Trump Beri Ultimatum Keras ke Hamas: Cara Mudah atau Cara Sulit

Sabtu, 17 Januari 2026 - 10:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Brussels mengambil tindakan. Uni Eropa secara bulat menyepakati sanksi terhadap petinggi Hamas dan tokoh kunci gerakan pemukim Israel guna meredam eskalasi kekerasan di Gaza dan Tepi Barat yang kian memprihatinkan di tahun 2026. Dok: Sky News.

Ilustrasi, Brussels mengambil tindakan. Uni Eropa secara bulat menyepakati sanksi terhadap petinggi Hamas dan tokoh kunci gerakan pemukim Israel guna meredam eskalasi kekerasan di Gaza dan Tepi Barat yang kian memprihatinkan di tahun 2026. Dok: Sky News.

GAZA, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan situasi diplomatik yang rapuh di Timur Tengah. Dalam unggahan larut malam di media sosial Truth Social, Kamis (16/1), Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Hamas.

Ia bersumpah akan mendorong demiliterisasi “komprehensif” terhadap kelompok tersebut dan memperingatkan konsekuensi berat jika mereka menolak patuh. Tuntutannya spesifik: Hamas harus segera melucuti senjata dan mengembalikan jenazah tawanan Israel terakhir yang diyakini masih mereka tahan.

“Hamas harus SEGERA menghormati komitmennya, termasuk pengembalian jenazah terakhir ke Israel, dan melanjutkan tanpa penundaan menuju Demiliterisasi penuh,” tulis Trump. “Seperti yang saya katakan sebelumnya, mereka bisa melakukan ini dengan cara mudah, atau cara sulit.”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Program “Beli Kembali” Senjata

Pelucutan senjata Hamas menjadi elemen paling alot dalam fase kedua gencatan senjata ini. Sejauh ini, Hamas menolak menyerahkan senjata mereka.

Rencana AS menargetkan Hamas untuk menyerahkan senjata berat sepenuhnya. Untuk senjata yang lebih kecil—seperti senapan, pistol, dan senapan mesin—AS sedang mempertimbangkan pendekatan transaksional: program “pembelian kembali” (buy-back) di mana pemilik senjata akan menukar peralatan tempur mereka dengan uang tunai.

Baca Juga :  Runtuhnya Peradaban Pulau Paskah: Bukan Ekosida

Trump sesumbar bahwa Mesir, Turki, dan Qatar akan membantu membongkar jaringan terowongan Hamas, meski mekanisme penegakannya di lapangan masih belum jelas.

Dewan Perdamaian dan Komite Teknokrat

Fokus fase kedua kini bergeser dari sekadar penghentian tembakan menuju pemerintahan transisi. Trump mengumumkan dirinya akan memimpin “Dewan Perdamaian” untuk mengelola Gaza.

Dewan eksekutif ini bertabur nama besar. Laporan menyebutkan bahwa Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair akan bergabung bersama penasihat Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff. Sementara itu, mantan utusan PBB Nickolay Mladenov akan memegang peran sentral di lapangan.

Dewan ini akan mengawasi Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG). Ali Shaath, mantan wakil menteri Otoritas Palestina, akan memimpin badan yang beranggotakan 15 teknokrat Palestina ini.

Gaza: Jurang Kehancuran Buatan Manusia

Sementara para elit berunding di ruang rapat, realitas di Gaza sangat memilukan. Jorge Moreira da Silva, pejabat senior PBB yang mengunjungi Gaza pada hari Kamis, menggambarkan tingkat kehancuran yang “sangat luar biasa”.

Baca Juga :  Prabowo Panggil Panglima TNI dan Kapolri, Instruksikan Tindak Tegas Demo Anarkis

“Gaza memiliki lebih dari 60 juta ton puing: kapasitas hampir 3.000 kapal kontainer,” ungkapnya. “Saat ini, 30 ton puing mengelilingi rata-rata setiap orang di Gaza. Kemungkinan butuh lebih dari tujuh tahun untuk membersihkan puing-puing ini.”

PBB memperkirakan rekonstruksi akan menelan biaya lebih dari $70 miliar (Rp 1.096 triliun) selama beberapa dekade.

Gencatan Senjata yang Berdarah

Meski gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober lalu, kekerasan belum benar-benar berhenti. Laporan menyebutkan setidaknya 451 warga Palestina tewas sejak kesepakatan dimulai.

Pada hari Kamis, sumber medis di rumah sakit al-Aqsa Martyrs melaporkan enam warga Palestina tewas akibat dua serangan udara Israel.

Alam pun tak bersahabat. Badai musim dingin yang kuat menyebabkan tembok runtuh menimpa tenda-tenda pengungsi yang rapuh pada hari Selasa, menewaskan empat orang. UNICEF juga melaporkan data tragis: 100 anak tewas sejak awal gencatan senjata, termasuk enam yang meninggal karena hipotermia (kedinginan).

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB