata perempuan di wilayah konflik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Minggu, 29 Mar 2026 - 17:30 WIB