Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi meja makan di Versailles. Presiden AS Donald Trump akan menghadiri jamuan makan malam mewah dari Presiden Prancis Emmanuel Macron pasca-KTT G7. Dok: Istimewa.

Diplomasi meja makan di Versailles. Presiden AS Donald Trump akan menghadiri jamuan makan malam mewah dari Presiden Prancis Emmanuel Macron pasca-KTT G7. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump membawa kabar optimistis mengenai konflik Timur Tengah. Ia menyatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran kini hampir mencapai titik akhir. Oleh karena itu, peluang untuk menghentikan perang yang telah berlangsung selama dua bulan ini semakin besar.

Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui media sosial pada hari Sabtu. Selain itu, ia mengaku telah berkomunikasi secara intensif dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Bahrain, dan Israel. Ia menyebut langkah ini sebagai fondasi kuat untuk menuju perdamaian.

Memorandum Saling Pengertian demi Perdamaian

Trump mendeskripsikan draf kesepakatan tersebut sebagai “Memorandum Saling Pengertian demi Perdamaian.” Dokumen ini membutuhkan persetujuan final dari Amerika Serikat, Iran, dan beberapa negara mitra lainnya. Meskipun demikian, Trump belum merinci kapan pengumuman resmi akan disampaikan kepada publik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, proposal ini secara garis besar bertujuan untuk mengakhiri permusuhan secara formal. Namun, draf tersebut tidak secara eksplisit membahas program nuklir Iran dan pengayaan uranium. Teheran sebelumnya memang meminta pembahasan mengenai nuklir ditunda hingga tahap perundingan berikutnya.

Baca Juga :  Politik dan Sains Mengubah Wajah Viking dalam Sejarah

Peran Kunci Mediator: Pakistan dan Qatar

Proses mediasi saat ini melibatkan aktor regional yang sangat aktif. Pakistan menjadi saluran komunikasi utama sejak mereka menjamu perundingan perdamaian bulan lalu. Di samping itu, Qatar juga mengirimkan tim negosiasi khusus ke Teheran untuk membantu menjembatani perbedaan pendapat.

Bahkan, sumber diplomatik menyebutkan bahwa kesepakatan ini mencakup beberapa poin strategis. Poin tersebut meliputi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS terhadap Iran, dan penyelesaian sengketa aset yang dibekukan. Oleh karena itu, mediator berharap draf ini dapat segera membawa stabilitas bagi pasar energi dunia yang tergoncang akibat perang.

Ancaman Sanksi dan Skeptisisme Teheran

Iran memberikan respons yang cukup berhati-hati terhadap usulan Washington. Dalam hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa diplomasi memerlukan waktu yang tidak sebentar. Selain itu, Teheran masih menaruh curiga terhadap konsistensi Amerika Serikat dalam perundingan.

Di sisi lain, militer Iran melalui Ketua Komite Keamanan Nasional, Ebrahim Rezaei, mengecam langkah Washington. Ia menuding AS sedang menyiapkan serangan baru di balik layar diplomasi. Rezaei menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap memberikan respons militer yang pahit bagi siapa pun yang mencoba menyerang wilayah mereka.

Baca Juga :  Ledakan Las Oksigen, Tukang AC Tewas Mengenaskan di Setiabudi

Dampak Ekonomi Global dan Pemilu AS

Perang ini terus membebani ekonomi global. Harga minyak mentah Brent terus berfluktuasi tajam sejak Maret. Harga energi yang tinggi memicu inflasi di banyak negara dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Bagi Presiden Trump, tekanan domestik semakin menguat. Pasalnya, data jajak pendapat menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadapnya mencapai titik terendah. Isu harga bahan bakar menjadi faktor penentu dalam pemilihan kongres pada bulan November mendatang. Maka dari itu, keberhasilan mencapai kesepakatan damai merupakan kebutuhan politis yang mendesak bagi pemerintahan Trump saat ini.

Menanti Keputusan Final

Dunia kini menanti detail akhir dari memorandum perdamaian tersebut. Singkatnya, keberhasilan kesepakatan ini akan mengakhiri dua bulan pertempuran yang telah merenggut ribuan nyawa.

Dengan demikian, masyarakat internasional berharap agar kedua pihak mampu menurunkan ego mereka. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, perdamaian di Selat Hormuz menjadi kunci utama untuk memulihkan stabilitas rantai pasok global dan menurunkan tekanan inflasi yang dirasakan oleh warga dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal
BIGBANG Resmi Umumkan Jadwal Tur Dunia

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:52 WIB

Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok

Berita Terbaru