200 Tokoh Dunia Desak Pembebasan Marwan Barghouti, Harapan Terakhir Perdamaian?

Rabu, 3 Desember 2025 - 09:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari

Ilustrasi, Dari "Hulk" hingga "Gandalf", selebriti dunia bersatu. Marwan Barghouti dinilai sebagai kunci solusi dua negara yang macet. Simak seruan 200 tokoh budaya ini. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Suara dukungan menggema dari panggung budaya global. Lebih dari 200 tokoh terkemuka dari berbagai bidang seni bersatu dalam satu seruan mendesak. Mereka menuntut pembebasan Marwan Barghouti, pemimpin Palestina yang telah mendekam di penjara Israel selama 23 tahun.

Kelompok prestisius ini mencakup nama-nama besar yang tak asing lagi. Sebut saja, aktor pemeran Hulk, Mark Ruffalo, hingga pemeran Gandalf, Sir Ian McKellen. Musisi legendaris seperti Sting, Brian Eno, dan Annie Lennox pun turut membubuhkan tanda tangan mereka.

Surat terbuka tersebut menyoroti satu poin krusial. Menurut mereka, pembebasan Barghouti adalah langkah vital untuk memecah kebuntuan konflik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harapan Perdamaian dan Sosok Pemersatu

Barghouti, yang kini berusia 66 tahun, bukan sekadar tahanan biasa. Banyak pihak melihatnya sebagai satu-satunya sosok yang mampu menyatukan faksi-faksi Palestina yang terpecah belah.

Baca Juga :  Tragedy of the Commons: Masalah Lingkungan dari Sudut Pandang Ekonomi

Bahkan, ia dianggap sebagai kunci emas untuk menghidupkan kembali misi pembentukan negara Palestina yang telah lama mati suri. Meskipun tertangkap saat menjabat sebagai anggota parlemen terpilih, popularitasnya tak pernah pudar.

Barghouti konsisten memuncaki jajak pendapat sebagai pemimpin pilihan rakyat. Oleh karena itu, para penandatangan surat percaya ia membawa harapan terbaik bagi solusi dua negara.

“Pembebasannya akan menandai titik balik dalam perjuangan panjang ini dan membawa harapan yang sangat dibutuhkan bagi kita semua,” ujar musisi Brian Eno.

Paralel dengan Nelson Mandela

Kampanye ini sengaja menarik garis paralel dengan sejarah Afrika Selatan. Mereka menyamakan nasib Barghouti dengan ikon anti-apartheid, Nelson Mandela.

Tujuannya jelas, mereka ingin mengulangi kesuksesan gerakan budaya global yang dulu membantu membebaskan Mandela. Menariknya, Mandela sendiri pernah berkata pada 2002: “Apa yang terjadi pada Barghouti adalah sama dengan apa yang terjadi pada saya.”

Selma Dabbagh, novelis Inggris-Palestina, menegaskan ketidakadilan yang terjadi. Menurutnya, pengadilan Barghouti adalah sebuah kepalsuan (sham).

“Badan yang mewakili parlemen di seluruh dunia telah melakukan penilaian sendiri dan menyimpulkan bahwa pengadilan itu sangat cacat,” tegas Dabbagh.

Baca Juga :  Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Ketakutan Israel dan Ancaman Hukuman Mati

Sayangnya, jalan menuju kebebasan sangat terjal. Israel bersikeras menolak melepaskan Barghouti, bahkan dalam pertukaran tahanan pasca-gencatan senjata Oktober lalu.

Penolakan ini tampaknya bukan karena alasan keamanan semata. Justru, Israel khawatir akan pengaruh politik besar yang Barghouti miliki dalam membangun persatuan Palestina.

Lebih mengerikan lagi, muncul kekhawatiran tentang undang-undang baru. Pemerintah Israel berpotensi memberlakukan hukuman mati bagi tahanan Palestina. Akibatnya, nyawa Barghouti bisa terancam jika hukum tersebut lolos.

Bola Panas di Tangan AS

Nasib Barghouti kini mungkin bergantung pada tekanan Amerika Serikat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemungkinan besar akan menolak pembebasan ini tanpa desakan kuat dari Washington.

Apalagi, Donald Trump baru saja mengundang Netanyahu ke Gedung Putih dalam waktu dekat. Maka, pertemuan tersebut bisa menjadi momen penentu apakah sang “Mandela Palestina” akan menghirup udara bebas atau tetap terkurung di balik jeruji besi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen
Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo
Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital
Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin
Donald Trump Hubungi Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy
Pengunjuk Rasa Gempur Polisi Jelang Pembukaan KTT G7
Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC
Donald Trump Umumkan Kesepakatan Damai Akhir Perang

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 18:14 WIB

Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:51 WIB

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:45 WIB

Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:08 WIB

Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:48 WIB

Donald Trump Hubungi Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy

Berita Terbaru

Ilustasi, Taktik baru perang informasi. Biro Keamanan Nasional Taiwan meluncurkan situs pelaporan khusus guna memikat warga Tiongkok yang kecewa pada sistem pemerintahan Beijing. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen

Selasa, 16 Jun 2026 - 18:14 WIB

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Selasa, 16 Jun 2026 - 14:51 WIB