Tragedi di Balik Kandang Sempit: Kisah Penyelamatan Moon Bear

Minggu, 1 Februari 2026 - 16:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari penjara besi menuju kebebasan. Kisah Jasper dan ribuan beruang madu lainnya mengungkap sisi gelap perdagangan empedu beruang di Asia serta upaya rehabilitasi yang menginspirasi dunia. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dari penjara besi menuju kebebasan. Kisah Jasper dan ribuan beruang madu lainnya mengungkap sisi gelap perdagangan empedu beruang di Asia serta upaya rehabilitasi yang menginspirasi dunia. Dok: Istimewa.

CHENGDU, POSNEWS.CO.ID – Jasper adalah seekor beruang madu yang memiliki tanda bulan sabit kuning di dadanya. Pada tahun 2000, tim penyelamat dari Animals Asia menemukan Jasper di sebuah peternakan beruang di Chengdu, Tiongkok. Saat itu, petugas harus memotong kandang besi yang sangat sempit untuk mengeluarkan Jasper yang terjebak di dalamnya selama 15 tahun.

Kisah Jasper hanyalah puncak gunung es dari industri empedu beruang. Di Tiongkok, sekitar 7.000 hingga 10.000 beruang hidup dalam kondisi serupa. Para peternak mengambil empedu beruang dua kali sehari untuk kebutuhan medis. Mereka menggunakan kateter atau membiarkan luka pada perut beruang tetap terbuka secara permanen untuk memudahkan ekstraksi.

Industri Empedu: Antara Tradisi dan Kekejaman

Pengobatan tradisional Tiongkok telah menggunakan empedu beruang selama lebih dari 3.000 tahun. Masyarakat memercayai empedu ini dapat mengobati masalah hati, kondisi mata, hingga meredakan panas dalam. Di pasar grosir, harga empedu beruang mencapai 4.000 yuan (sekitar $580) per kilogram.

Baca Juga :  Mungo Man dan Ritual Pemakaman Tertua di Dunia

Meskipun perdagangan internasional melarangnya, peternakan beruang tetap legal di Tiongkok. Pemerintah setempat hanya memberikan perlindungan tingkat kedua bagi beruang madu. Para peternak berdalih bahwa keberadaan peternakan ini justru menekan angka perburuan liar. Namun, kenyataannya banyak beruang liar yang tetap menjadi korban jerat untuk mengisi kembali stok peternakan yang menyusut.

Proses Rehabilitasi: Bangkit dari Trauma Berat

Beruang yang berhasil selamat biasanya mengalami trauma fisik dan psikologis yang parah. Mereka seringkali menderita kanker hati, kebutaan, hingga luka infeksi akibat prosedur ekstraksi yang tidak higienis. Selain itu, banyak beruang kehilangan cakar atau gigi karena mereka terus menggigit jeruji besi selama bertahun-tahun di dalam penjara sempit.

Proses rehabilitasi biasanya memakan waktu sekitar satu tahun. Meski awalnya penuh ketakutan dan bersikap agresif, sebagian besar beruang menunjukkan perubahan kepribadian yang luar biasa. “Transisi dari hewan yang penuh ketakutan menjadi makhluk yang percaya pada manusia sungguh luar biasa,” ujar Jill Robinson, pendiri Animals Asia. Kisah-kisah pemulihan ini menjadi simbol harapan bagi para aktivis konservasi dunia.

Baca Juga :  Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz dan Kecam Sekutu NATO-Asia

Menuju Penghentian Praktik Pertanian Beruang

Saat ini, ilmu kedokteran barat sebenarnya telah menyediakan versi sintetis dari bahan aktif empedu beruang, yaitu asam ursodeoksikolat. Bahan sintetis ini terbukti efektif mengobati penyakit seperti hepatitis C tanpa perlu menyiksa hewan. Namun, permintaan akan empedu alami yang sering terkontaminasi darah dan kotoran tetap ada.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Upaya untuk mengakhiri praktik ini terus berjalan. Sejak tahun 1994, Tiongkok tidak lagi mengeluarkan lisensi baru untuk peternakan beruang. Animals Asia juga telah berhasil memfasilitasi penutupan lebih dari 40 peternakan. Melalui edukasi dan kerja sama diplomatik, para aktivis berharap masa depan di mana beruang madu dapat hidup bebas di habitat aslinya tanpa ancaman kandang besi akan segera terwujud.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perancis Siaga Perang: Stok Drone Peledak Naik 400% untuk Hadapi Agresi Rusia
Trump Ancam Tarif 50% bagi Negara Pemasok Senjata ke Iran
Hanya Tiga Kapal Berani Lintasi Selat Hormuz Pasca-Gencatan Senjata
Israel Bangun dan Putuskan Jalur Utama Lebanon Selatan
Doktrin Perang Abadi: Israel Bangun Zona Penyangga di Lebanon, Gaza, dan Suriah
Hari Ini Lawan Vietnam Semifinal Futsal AFF 2026: Garuda Siap Pertahankan Takhta
Lowongan Kerja Bea Cukai 2026 Dibuka, 300 Lulusan SMA Siap Direkrut Akhir April
Antisipasi Ketidakpastian Hormuz: Jepang Kaji Tambahan Pelepasan Cadangan Minyak 20 Hari

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 12:05 WIB

Perancis Siaga Perang: Stok Drone Peledak Naik 400% untuk Hadapi Agresi Rusia

Jumat, 10 April 2026 - 11:02 WIB

Trump Ancam Tarif 50% bagi Negara Pemasok Senjata ke Iran

Jumat, 10 April 2026 - 10:55 WIB

Hanya Tiga Kapal Berani Lintasi Selat Hormuz Pasca-Gencatan Senjata

Jumat, 10 April 2026 - 09:50 WIB

Israel Bangun dan Putuskan Jalur Utama Lebanon Selatan

Jumat, 10 April 2026 - 08:46 WIB

Doktrin Perang Abadi: Israel Bangun Zona Penyangga di Lebanon, Gaza, dan Suriah

Berita Terbaru

Tekanan ekonomi maksimum. Presiden Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif 50 persen tanpa pengecualian terhadap negara mana pun yang memasok senjata ke Iran, hanya beberapa jam setelah menyepakati gencatan senjata di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Ancam Tarif 50% bagi Negara Pemasok Senjata ke Iran

Jumat, 10 Apr 2026 - 11:02 WIB

Peta baru konflik Timur Tengah. Israel melancarkan gempuran udara terdahsyat pada hari Rabu guna mengunci

INTERNASIONAL

Israel Bangun dan Putuskan Jalur Utama Lebanon Selatan

Jumat, 10 Apr 2026 - 09:50 WIB