ABUJA, POSNEWS.CO.ID – Dua minggu setelah jet tempur Amerika Serikat membelah langit barat laut Nigeria pada Hari Natal, kabut ketidakjelasan masih menyelimuti operasi tersebut. Washington mengklaim sukses besar, namun di lapangan, pertanyaan tentang siapa sebenarnya target mereka dan seberapa efektif serangan itu justru semakin nyaring.
Presiden AS Donald Trump, melalui platform Truth Social, dengan bangga menyebut operasi itu sebagai “serangan sempurna”. Ia mengklaim pasukannya telah menghantam “sampah teroris ISIS” yang selama ini menargetkan dan membunuh orang Kristen tak berdosa secara keji.
Operasi yang terkoordinasi dengan pemerintah Nigeria ini membidik sebuah kelompok Islamis bernama Lakurawa. Kelompok ini beroperasi di wilayah perbatasan, memeras penduduk lokal yang mayoritas Muslim dan menegakkan hukum syariah ketat, termasuk hukuman cambuk bagi pendengar musik.
Klaim vs Realitas Lapangan
Namun, informasi resmi sangatlah minim. Komando Afrika AS (AFRICOM) hanya menyatakan “penilaian awal” bahwa beberapa teroris ISIS tewas. Sebaliknya, Malik Samuel, peneliti dari Good Governance Africa, mendapatkan informasi yang lebih rinci namun belum terverifikasi.
Sumber Samuel di dalam Lakurawa menyebut sekitar 100 pejuang tewas di kamp hutan wilayah Tangaza, negara bagian Sokoto. Selain itu, sekitar 200 orang lainnya hilang, sementara sisanya kini melarikan diri menyeberang ke Niger dengan sepeda motor.
Di sisi lain, laporan warga menimbulkan keraguan atas presisi serangan. Penduduk desa Jabo, yang terletak 60 mil di selatan lokasi target, menemukan puing-puing rudal di lahan pertanian kosong. Mereka bersaksi bahwa wilayah mereka tidak pernah diserang Lakurawa. Bahkan, laporan lain menyebutkan puing merusak sebuah hotel 500 mil jauhnya dari Tangaza, melukai tiga pekerja.
Mengapa Lakurawa?
Tanda tanya besar muncul terkait pemilihan target. Lakurawa beroperasi di daerah pedesaan terbelakang yang hampir seluruhnya Muslim. Kekerasan di sana lebih sering dilakukan oleh geng bersenjata yang dikenal sebagai “bandit”, bukan jihadis yang menargetkan Kristen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Murtala Abdullahi, konsultan keamanan Nigeria, menduga Lakurawa hanyalah target simbolis. “Bagaimana Anda membuktikan hubungan bahwa kelompok bandit telah memukul komunitas Kristen? Itu sulit. Tetapi jika Anda memukul kelompok jihadis, Anda tidak perlu membuktikan hubungan itu,” analisisnya.
Abdullahi mempertanyakan mengapa AS tidak menyerang Boko Haram, yang jauh lebih terkenal secara internasional dan memiliki rekam jejak jelas menyerang baik Kristen maupun Muslim.
Pejabat AS yang berbicara kepada New York Times memberikan petunjuk motif politik. Mereka menyebut serangan ini sebagai tindakan “sekali jadi” agar Trump bisa mengklaim kepada basis pemilih evangelisnya bahwa ia bertindak tegas melindungi umat Kristen.
Akar Masalah: Absennya Negara
Sementara itu, dunia internasional kini lebih fokus pada aksi militer Trump di Venezuela dan Greenland. Padahal, Nigeria tetap menjadi lahan subur bagi kelompok ekstremis bukan hanya karena ideologi, tetapi karena kegagalan tata kelola.
Lakurawa sendiri memiliki sejarah unik. Pada 2017, komunitas lokal justru mengundang mereka untuk melindungi desa dari serangan bandit. Sayangnya, pelindung berubah menjadi penindas yang menerapkan aturan ekstrem.
Malik Samuel menyimpulkan situasi ini dengan getir. “Mengapa Nigeria menjadi lahan subur bagi semua kelompok ini? Sederhana: karena masalah pemerintahan. Anda melihat jelas tingkat kemiskinan di tempat-tempat ini, Anda melihat jelas ketidakhadiran negara, kekosongan yang telah tercipta.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















