Resep Umur Panjang: Menjadi Optimis Itu Sehat?

Kamis, 8 Januari 2026 - 07:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Riset membuktikan bahwa sikap mental positif bukan sekadar jargon motivasi, melainkan alat bertahan hidup biologis yang nyata. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Riset membuktikan bahwa sikap mental positif bukan sekadar jargon motivasi, melainkan alat bertahan hidup biologis yang nyata. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Pola pikir (mindset) adalah segalanya. Saat menghadapi tahun yang penuh ketidakpastian ekonomi dan tekanan hidup, mempertahankan pandangan positif mungkin terdengar naif atau seperti delusi “Pollyanna”. Namun, sains justru berkata sebaliknya: optimisme adalah perangkat evolusi canggih yang menyelamatkan manusia selama ribuan tahun.

Brice Pitt, profesor psikiatri di Imperial College London, menyebut ini sebagai “paradoks optimisme”. Orang yang depresi cenderung melihat dunia secara realistis apa adanya, tetapi realisme itu justru merugikan secara evolusioner. Sebaliknya, optimis mungkin sedikit tidak realistis, namun keyakinan “halu” bahwa segalanya akan membaik itulah yang membuat mereka terus bertahan hidup.

Obat Panjang Umur Gratis

Martin Seligman, profesor psikologi dan penulis Learned Optimism, mendefinisikan optimisme sebagai kebiasaan menjelaskan kegagalan kepada diri sendiri dengan cara yang tidak permanen. Hasilnya, optimis lebih sukses di tempat kerja, lebih tahan stres, dan jarang depresi.

Lebih jauh lagi, manfaatnya merembet ke fisik. Dr. Becca Levy dari Universitas Yale menemukan fakta mengejutkan: berpikir positif menambah rata-rata 7 tahun usia harapan hidup.

Baca Juga :  Prabowo Minta Komisi Reformasi Polri, Laporan Awal Ditargetkan Rampung 3 Bulan

Riset lain dari Harvard Medical School terhadap 670 pria mendukung hal ini. Mereka menemukan bahwa pria yang optimis memiliki fungsi paru-paru yang jauh lebih baik. Dr. Rosalind Wright, penulis utama studi tersebut, meyakini bahwa sikap mental positif memperkuat sistem kekebalan tubuh secara biologis.

Sisi Gelap: Optimisme yang Mematikan

Meskipun demikian, tidak semua optimisme itu sehat. American Psychological Association memperingatkan tentang “optimisme yang tidak realistis”. Contoh paling nyata terlihat pada perokok.

Banyak perokok meremehkan risiko mereka terkena penyakit. Mereka memegang keyakinan keliru bahwa merokok beberapa tahun saja tidak berbahaya atau kanker paru-paru hanya masalah genetik. Akibatnya, optimisme yang salah tempat ini justru membahayakan nyawa karena mengabaikan risiko objektif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Resiliensi: Seni Bangkit dari Lantai

Jika optimisme adalah bensinnya, maka resiliensi (ketahanan) adalah mesinnya. Riset di kalangan taipan bisnis menunjukkan bahwa jalan menuju sukses sering kali penuh dengan pemecatan dan kebangkrutan. Bedanya, mereka tidak meringkuk menangis di bawah meja. Mereka bangkit, belajar dari kegagalan, dan melangkah lagi.

Baca Juga :  Tutup Apel Kasatwil 2025, Wakpolri Tegaskan Polri Harus Lebih Transparan dan Humanis

Sosiolog Steven Stack mengungkapkan fakta menarik dalam Journal of Social Psychology. Salah satu cara terbaik memperoleh resiliensi ternyata adalah melalui masa kecil yang sulit.

Sebagai contoh, pria bertubuh pendek memiliki tingkat bunuh diri lebih rendah dibanding pria tinggi. Mengapa? Karena sejak kecil mereka telah mengembangkan keterampilan pertahanan psikologis untuk menghadapi ejekan. Sebaliknya, mereka yang masa mudanya terlalu mulus sering kali “tergelincir” saat menghadapi masalah besar pertama di masa dewasa karena tidak pernah “diimunisasi” terhadap penderitaan.

Melatih Otot Mental

Kabar baiknya, resiliensi bisa kita latih. Universitas Yale menyarankan untuk memelihara selera humor dan kemampuan menerima nasib dengan tenang (equanimity).

Jika Anda “terhambat” oleh masa kecil yang terlalu bahagia, Anda bisa mempraktikkan optimisme proaktif. Belajarlah mengambil risiko dan berhenti takut pada kegagalan. Bersikap ramah dan tersenyum pada orang lain bukan hanya altruisme, tapi strategi cerdas untuk membangun jaring pengaman sosial. Seperti pepatah lama: masa sulitlah yang mengeluarkan potensi terbaik dari diri kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit
Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI
Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?
Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini
Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api
Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?
Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 18:15 WIB

Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:47 WIB

Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WIB

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:58 WIB

Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini

Berita Terbaru

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

INTERNASIONAL

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Jan 2026 - 13:17 WIB