KYIV, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Rusia berencana meluncurkan serangan udara secara besar-besaran ke Kyiv dalam waktu dekat. Oleh karena itu, Moskow memperingatkan diplomat dan warga asing untuk segera meninggalkan ibu kota Ukraina tersebut.
Namun, warga Kyiv menanggapi ancaman baru tersebut dengan sangat tenang. Sebab, mereka telah terbiasa menghadapi serangan udara selama bertahun-tahun.
Tekad Kuat Warga Kyiv
Rusia terus membombardir Kyiv sejak invasi penuh pada Februari 2022. Meskipun demikian, warga setempat menunjukkan tekad kuat untuk tetap bertahan di rumah mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mantan tentara Ukraina, Oleksandr Korzh, menyebut ancaman tersebut sebagai taktik manipulasi belaka. Dengan demikian, ia yakin Moskow hanya ingin menebar kepanikan massal di kalangan warga sipil.
“Saya akan tetap tinggal di Ukraina,” tegas Korzh kepada Reuters. Selain itu, ia memastikan tidak akan meninggalkan kota Kyiv dalam waktu dekat.
Reaksi Keras Kedutaan dan Diplomat Asing
Kedutaan besar negara-negara Eropa juga menolak untuk tunduk pada tekanan diplomatik Rusia. Sebagai contoh, Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Mathernova, mengecam keras pernyataan Moskow tersebut.
Mathernova menyebut ancaman serangan sistematis Rusia sebagai sebuah mahakarya kemunafikan yang luar biasa. Sementara itu, negara-negara seperti Belanda, Jerman, dan Norwegia langsung memanggil diplomat Rusia di negara masing-masing.
Di sisi lain, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, justru melayangkan sindiran di media sosial. Ia menilai Uni Eropa memiliki terlalu banyak diplomat cadangan sehingga tidak takut kehilangan mereka.
Alasan Retribusi Militer Rusia
Moskow mengeklaim serangan baru ini merupakan aksi balas dendam yang setimpal. Sebab, Ukraina sebelumnya menyerang asrama mahasiswa di wilayah pendudukan Luhansk menggunakan pesawat tanpa awak.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, bahkan menelepon sejawatnya dari AS, Marco Rubio. Dalam kesempatan itu, Lavrov memperingatkan Washington mengenai rencana serangan udara susulan tersebut.
Namun, pengamat militer meragukan kemampuan Rusia untuk melipatgandakan skala serangan mereka. Oleh sebab itu, ancaman Moskow kemungkinan besar hanya berupa gertakan kosong untuk menutupi kegagalan mereka di medan tempur.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












