JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — “Jika mereka tidak punya roti, biarkan mereka makan kue.” Kalimat legendaris yang sering diatribusikan kepada Ratu Marie Antoinette ini mungkin hanyalah mitos. Namun, kutipan tersebut merangkum sempurna ketimpangan sosial yang mencekik Prancis pada abad ke-18.
Saat itu, masyarakat terbelah menjadi tiga golongan kaku atau Estates. Kaum rohaniwan dan bangsawan hidup bergelimang harta tanpa perlu membayar pajak. Sebaliknya, rakyat jelata yang miskin harus memikul beban pajak negara sendirian.
Parahnya lagi, negara sedang bangkrut total. Raja Louis XVI menghamburkan kas negara untuk membiayai perang di Amerika dan gaya hidup mewah istana Versailles. Akibatnya, harga roti melambung tinggi dan kelaparan massal melanda Paris.
Runtuhnya Bastille, Runtuhnya Raja
Kemarahan rakyat akhirnya meledak pada 14 Juli 1789. Massa yang marah menyerbu penjara Bastille. Bagi mereka, bangunan itu adalah simbol tirani kekuasaan raja yang sewenang-wenang.
Peristiwa ini memicu gelombang revolusi yang tak terbendung. Rakyat menuntut konstitusi baru dan penghapusan hak istimewa bangsawan. Lantas, nasib Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette berakhir tragis.
Pisau Guillotine memenggal kepala mereka di hadapan publik yang bersorak. Seketika, sistem monarki absolut yang telah bertahan berabad-abad runtuh menjadi debu.
Masa Kelam “Reign of Terror”
Akan tetapi, impian tentang kebebasan segera berubah menjadi mimpi buruk. Revolusi melahirkan monster baru bernama Maximilien Robespierre. Ia memimpin periode berdarah yang dikenal sebagai Reign of Terror.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Atas nama “penyelamatan revolusi”, Robespierre mengirim ribuan orang ke tiang pancung. Siapa pun yang ia curigai sebagai musuh revolusi, bahkan teman seperjuangannya sendiri, akan kehilangan nyawa.
Jalanan Paris banjir darah. Ketakutan menyelimuti setiap sudut kota. Faktanya, revolusi justru memakan anak-anaknya sendiri dalam paranoia yang mengerikan.
Kekacauan Melahirkan Diktator
Kekacauan politik dan ekonomi membuat rakyat lelah. Mereka merindukan ketertiban dan stabilitas. Di tengah kekosongan inilah, seorang jenderal muda yang jenius melihat peluang emas.
Napoleon Bonaparte muncul sebagai pahlawan militer yang menjanjikan kejayaan. Kemudian, ia melakukan kudeta dan menobatkan dirinya sebagai Kaisar.
Ironisnya, revolusi yang bermula untuk menggulingkan seorang raja, justru berakhir dengan melahirkan seorang diktator militer baru yang lebih kuat. Siklus kekuasaan berputar kembali ke titik awal.
Warisan Abadi dan Peringatan
Pada akhirnya, Revolusi Prancis mewariskan dua hal yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia melahirkan Piagam Hak Asasi Manusia dan semboyan abadi: Liberté, Égalité, Fraternité (Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan).
Namun di sisi lain, peristiwa ini menjadi peringatan keras. Perubahan sosial yang radikal tanpa kendali hukum hanya akan berujung pada anarki dan pertumpahan darah. Demokrasi ternyata memiliki harga yang sangat mahal untuk ditebus.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















