Towton 1461: Menggali Hari Paling Berdarah dalam Sejarah Inggris

Rabu, 28 Januari 2026 - 07:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, 28.000 mayat dalam sehari. Penemuan kerangka di bawah lantai sebuah aula mengungkap betapa brutalnya nenek moyang kita, jauh sebelum era bom atom. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, 28.000 mayat dalam sehari. Penemuan kerangka di bawah lantai sebuah aula mengungkap betapa brutalnya nenek moyang kita, jauh sebelum era bom atom. Dok: Istimewa.

TOWTON/YORKSHIRE, POSNEWS.CO.ID – Desa Towton, yang terjepit di antara York dan Leeds di utara Inggris, tampak tenang hari ini. Tidak ada museum megah, hanya sebuah salib di pinggir jalan. Namun, di tanah inilah sejarah mencatat salah satu hari paling kelam bagi bangsa Inggris.

Pada 29 Maret 1461, Pertempuran Towton meletus. Sejarah mencatat momen itu sebagai hari paling berdarah dalam riwayat Inggris. Namun, buku sejarah di sekolah sering kali melewatkan detail mengerikan dari abad ke-15 ini.

Renovasi bangunan pada tahun 1996 akhirnya mengungkap kebenaran baru. Saat pekerja merenovasi Towton Hall, mereka menemukan sesuatu yang mengerikan di bawah lantai: kerangka manusia. Arkeolog yang datang terkejut bukan main. Bukan hanya karena jumlahnya, tetapi karena cara brutal kematian orang-orang ini dan metode penguburan mereka.

Kita sering mengira perang modern abad ke-20 adalah puncak kekejaman. Namun, temuan di Towton membuktikan bahwa manusia telah lama bersikap buas.

Rebut Tahta: Lancastrian vs Yorkist

Pertempuran ini adalah puncak dari perseteruan dua keluarga raksasa: Lancastrian dan Yorkist. Keduanya mengklaim takhta Inggris.

Kubu Lancastrian membela Raja Henry VI. Lawan politiknya menganggap Henry tidak mampu memimpin atau bahkan gila. Di sisi lain, kubu Yorkist, yang dipimpin oleh Richard Plantagenet (dan kemudian putranya, Edward, yang baru 18 tahun), merasa berhak atas mahkota.

Baca Juga :  Starmer Tegur Raksasa Teknologi: Situasi Ini Tidak Boleh Berlanjut Demi Keamanan Anak

Sebelum Towton, perang di Inggris biasanya berskala kecil, melibatkan ratusan atau ribuan orang amatir, dan jarang memakan banyak korban jiwa. Towton mengubah segalanya. Kedua belah pihak mengerahkan pasukan raksasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Estimasi korban tewas sangat mencengangkan: 28.000 orang dari 75.000 prajurit yang bertempur. Sebagai konteks, jumlah pasukan ini mewakili 10% dari seluruh pria usia produktif di Inggris saat itu. Kehilangan 28.000 nyawa dalam satu hari adalah angka yang melumpuhkan demografi bangsa.

Senjata Pembunuh: Poleaxe dan Peluru Awal

Analisis forensik pada kerangka menceritakan kisah horor di medan perang. Para prajurit ini tidak mati dengan mudah. Musuh membacok, memanah, atau kuda menginjak-injak mereka hingga tewas.

Arkeolog bahkan menemukan timah komposit dan bagian dari senjata api kuno, menandakan penggunaan peluru paling awal di Inggris. Namun, senjata paling mematikan hari itu adalah poleaxe.

Senjata besi panjang dan berat ini memiliki ujung tajam, bilah kapak di satu sisi, dan paku tajam (mirip obeng kembang raksasa) di sisi lain. Para ahli menduga senjata inilah yang menghabisi sebagian besar pasukan Lancastrian yang melarikan diri saat barisan mereka pecah.

Baca Juga :  Imigrasi Gerebek Tempat Hiburan di Jakarta Utara, 43 WNA Ilegal Diamankan

Ritual Penghapusan Identitas

Yang paling membingungkan para ahli adalah tingkat “overkill” atau pembunuhan berlebihan. Bukti kerangka menunjukkan banyak korban menerima belasan pukulan, padahal dua atau tiga pukulan awal sudah cukup membunuh mereka.

Apakah ini kemarahan di medan perang atau ritual pasca-kematian? Para ahli belum yakin. Namun, kebiadaban ini menunjukkan munculnya konsep baru tentang musuh: bukan sekadar lawan untuk dibunuh, tetapi seseorang yang harus kehilangan identitasnya secara total.

Berbeda dengan praktik penguburan suci abad pertengahan, pasukan pemenang melucuti pakaian mayat-mayat di Towton dan melempar mereka begitu saja ke dalam lubang massal untuk mendehumanisasi korban. Ini kontras dengan kuburan massal abad pertengahan lain di Wisby, Swedia (1361), di mana masyarakat menguburkan prajurit secara utuh lengkap dengan baju zirah mereka.

Tampaknya, kebiadaban kubu Yorkist berhasil menanamkan ketakutan. Edward IV memenangkan pertempuran dan berhasil mempertahankan takhtanya selama 22 tahun ke depan. Di Towton, tulang-belulang itu kini berbicara, mengingatkan kita bahwa kebrutalan terorganisir bukanlah fenomena baru.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit
Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman
10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz
Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot
Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:40 WIB

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Berita Terbaru

Transformasi di garis depan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan reformasi sistemik militer Ukraina mulai Juni 2026 guna mengatasi kekurangan personel dan meningkatkan kesejahteraan pasukan infanteri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB