ABU DHABI, POSNEWS.CO.ID – Dua raksasa Teluk yang dulu bersahabat kini saling todong senjata. Arab Saudi secara efektif menuduh Uni Emirat Arab (UEA) mengancam keamanan masa depannya.
Perselisihan ini berpusat pada nasib Yaman dan kemungkinan deklarasi negara selatan yang merdeka dalam waktu dekat. Seketika, situasi ini berpotensi memicu perang saudara baru di wilayah selatan Yaman.
Lebih jauh lagi, konflik ini bisa meluber ke sengketa lain, termasuk di Sudan dan Tanduk Afrika. Faktanya, Yaman kini menjadi panggung utama di mana dua negara kaya minyak ini berebut pengaruh politik dan kontrol jalur pelayaran strategis.
“Garis Merah” dan Serangan Mukalla
Puncak ketegangan terjadi bulan lalu. UEA melanggar banyak “garis merah” yang diasumsikan Riyadh. Akibatnya, Arab Saudi membom kendaraan yang baru saja berlabuh di pelabuhan Mukalla, Yaman.
Riyadh secara tajam menyebut kendaraan tersebut dikirim dari pelabuhan Emirat untuk digunakan oleh Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung UEA.
“Kerajaan menekankan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan nasionalnya adalah garis merah,” tegas pernyataan resmi Saudi.
Riyadh bersumpah tidak akan ragu mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menetralkan ancaman tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ambisi UEA dan Kartu STC
Di balik layar, UEA telah lama melirik peluang komersial di Yaman. Mereka memanfaatkan keinginan tulus rakyat selatan untuk memulihkan kemerdekaan yang hilang sejak penyatuan 1990.
UEA memilih STC sebagai kendaraan politiknya. Langkah ini terbukti cerdik. STC berhasil mendapatkan pengakuan internasional dan kursi di Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) pada 2019.
Namun, STC tidak puas hanya dengan otonomi. Bulan ini, mereka melancarkan ekspansi militer agresif ke Hadramaut, provinsi terbesar di selatan.
Hasilnya, STC kini menguasai hampir seluruh wilayah bekas negara Yaman Selatan, termasuk ladang minyak paling produktif. Keberhasilan ini menjadi guncangan hebat bagi Arab Saudi yang selama ini menganggap Yaman sebagai halaman belakangnya.
UEA Menolak Mundur
Riyadh mencoba mengisolasi UEA dan STC secara diplomatik. Akan tetapi, Abu Dhabi tidak gentar.
Penarikan pasukan kontraterorisme UEA yang diumumkan Selasa lalu dinilai tidak signifikan. Pasalnya, dukungan UEA terhadap STC tetap utuh.
Abdulkhaleq Abdulla, ilmuwan politik Emirat, menggambarkan sikap negaranya sebagai ujian karakter. “UEA tidak mengecewakan atau meninggalkan sekutunya,” tulisnya di media sosial X.
Bayang-Bayang Krisis Qatar 2017
Farea al-Muslimi, peneliti dari Chatham House, memperingatkan bahaya eskalasi ini. Menurutnya, perselisihan ini bergerak dari kompetisi proksi menuju konfrontasi langsung.
“Konflik ini mencerminkan ketidaksepakatan mendasar antara Riyadh dan Abu Dhabi mengenai struktur politik masa depan Yaman,” jelas al-Muslimi.
Ia juga melihat paralelisasi yang meresahkan dengan krisis Teluk 2017 yang melibatkan Qatar. Kala itu, Saudi dan UEA memutus hubungan diplomatik yang mengguncang kawasan selama bertahun-tahun.
Ironisnya, pihak yang paling diuntungkan dari perpecahan ini mungkin adalah pemberontak Houthi. Mereka kini bisa menonton dua musuh utamanya saling serang, sementara negara-negara Barat cenderung diam dan memihak Saudi demi mempertahankan kesatuan negara Yaman.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















