Rumput Langka Inggris Kembali dari Kepunahan Berkat Dedikasi Philip Smith

Rabu, 4 Maret 2026 - 17:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Keajaiban botani. Bromus interruptus, rumput unik yang sempat dinyatakan punah pada tahun 1972, kini bersiap kembali ke alam liar setelah berhasil bertahan hidup di dalam pot bunga selama puluhan tahun. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Keajaiban botani. Bromus interruptus, rumput unik yang sempat dinyatakan punah pada tahun 1972, kini bersiap kembali ke alam liar setelah berhasil bertahan hidup di dalam pot bunga selama puluhan tahun. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Laporan mengenai kepunahan total salah satu kekayaan flora Inggris ternyata terbukti prematur. Bromus interruptus, sebuah spesies rumput unik yang tidak ditemukan di belahan dunia lain, kini sedang menjalani proses reintroduksi ke alam liar setelah puluhan tahun “bersembunyi” di atas meja kerja seorang ilmuwan.

Spesies ini mendapatkan julukan “Dodo Botani” karena nasibnya yang sempat dianggap berakhir. Namun, berkat ketekunan seorang pakar botani bernama Philip Smith, rumput ini kini bersiap bertransformasi menjadi “Feniks” bagi ekosistem pertanian di wilayah selatan Inggris.

Penyelamat Senyap dari Meja Kerja

Tragedi kepunahan rumput ini sebenarnya mencapai titik nadir pada tahun 1972. Saat itu, Bromus interruptus lenyap dari dua ladang jerami di Pampisford, dekat Cambridge. Bahkan, benih yang disimpan di Kebun Raya Universitas Cambridge sebagai polis asuransi juga ditemukan telah mati akibat kesalahan suhu penyimpanan.

Meskipun begitu, Philip Smith muncul sebagai pahlawan tak terduga. Pada tahun 1979, dalam sebuah pertemuan Masyarakat Botani Kepulauan Inggris di Manchester, Smith mengejutkan kolega-koleganya. Ia membawa dua pot besar berisi rumput yang sangat sehat tersebut. Terungkap bahwa Smith telah mengumpulkan benih dari lokasi terakhir di Pampisford pada tahun 1963, sesaat sebelum spesies tersebut menghilang sepenuhnya dari alam liar. Smith terus menanam dan merawat rumput tersebut setiap tahun tanpa henti selama 16 tahun berikutnya.

Baca Juga :  Sejarah Cinta Benci Warga London pada Kereta Bawah Tanah

Masa Depan yang Lebih Terjamin

Berkat dedikasi pribadi tersebut, masa depan Bromus interruptus kini tampak jauh lebih cerah. Benih-benih dari tanaman milik Smith kini tersimpan dengan aman di Millennium Seed Bank yang canggih di Wakehurst Place, Sussex.

Selain itu, tanaman ini sekarang tumbuh subur di kebun raya terkemuka seperti Kew, Edinburgh, dan Cambridge. Selanjutnya, otoritas lingkungan English Nature telah memasukkan rumput ini ke dalam Program Pemulihan Spesies. Langkah ini bertujuan untuk mengembalikan rumput tersebut ke habitat aslinya di lahan pertanian Inggris. Para aktivis konservasi kini sedang mencari petani yang bersedia mengadopsi tanaman ini di lahan mereka guna mendukung keanekaragaman hayati nasional.

Evolusi dan Sejarah yang Terlupakan

Riset taksonomi Smith menyiratkan bahwa Bromus interruptus kemungkinan besar merupakan hasil mutasi dari rumput liar lain, yaitu Bromus hordeaceus. George Claridge Druce, seorang donatur Oxford, merupakan sosok yang pertama kali menetapkan status rumput ini sebagai spesies tersendiri pada tahun 1895.

Pasalnya, rumput ini memiliki ciri khas berupa kepala benih yang memiliki celah unik. Sejarah menunjukkan bahwa rumput ini tumbuh sebagai “gulma” di ladang tanaman pakan ternak polong-polongan seperti sainfoin yang diperkenalkan ke Inggris pada awal 1600-an. Namun demikian, popularitas mobil yang menggantikan kuda di abad ke-20 menghancurkan pasar tanaman pakan ternak. Penurunan kebutuhan pakan ini secara otomatis memutus rantai kehidupan Bromus interruptus yang sangat bergantung pada siklus penanaman kembali oleh para petani.

Simbol Pertanian Ramah Lingkungan

Keunikan dari rumput ini adalah keengganannya untuk menyebarkan benih secara mandiri. Oleh karena itu, tanaman ini membutuhkan campur tangan manusia untuk bisa tumbuh kembali setiap musim semi. Sifat ini justru menjadi keuntungan bagi para petani modern.

Alhasil, petani yang bersedia menanamnya tidak perlu khawatir rumput ini akan menjadi hama invasif yang merusak tanaman utama. Para aktivis konservasi memandang kembalinya rumput ini sebagai kesempatan bagi para petani untuk memiliki “badge of honour” sebagai pengelola lahan yang ramah lingkungan. Melalui sinergi antara sains dan kearifan lokal, Inggris kini merayakan kembalinya salah satu warisan alamnya yang paling langka ke rumah asalnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sudin CKTRP Jakut Segel 2 Lapangan Padel di Ancol dan Penjaringan, Belum Kantongi PBG
Mengapa Negara Beriklim Dingin Cenderung Lebih Kaya?
Skandal Pasar Modal Rp14,5 Triliun, OJK Jerat Beneficial Owner dan Eks Direktur Sekuritas
Bareskrim Polri Gerebek Home Industry Kosmetik Berbahaya, Produksi di Cirebon Sejak 2022
Elbridge Colby Tegaskan AS Tidak Terlibat Kematian Khamenei
Krisis Mediterania Timur: Inggris, Prancis, dan Yunani Kerahkan Pasukan Udara Guna Lindungi Siprus
Donald Trump Ancam Putus Total Hubungan Dagang dengan Spanyol
Trump Sebut Starmer Bukan Winston Churchill Terkait Serangan Iran

Berita Terkait

Rabu, 4 Maret 2026 - 19:15 WIB

Sudin CKTRP Jakut Segel 2 Lapangan Padel di Ancol dan Penjaringan, Belum Kantongi PBG

Rabu, 4 Maret 2026 - 18:00 WIB

Mengapa Negara Beriklim Dingin Cenderung Lebih Kaya?

Rabu, 4 Maret 2026 - 17:47 WIB

Skandal Pasar Modal Rp14,5 Triliun, OJK Jerat Beneficial Owner dan Eks Direktur Sekuritas

Rabu, 4 Maret 2026 - 17:30 WIB

Rumput Langka Inggris Kembali dari Kepunahan Berkat Dedikasi Philip Smith

Rabu, 4 Maret 2026 - 17:10 WIB

Bareskrim Polri Gerebek Home Industry Kosmetik Berbahaya, Produksi di Cirebon Sejak 2022

Berita Terbaru

Misteri ekonomi di balik garis lintang. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa

INTERNASIONAL

Mengapa Negara Beriklim Dingin Cenderung Lebih Kaya?

Rabu, 4 Mar 2026 - 18:00 WIB