LONDON, POSNEWS.CO.ID – Suara dukungan menggema dari panggung budaya global. Lebih dari 200 tokoh terkemuka dari berbagai bidang seni bersatu dalam satu seruan mendesak. Mereka menuntut pembebasan Marwan Barghouti, pemimpin Palestina yang telah mendekam di penjara Israel selama 23 tahun.
Kelompok prestisius ini mencakup nama-nama besar yang tak asing lagi. Sebut saja, aktor pemeran Hulk, Mark Ruffalo, hingga pemeran Gandalf, Sir Ian McKellen. Musisi legendaris seperti Sting, Brian Eno, dan Annie Lennox pun turut membubuhkan tanda tangan mereka.
Surat terbuka tersebut menyoroti satu poin krusial. Menurut mereka, pembebasan Barghouti adalah langkah vital untuk memecah kebuntuan konflik.
Harapan Perdamaian dan Sosok Pemersatu
Barghouti, yang kini berusia 66 tahun, bukan sekadar tahanan biasa. Banyak pihak melihatnya sebagai satu-satunya sosok yang mampu menyatukan faksi-faksi Palestina yang terpecah belah.
Bahkan, ia dianggap sebagai kunci emas untuk menghidupkan kembali misi pembentukan negara Palestina yang telah lama mati suri. Meskipun tertangkap saat menjabat sebagai anggota parlemen terpilih, popularitasnya tak pernah pudar.
Barghouti konsisten memuncaki jajak pendapat sebagai pemimpin pilihan rakyat. Oleh karena itu, para penandatangan surat percaya ia membawa harapan terbaik bagi solusi dua negara.
“Pembebasannya akan menandai titik balik dalam perjuangan panjang ini dan membawa harapan yang sangat dibutuhkan bagi kita semua,” ujar musisi Brian Eno.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Paralel dengan Nelson Mandela
Kampanye ini sengaja menarik garis paralel dengan sejarah Afrika Selatan. Mereka menyamakan nasib Barghouti dengan ikon anti-apartheid, Nelson Mandela.
Tujuannya jelas, mereka ingin mengulangi kesuksesan gerakan budaya global yang dulu membantu membebaskan Mandela. Menariknya, Mandela sendiri pernah berkata pada 2002: “Apa yang terjadi pada Barghouti adalah sama dengan apa yang terjadi pada saya.”
Selma Dabbagh, novelis Inggris-Palestina, menegaskan ketidakadilan yang terjadi. Menurutnya, pengadilan Barghouti adalah sebuah kepalsuan (sham).
“Badan yang mewakili parlemen di seluruh dunia telah melakukan penilaian sendiri dan menyimpulkan bahwa pengadilan itu sangat cacat,” tegas Dabbagh.
Ketakutan Israel dan Ancaman Hukuman Mati
Sayangnya, jalan menuju kebebasan sangat terjal. Israel bersikeras menolak melepaskan Barghouti, bahkan dalam pertukaran tahanan pasca-gencatan senjata Oktober lalu.
Penolakan ini tampaknya bukan karena alasan keamanan semata. Justru, Israel khawatir akan pengaruh politik besar yang Barghouti miliki dalam membangun persatuan Palestina.
Lebih mengerikan lagi, muncul kekhawatiran tentang undang-undang baru. Pemerintah Israel berpotensi memberlakukan hukuman mati bagi tahanan Palestina. Akibatnya, nyawa Barghouti bisa terancam jika hukum tersebut lolos.
Bola Panas di Tangan AS
Nasib Barghouti kini mungkin bergantung pada tekanan Amerika Serikat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemungkinan besar akan menolak pembebasan ini tanpa desakan kuat dari Washington.
Apalagi, Donald Trump baru saja mengundang Netanyahu ke Gedung Putih dalam waktu dekat. Maka, pertemuan tersebut bisa menjadi momen penentu apakah sang “Mandela Palestina” akan menghirup udara bebas atau tetap terkurung di balik jeruji besi.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















