TEGUCIGALPA, POSNEWS.CO.ID – Hasil pemilihan umum Honduras pada 30 November lalu masih menggantung dalam ketidakpastian. Kegagalan teknologi dan tuduhan kecurangan mewarnai proses penghitungan suara. Namun, di tengah kekacauan domestik itu, muncul satu pemenang yang tak terduga di luar perbatasan: Taiwan.
Arah angin diplomasi di Amerika Tengah berbalik secara dramatis. Kedua kandidat presiden yang memimpin perolehan suara kompak menyuarakan janji yang sama.
Mereka bersumpah akan memutus hubungan diplomatik dengan Beijing. Sebagai gantinya, mereka akan memulihkan hubungan bersejarah dengan Taipei. Padahal, Presiden Xiomara Castro baru saja membuat keputusan sensasional untuk beralih ke China pada Maret 2023, mengakhiri persahabatan 82 tahun dengan Taiwan.
Kini, Honduras tampaknya menyesali keputusan tersebut. Negara itu siap menjadi anomali yang melawan tren isolasi Taiwan di panggung global.
“100 Kali Lebih Baik Bersama Taiwan”
Salvador Nasralla, kandidat dari Partai Liberal, tidak menahan diri. “Bagi Honduras, sama sekali tidak ada manfaat dari hubungan dengan China,” tegasnya.
Pandangan ini diamini oleh lawannya, Nasry “Tito” Asfura. Mantan Wali Kota Tegucigalpa yang mendapat dukungan Presiden AS Donald Trump ini sepakat penuh. “Kami 100 kali lebih baik bersama Taiwan,” ujar Asfura.
Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi Beijing. Sebelumnya, China gencar melakukan kampanye tekanan untuk mengisolasi Taiwan. Sejak awal abad ini, 21 negara telah berpaling dari Taipei ke Beijing.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, Taiwan kini hanya menyisakan 12 sekutu diplomatik di dunia. Namun, gelombang pembelotan itu tampaknya mulai terhenti di Honduras.
Janji Manis yang Pahit: Udang dan Infrastruktur
Mengapa Honduras ingin “rujuk” dengan Taiwan? Jawabannya terletak pada kalkulasi ekonomi yang meleset.
Profesor Evan Ellis dari US Army War College menjelaskan pergeseran analisis biaya-manfaat ini. Janji-janji manis Beijing ternyata tidak seindah kenyataan.
Di Honduras, industri ekspor udang mengalami kehancuran. Pasalnya, pembeli dari China gagal menggantikan pasar Taiwan yang sebelumnya menyerap 40 persen ekspor udang negara tersebut. Janji Beijing untuk membeli produk mereka hanyalah isapan jempol.
Selain itu, proyek infrastruktur besar yang didanai China di negara tetangga, Panama, mengalami penundaan kronis atau bahkan pembatalan. Realitas pahit ini membuka mata para pemimpin Honduras bahwa “cek kosong” diplomasi China sering kali tidak bisa dicairkan.
Tekanan Trump dan Diplomasi Transaksional
Faktor eksternal juga memegang peran kunci. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih mengubah peta permainan. Kebijakan luar negeri Trump yang transaksional dan agresif memaksa negara-negara kawasan untuk memilih sisi.
Trump secara terbuka mendukung Asfura dan bahkan mengampuni mantan presiden Honduras yang terjerat kasus narkoba. Lantas, negara-negara kecil di Karibia dan Amerika Tengah tidak berani mengambil risiko memicu kemarahan Washington.
Contohnya, Panama kini menyatakan tidak akan memperbarui keanggotaan dalam skema infrastruktur Belt & Road China. Mereka bahkan mengajukan gugatan hukum terhadap pelabuhan yang dikelola China.
Sementara itu, Presiden St. Vincent dan Grenadines yang baru terpilih, Godwin Friday, membatalkan janji kampanyenya untuk mengakui China.
“Ini bukan waktunya bagi pulau kecil di Karibia, yang tidak terlalu jauh dari operasi militer besar AS, untuk beralih ke RRT,” analisis Ellis.
Pada akhirnya, Taiwan mendapatkan keuntungan dari persaingan geopolitik ini. Pejabat di Taipei kini merasa terbukti benar. Peringatan mereka dulu agar Honduras tidak “memuaskan dahaga dengan racun” China, kini terbukti menjadi kenyataan pahit bagi para nelayan udang di Amerika Tengah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















