China Semprot Australia Soal Taiwan: Peringatan Keras

Jumat, 2 Januari 2026 - 12:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mempererat ikatan ideologi. Presiden Xi Jinping menerima utusan khusus Presiden Laos di Beijing guna mematangkan pembangunan komunitas nasib bersama dan merayakan 65 tahun hubungan diplomatik di tengah dinamika politik global tahun 2026. Dok: Istimewa.

Mempererat ikatan ideologi. Presiden Xi Jinping menerima utusan khusus Presiden Laos di Beijing guna mematangkan pembangunan komunitas nasib bersama dan merayakan 65 tahun hubungan diplomatik di tengah dinamika politik global tahun 2026. Dok: Istimewa.

CANBERRA, POSNEWS.CO.ID – Temperatur diplomatik antara China dan Australia kembali mendidih pada Kamis ini. Kedutaan Besar China di Australia melontarkan kritik tajam terhadap pernyataan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT). Mereka menyebut pernyataan itu “memutarbalikkan fakta” dan “mengaburkan kebenaran”.

Sebelumnya, pada hari Rabu, DFAT merilis pernyataan resmi. Isinya menyuarakan kekhawatiran atas latihan militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) di sekitar pulau Taiwan. Beijing merespons cepat dengan kecaman keras. Mereka juga mengajukan protes diplomatik resmi (solemn representations) kepada pihak Canberra.

Tudingan “Gudang Amunisi” AS

Juru bicara Kedutaan Besar China menegaskan bahwa latihan militer tersebut merupakan respons sah terhadap provokasi eksternal. Secara spesifik, Beijing menunjuk hidung Amerika Serikat. Pasalnya, AS baru saja mengumumkan penjualan senjata skala besar ke Taiwan.

“Langkah tersebut memberanikan kekuatan separatis ‘Kemerdekaan Taiwan’ untuk mencari kemerdekaan melalui pembangunan militer,” ujar juru bicara tersebut. Lebih lanjut, ia menyebut tindakan AS mengubah Taiwan menjadi “tong mesiu” dan “gudang amunisi” yang berbahaya.

Baca Juga :  KLH Bekukan 80 Izin Tambang Batu Bara dan Nikel, Potensi Denda Capai Rp6 Triliun

Menurut Beijing, aktivitas separatis dan campur tangan asing adalah biang keladi utama. Keduanya menjadi tindakan unilateral terbesar yang mengubah status quo di Selat Taiwan. Di mata China, pembelian senjata besar-besaran oleh Taipei menyingkap wajah asli mereka sebagai “penyabot perdamaian”.

Peringatan untuk Canberra

China mengingatkan bahwa prinsip Satu China adalah fondasi politik hubungan bilateral kedua negara. Oleh karena itu, Beijing mendesak Australia untuk mematuhi komitmen politiknya. Mereka juga meminta Canberra berhenti mencampuri urusan internal China.

“Latihan militer PLA adalah peringatan serius bagi kaum separatis dan intervensi asing,” tambah juru bicara tersebut. Ia pun meminta Australia menciptakan iklim kondusif bagi hubungan kedua negara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

AUKUS dan Stabilitas Pasifik yang Rapuh

Ketegangan verbal ini tak lepas dari konteks geopolitik yang lebih luas. Khususnya, keberadaan pakta pertahanan AUKUS (Australia, United Kingdom, United States). Kritik keras China menunjukkan sensitivitas Beijing yang meningkat. Mereka menyoroti setiap langkah Canberra yang dianggap “membebek” pada Washington.

Baca Juga :  Gangguan di Terminal 1: Polisi Selidiki Tas Tak Bertuan di Bandara Perth

Keberadaan AUKUS memang memperkuat kapabilitas militer Australia, termasuk kapal selam nuklir. Namun, hal ini telah lama menjadi duri dalam daging bagi China. Respons reaktif Beijing terhadap pernyataan DFAT ini adalah sinyal tegas. China tidak akan mentolerir “front bersatu” Barat di halaman depannya.

Kondisi ini menempatkan stabilitas Pasifik di ujung tanduk. Australia terus mempertegas posisi dalam aliansi Barat. Sementara itu, China meningkatkan tekanan militer di Taiwan. Akibatnya, risiko miskalkulasi di kawasan Indo-Pasifik akan meningkat drastis. Negara tetangga di ASEAN kini harus bermanuver lebih hati-hati di antara dua raksasa tersebut. Tujuannya agar kawasan ini tidak terseret menjadi medan proksi konflik kekuatan besar.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam
BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit
Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman
10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:29 WIB

Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:04 WIB

Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:40 WIB

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Berita Terbaru

Inggris dalam siaga

INTERNASIONAL

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB

Transformasi di garis depan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan reformasi sistemik militer Ukraina mulai Juni 2026 guna mengatasi kekurangan personel dan meningkatkan kesejahteraan pasukan infanteri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB