ALICE SPRINGS, POSNEWS.CO.ID – Di tengah hamparan pasir merah membara di pedalaman Australia, Andrew Parker berlutut dengan penuh konsentrasi. Ahli biologi evolusi ini perlahan mencelupkan kaki kanan belakang seekor kadal berduri (thorny devil) ke dalam cawan air.
“Punggungnya benar-benar basah kuyup!” seru Parker takjub. Bahkan, hanya dalam 30 detik, air merambat naik melawan gravitasi, menyelimuti kulit berduri si kadal, hingga mencapai mulutnya. Selanjutnya, kadal itu pun mulai mengecap air dengan puas.
Parker tidak sedang bermain-main. Sebaliknya, ia datang ke gurun ini dengan misi konkret: meniru struktur kulit kadal tersebut untuk menciptakan perangkat penyelamat nyawa yang mampu mengumpulkan air di gurun pasir.
“Airnya menyebar sangat cepat! Ternyata, kulitnya jauh lebih hidrofobik dari dugaan saya. Mungkin ada kapiler tersembunyi yang menyalurkan air ke mulut,” analisisnya saat meneteskan air ke punggung hewan itu.
Gerakan Global Meniru Alam
Karya Parker hanyalah puncak gunung es dari gerakan biomimetika global yang kian agresif. Faktanya, di seluruh dunia, para insinyur kini mencontek desain alam untuk memecahkan masalah manusia.
Sebagai contoh, insinyur penerbangan di Berlin mempelajari bulu sayap burung pemangsa untuk menciptakan sayap pesawat yang bisa berubah bentuk demi efisiensi bahan bakar. Sementara itu, arsitek di Zimbabwe meniru gundukan rayap untuk membangun gedung dengan sirkulasi udara alami. Di sisi lain, peneliti Jepang menciptakan jarum suntik tanpa rasa sakit yang terinspirasi dari probosis nyamuk.
Robot Lalat dan Tokek Mekanis
Tantangan paling ambisius datang dari laboratorium robotika. Misalnya, Ronald Fearing, profesor teknik elektro di Universitas California, Berkeley, berambisi menciptakan lalat robot miniatur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan memanfaatkan laser mikro, Fearing memotong sayap dari lembaran poliester super tipis. Hebatnya, sayap robot lalatnya mengepak 275 kali per detik—lebih cepat dari serangga aslinya. “Serat karbon mengungguli kitin lalat,” ujarnya bangga. Nantinya, ia menargetkan robot ini bisa bermanuver lincah untuk misi pengintaian atau pencarian korban bencana.
Beranjak ke tempat lain, Mark Cutkosky dari Universitas Stanford menciptakan Stickybot, robot pemanjat yang meniru kaki tokek. Secara alami, tokek bisa menempel di dinding berkat gaya van der Waals yang dihasilkan oleh miliaran bulu halus di kakinya.
Oleh karena itu, Cutkosky meniru ini dengan menciptakan kain urethane berujung runcing. Hasilnya, robot ciptaannya kini mampu memanjat permukaan kaca vertikal. Meskipun demikian, kecepatannya masih jauh di bawah tokek asli dan kakinya mudah kotor—berbeda dengan kaki tokek yang bisa membersihkan diri sendiri.
Jalan Panjang Menuju Kesempurnaan
Kendati potensinya luar biasa, namun biomimetika masih menghadapi jalan terjal menuju produksi massal. Pasalnya, hingga kini hanya sedikit produk yang benar-benar sukses di pasaran. Salah satunya adalah Velcro (terinspirasi dari biji cocklebur yang menempel di bulu anjing) sebagai pengecualian langka sejak 1948.
Selain itu, banyak perusahaan bioteknologi bangkrut saat mencoba meniru sutra laba-laba. Tak hanya itu, ilmuwan masih belum bisa memecahkan kode struktur nano cangkang abalon yang super kuat. Intinya, alam memiliki pengalaman evolusi miliaran tahun, dan manusia baru saja mulai mencoba menyamainya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















