Menyingkap Rahasia Matahari dan Ancaman Cuaca Antariksa

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pembangun sekaligus pengancam. Matahari menyediakan energi bagi kehidupan di Bumi, namun ledakan massanya mampu melumpuhkan satelit dan jaringan listrik dunia. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Pembangun sekaligus pengancam. Matahari menyediakan energi bagi kehidupan di Bumi, namun ledakan massanya mampu melumpuhkan satelit dan jaringan listrik dunia. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Matahari adalah bintang terdekat kita yang mendominasi langit dari jarak “hanya” 150 juta kilometer. Meskipun terlihat berukuran sama dengan bulan purnama, Matahari sebenarnya 400.000 kali lebih terang.

Bintang raksasa ini mengatur siklus siang dan malam di Bumi. Selain itu, Matahari menyumbang 99,9 persen massa total seluruh sistem tata surya. Oleh karena itu, gravitasi Matahari yang sangat kuat mampu menarik semua planet, bulan, hingga komet untuk tetap berada pada orbitnya.

Mesin Fusi Nuklir Einstein dan Eddington

Sumber energi Matahari sempat menjadi misteri besar bagi para ilmuwan selama berabad-abad. Namun, teori relativitas khusus Einstein pada tahun 1905 mulai membuka tabir mengenai potensi fusi nuklir.

Selanjutnya, astronom Inggris Sir Arthur Eddington menyadari bahwa kondisi di inti Matahari sangat ekstrem. Tekanan hebat dan panas yang luar biasa memungkinkan inti atom saling bertabrakan. Untuk mempertahankan output energinya, Matahari mengubah 600 miliar kilogram hidrogen menjadi helium setiap detik. Proses ini menciptakan suhu inti yang mencapai 15 juta derajat Celsius.

Baca Juga :  Guru SDK Pamulang Dilaporkan Orang Tua Murid, Polisi Buka Peluang Damai

Struktur Berlapis Sang Bintang

Energi dari inti Matahari melakukan perjalanan panjang melalui berbagai lapisan sebelum mencapai Bumi. Pertama, energi tersebut melewati zona radiasi melalui transfer molekuler. Setelah itu, gas panas memindahkan energi ke zona konveksi di mana gas mulai mendingin dan tenggelam kembali.

Di lapisan terluar zona konveksi terdapat fotosfer, yang merupakan permukaan Matahari setebal 500 kilometer. Di luar fotosfer, terdapat lapisan gas tipis yang ilmuwan sebut sebagai kromosfer. Terakhir, korona membentang jauh ke luar sebagai lapisan gas terluar Matahari yang sangat panas.

Ancaman Badai Matahari bagi Bumi

Matahari terkadang melepaskan erupsi massa yang sangat besar. Energi magnetik yang kuat dapat memanaskan awan partikel bermuatan dan membentuk Coronal Mass Ejection (CME).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Awan partikel ini dapat meluncur menuju Bumi dan memicu badai geomagnetik yang hebat. Fenomena ini biasanya tiba di Bumi antara 15 jam hingga dua hari setelah erupsi terjadi. Meskipun atmosfer melindungi kita, badai ini tetap menjadi ancaman serius bagi satelit dan infrastruktur komunikasi. Bahkan, ledakan Matahari yang sangat kuat berisiko menyebabkan pemadaman listrik massal di berbagai belahan dunia.

Baca Juga :  PM Greenland Tegaskan: Belum Ada Kesepakatan

Akhir Perjalanan: Dari Raksasa Merah ke Katai Putih

Para astronom memahami nasib akhir Matahari melalui observasi objek lain yang lebih berevolusi di galaksi kita. Matahari masih memiliki cukup bahan bakar hidrogen untuk tetap bersinar selama enam miliar tahun ke depan.

Namun, pasokan bahan bakar tersebut pada akhirnya akan habis. Saat fase itu tiba, Matahari akan berubah menjadi raksasa merah. Ukurannya akan membengkak hingga menelan planet Merkurius dan Venus, serta membuat kondisi Bumi menjadi sangat ekstrem. Akhirnya, selubung luarnya akan meluas menjadi nebula planet. Matahari kemudian akan menyisakan inti panas berupa bintang katai putih yang perlahan mendingin dan memudar menjadi bola materi gelap yang padat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KKB Papua Serang Sinak Puncak Papua, Warga Jadi Korban Luka Tembak
Cuaca Kamis 16 April 2026: Jabodetabek Hujan, Sejumlah Kota Waspada Cuaca Ekstrem
Program Asta Cita, Polres Tanggamus Garap Lahan 1 Hektar untuk Bawang Putih
Bareskrim Bongkar Sindikat Phishing Internasional, Raup Rp25 Miliar dari Jual Tools Hacker
Begal Sadis Gunung Sahari Jakarta Pusat Viral, 4 Pelaku Todong Celurit Rampas Korban
Pramono Anung Lantik 11 Pejabat DKI Jakarta Secara Tertutup, Ini Daftar Lengkapnya
Tawuran Viral di Tamansari, Polisi Tangkap 3 Remaja, Satu Terbukti Pakai Sabu
Bareskrim Bongkar 21,9 Kg Sabu Jaringan Malaysia di Bengkalis, Nilai Hampir Rp40 Miliar

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 06:36 WIB

KKB Papua Serang Sinak Puncak Papua, Warga Jadi Korban Luka Tembak

Kamis, 16 April 2026 - 06:11 WIB

Cuaca Kamis 16 April 2026: Jabodetabek Hujan, Sejumlah Kota Waspada Cuaca Ekstrem

Rabu, 15 April 2026 - 22:49 WIB

Program Asta Cita, Polres Tanggamus Garap Lahan 1 Hektar untuk Bawang Putih

Rabu, 15 April 2026 - 22:21 WIB

Bareskrim Bongkar Sindikat Phishing Internasional, Raup Rp25 Miliar dari Jual Tools Hacker

Rabu, 15 April 2026 - 22:03 WIB

Begal Sadis Gunung Sahari Jakarta Pusat Viral, 4 Pelaku Todong Celurit Rampas Korban

Berita Terbaru