CALIFORNIA, POSNEWS.CO.ID – Gurun Colorado di California bawah adalah tempat yang sangat keras, terutama saat musim panas. Lanskap tandus penuh batu dan ular derik ini hanya menjadi rumah bagi semak kreosot dan kaktus. Suhu siang hari sering menyentuh 43°C. Angin kencang dan matahari sore bekerja sama menyedot kelembapan dari tubuh manusia.
Di lokasi ekstrem inilah, Edward Adolph membawa sekelompok tentara dan peneliti pada musim panas 1942. Fisiolog dari University of Rochester ini ingin menyelidiki cara manusia bekerja secara efisien di gurun. Penelitiannya tidak hanya fokus pada cara bertahan hidup, namun pada performa fisik maksimal.
Membongkar Mitos Dehidrasi Kuno
Adolph menjadi peneliti pertama yang menguji asumsi umum tentang aktivitas di tengah panas menyengat. Ia menemukan banyak mitos yang justru membahayakan manusia. Misalnya, banyak orang mengira melepas baju adalah cara terbaik mengatasi panas. Padahal, pakaian lengan panjang justru memperlambat hilangnya air dari tubuh.
Ia juga menolak keras praktik penjatahan air saat persediaan menipis. Menurutnya, menunda minum hanya akan mempercepat penderitaan. “Lebih baik meminum air tersebut agar berada di dalam tubuh Anda daripada membawanya di tangan,” tulis Adolph dalam laporannya.
Eksperimen 1942: Air Adalah Kunci Performa
Penemuan Adolph yang paling krusial sebenarnya sangat sederhana: minum saat berolahraga meningkatkan performa. Dahulu, para pelatih mengajarkan bahwa minum saat berlatih hanyalah untuk orang lemah. Beberapa pihak bahkan mengklaim minum air bisa memicu serangan jantung.
Adolph menguji asumsi tersebut dengan membagi prajuritnya menjadi dua kelompok. Mereka harus berjalan selama 8 jam di suhu 42°C. Kelompok yang minum sepuasnya jauh mengungguli kelompok yang tidak minum. Hasil ini membuktikan bahwa penguapan keringat adalah satu-satunya cara tubuh mendinginkan diri saat suhu udara melebihi suhu kulit (sekitar 33°C).
Kasus Alberto Salazar dan Evolusi Manusia
Meski riset Adolph selesai pada 1943, dunia olahraga baru memperhatikannya setelah kasus Alberto Salazar pada 1978. Salazar hampir tewas setelah jatuh pingsan dalam lomba lari akibat suhu tubuh mencapai 42°C. Banyak pihak menyalahkan dehidrasi, namun pakar fisiologi Timothy Noakes memiliki pandangan berbeda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Noakes mengamati bahwa manusia adalah “delayed drinkers” atau peminum yang tertunda. Ini merupakan konsekuensi evolusi saat nenek moyang kita berburu di bawah matahari Afrika. Berhenti untuk minum saat berburu bisa membuat mangsa kabur. Tubuh manusia tidak seperti unta yang bisa minum banyak sekaligus. Kita adalah pelari pemburu yang hebat karena mampu menunda rasa haus hingga kondisi benar-benar nyaman untuk minum.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















