BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Presiden Rusia Vladimir Putin mendarat di Beijing pada Selasa malam. Ia akan melakukan pertemuan penting dengan pemimpin China, Xi Jinping. Kunjungan ini berlangsung selang satu pekan setelah Presiden Donald Trump menyelesaikan lawatannya ke ibu kota China tersebut.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dan jajaran penjaga kehormatan menyambut pesawat Putin di bandara. Selain itu, sekelompok pemuda berpakaian biru melambaikan bendera China dan Rusia sambil menyanyikan lagu penyambutan.
Memperdalam Kemitraan Strategis
Selanjutnya, Putin dan Xi merencanakan pembahasan mengenai cara memperdalam kemitraan strategis antara kedua negara. Dalam hal ini, mereka akan bertukar pandangan terkait berbagai masalah internasional dan regional yang mendesak.
Peringatan 25 tahun Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Sino-Rusia 2001 menjadi agenda utama. Perjanjian tersebut telah meletakkan fondasi kokoh bagi kemitraan komprehensif selama seperempat abad. Oleh karena itu, Putin menilai hubungan kedua negara saat ini berada pada level yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya.
Peran China sebagai Mitra Dagang Utama
China kini menjadi mitra dagang nomor satu bagi Rusia. Sebab, Beijing terus mempertahankan hubungan dagang meski negara Barat memberlakukan sanksi berat atas invasi Rusia ke Ukraina. Lebih lanjut, Rusia saat ini mengandalkan China sebagai pembeli utama minyak bumi dan gas alam mereka.
Yuri Ushakov, ajudan kepresidenan Rusia, menyatakan bahwa ekspor minyak ke China melonjak sebesar 35 persen pada kuartal pertama tahun 2026. Di sisi lain, Rusia juga menjadi salah satu pengekspor gas alam terbesar ke China. “Selama krisis Timur Tengah, Rusia tetap menjadi pemasok energi yang andal bagi China,” ujar Ushakov.
Menyeimbangkan Hubungan Barat dan Moskow
Banyak pengamat memantau kunjungan ini dengan cermat. Beijing saat ini berupaya menjaga hubungan stabil dengan Amerika Serikat tanpa harus mengorbankan ikatan kuat dengan Moskow. Maka dari itu, analis di Center for China & Globalization, Wang Zichen, berpendapat bahwa kedua jalur diplomasi ini tidak saling meniadakan bagi China.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kunjungan Trump bertujuan menstabilkan hubungan bilateral paling penting di dunia. Sementara itu, kunjungan Putin bertujuan meyakinkan mitra strategis jangka panjang,” jelas Wang. Dengan demikian, China berusaha menampilkan diri sebagai kekuatan besar yang tidak memihak dan mampu berkomunikasi dengan semua pihak.
Stabilitas di Tengah Turbulensi
Putin menegaskan bahwa interaksi erat antara China dan Rusia berfungsi sebagai faktor pencegah konflik yang stabil di dunia. Kedua negara berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama melalui forum multilateral. Selain itu, Moskow dan Beijing bertekad mempertahankan hukum internasional melalui PBB, Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), dan BRICS.
Singkatnya, kunjungan kenegaraan ini mengukuhkan kembali komitmen kedua negara dalam menjaga keamanan global. Oleh karena itu, publik dunia terus mengamati arah kebijakan Rusia dan China di tengah tantangan ekonomi dan tekanan politik tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












