Sutra Laba-laba Sintetis Siap Revolusi Industri

Selasa, 13 Januari 2026 - 19:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Satu untai seukuran pensil bisa menghentikan Jumbo Jet yang sedang terbang. Kini, ilmuwan berhasil meniru resep rahasia

Ilustrasi, Satu untai seukuran pensil bisa menghentikan Jumbo Jet yang sedang terbang. Kini, ilmuwan berhasil meniru resep rahasia "baja organik" ini di laboratorium. Dok: Istimewa.

WILMINGTON, POSNEWS.CO.ID – Laba-laba Golden Orb Weaver bukan lagi sekadar penghuni sudut rumah yang menakutkan. Kini, hewan berkaki delapan ini menjadi “guru besar” bagi para insinyur material dunia. Ilmuwan akhirnya berhasil menyalin gen penghasil sutra laba-laba tersebut.

Tujuannya ambisius: menciptakan generasi baru material canggih bernama “Biosilk”. Peneliti di DuPont telah memintal serat ini untuk pertama kalinya. Faktanya, material ini memiliki potensi penggunaan yang sangat luas, mulai dari konstruksi raksasa hingga manufaktur presisi.

Daya tariknya terletak pada kombinasi kekuatan dan elastisitas yang ajaib. Serat buatan manusia selama ini gagal menirunya. Secara perbandingan, sutra laba-laba jauh lebih kuat daripada baja dengan berat yang sama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Estimasi ilmuwan sangat mencengangkan. Jika kita bisa membuat satu untai berdiameter 10 meter, serat itu akan cukup kuat untuk menghentikan pesawat Jumbo Jet yang sedang terbang. Selain itu, faktor ketiga yang tak kalah penting adalah bobotnya yang sangat ringan.

Baca Juga :  Warga Jepang Protes Pembangunan Data Center Raksasa

Membajak Pabrik Bakteri

Bagaimana cara membuatnya? Randolph Lewis dari Universitas Wyoming memulai langkah awal. Ia memeriksa kelenjar penghasil sutra laba-laba dan mencari kode DNA protein yang tepat.

Selanjutnya, peneliti di DuPont menggunakan ragi dan bakteri sebagai “pabrik” inang. Robert Dorsch, direktur pengembangan biokimia DuPont, menjelaskan prosesnya. Mereka memanen gumpalan protein dari bakteri tersebut.

“Kami memecah bakteri, memisahkan gumpalan protein, dan menggunakannya sebagai bahan baku awal,” jelas Dorsch.

Namun, manusia belum sepintar laba-laba. Laba-laba memintal serat menggunakan larutan berbasis air secara instan. Sebaliknya, ilmuwan harus melarutkan protein dalam pelarut kimia sebelum memintalnya melalui lubang kecil untuk membentuk serat padat.

Dari Jembatan hingga Rompi Anti-Peluru

Biokimiawan melihat potensi penggunaan Biosilk hampir tanpa batas. Misalnya, ilmuwan Angkatan Darat sudah melirik material ini. Mereka ingin menggunakannya untuk rompi anti-peluru yang ringan dan parasut yang lebih kuat.

Baca Juga :  Erajaya Resmi Boyong TWS Nothing Ear (3a) ke Indonesia

Di sektor sipil, jembatan gantung tahan gempa bisa menjadi kenyataan. Kabel dari serat sutra laba-laba sintetis akan memberikan fleksibilitas dan kekuatan yang baja konvensional tidak miliki. Tak hanya itu, aplikasi lain mencakup sabuk pengaman yang lebih aman, sol sepatu awet, hingga pakaian tangguh.

Robert Dorsch sangat antusias, tetapi ia juga realistis. “Kami masih pada tahap awal,” peringatnya. Prediksi teoretis menjanjikan material yang mampu menyerap guncangan lebih baik daripada apa pun yang ada saat ini.

Inspirasi dari Kerang Laut

Laba-laba bukan satu-satunya inspirasi. Ilmuwan material kini juga “iri” pada kerang laut. Ternyata, kerang menghasilkan perekat protein alami yang sangat kuat untuk menempel pada batu di tengah gempuran ombak.

Mengekstrak protein ini dari kerang sangat mahal dan membosankan. Oleh karena itu, peneliti telah memproduksi gen sintetis untuk digunakan dalam bakteri pengganti, membuka jalan bagi lem super alami di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Purbaya Dicopot? Perombakan Kemenkeu hingga Tekanan Fiskal Disorot
Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 09:48 WIB

Mengapa Purbaya Dicopot? Perombakan Kemenkeu hingga Tekanan Fiskal Disorot

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Berita Terbaru

Laporan CBO menunjukkan biaya perang AS melawan Iran tembus $38 miliar Dolar AS dan mendongkrak inflasi hingga 2027. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS

Rabu, 16 Sep 2026 - 17:39 WIB

Donald Trump mengecam keputusan Mahkamah Agung AS yang memblokir aturan pembatasan surat suara via pos jelang pemilu paruh waktu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Kecam Mahkamah Agung AS

Rabu, 16 Sep 2026 - 16:35 WIB

 Serangan udara Israel di Kfar Rumman, Lebanon Selatan menewaskan 13 orang termasuk 6 anak-anak. Simak rincian eskalasi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 13 Orang

Rabu, 16 Sep 2026 - 16:29 WIB

Korban hilang banjir bandang Himalaya capai 3.044 orang dengan 750 tewas, sementara bantuan internasional terus mengalir ke Nepal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ribuan Korban Hilang Banjir Bandang Perbatasan Nepal-Tiongkok

Rabu, 16 Sep 2026 - 15:44 WIB