KHAN YOUNIS, POSNEWS.CO.ID – Tangis pilu pecah di halaman Rumah Sakit Nasser, Khan Younis. Seorang ayah yang duduk di kursi roda menangisi dua jenazah kecil yang terbungkus kain kafan putih.
Dua putranya, Fadi Abu Assi (11) dan Goma Abu Assi (8), tewas mengenaskan pada Sabtu (29/11/2025). Nahasnya, nyawa mereka melayang akibat hantaman rudal dari drone militer Israel.
Tragedi ini terjadi di pagi hari yang cerah di Bani Suheila, sebelah timur Khan Younis. Padahal, kedua bocah tersebut tidak sedang memegang senjata atau bom. Sebaliknya, tangan kecil mereka hanya menggenggam ranting kayu bakar.
Mencari Kayu Demi Ayah
Paman korban, Mohamed Abu Assi, menceritakan kronologi memilukan tersebut. Mulanya, kakak beradik itu keluar rumah untuk mencari kayu bakar. Mereka ingin membantu sang ayah menyalakan api untuk memasak.
“Mereka hanya anak-anak. Apa salah mereka? Mereka tidak punya rudal, mereka pergi mengumpulkan kayu untuk ayah mereka,” ujar Mohamed dengan nada bergetar.
Seketika, ledakan keras mengguncang area dekat sekolah pengungsian. Lantas, keluarga menemukan tubuh kedua bocah itu tak bernyawa. Tim medis segera mengevakuasi mereka, namun takdir berkata lain.
Dalih “Aktivitas Mencurigakan”
Di sisi lain, militer Israel (IDF) memberikan pembelaan diri. Mereka mengonfirmasi serangan tersebut namun dengan narasi berbeda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pihak militer mengklaim pasukan mereka mengidentifikasi dua “tersangka” yang melintasi Garis Kuning (Yellow Line). Menurut IDF, kedua orang tersebut melakukan aktivitas mencurigakan dan mendekati pasukan yang beroperasi di Gaza selatan.
“Mereka menimbulkan ancaman langsung. Oleh karena itu, Angkatan Udara melenyapkan tersangka untuk menghilangkan ancaman,” tulis pernyataan resmi IDF.
Garis Kuning adalah batas pemisah yang ditandai dengan blok beton. Sesuai kesepakatan, tentara Israel seharusnya menarik diri ke posisi di belakang garis tersebut selama masa gencatan senjata.
Gencatan Senjata yang Berdarah
Insiden ini kembali menguji kesabaran warga Gaza terhadap perjanjian damai yang rapuh. Faktanya, gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat ini baru berjalan kurang dari dua bulan sejak 10 Oktober lalu.
Meskipun kesepakatan 20 poin telah berlaku, darah tetap tumpah di tanah Palestina. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat data yang mengkhawatirkan. Setidaknya 352 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata dimulai.
Hamas menuduh Israel terus melanggar perjanjian. Sementara itu, Israel menuding balik bahwa serangannya hanya menyasar militan yang melanggar aturan.
Kini, keluarga Abu Assi harus menguburkan mimpi kedua putra mereka. PBB sebelumnya menyebut angka kematian di Gaza kredibel, dengan total korban jiwa kini menembus angka 70.000 orang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















