Balet Bawah Air: Rahasia Aerodinamika Ikan di Lautan

Minggu, 4 Januari 2026 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Alarm ekologi global. Suhu permukaan laut dunia merangkak naik menuju rekor tertinggi baru saat pola cuaca El Niño mulai terbentuk, memicu kekhawatiran bahwa tahun 2027 akan melampaui rekor tahun terpanas sepanjang sejarah. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Alarm ekologi global. Suhu permukaan laut dunia merangkak naik menuju rekor tertinggi baru saat pola cuaca El Niño mulai terbentuk, memicu kekhawatiran bahwa tahun 2027 akan melampaui rekor tahun terpanas sepanjang sejarah. Dok: Istimewa.

MONTEREY, POSNEWS.CO.ID – Dunia bawah air menyimpan tantangan fisik yang tak terlihat namun brutal. Tantangan paling mendasar adalah pergerakan. Densitas air yang tinggi membuat setiap inci pergerakan maju menjadi interaksi kompleks antara gaya dorong dan hambatan. Ditambah lagi, arus kuat membawa tenaga luar biasa yang bisa dengan mudah menyapu makhluk hidup.

Namun, alam menjawab tantangan ini dengan evolusi yang memukau. Hasilnya adalah berbagai metode renang yang menciptakan apa yang ilmuwan sebut sebagai “balet bawah air yang mempesona”.

Kerangka sebagai Tuas Penggerak

Ikan tidak sekadar meliuk; mereka menggunakan prinsip fisika tuas. Tengkorak ikan berfungsi sebagai titik tumpu (fulcrum) yang stabil, satu-satunya bagian yang benar-benar kaku. Sementara itu, tulang belakang bertindak sebagai tuas yang fleksibel.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ligamen menyatukan serangkaian tulang belakang ini, namun tidak terlalu kencang. Hal ini memungkinkan sedikit gerakan ke samping di antara setiap pasang tulang. Akibatnya, seluruh tulang belakang menjadi fleksibel, memungkinkan gerakan menggelombang dari kepala ke ekor yang menghasilkan gaya dorong.

Baca Juga :  Matinya Institusi Internasional? Mengapa Realisme Menganggap PBB Hanya Alat Kepentingan Negara Besar

Mesin Ganda: Otot Merah dan Putih

Sementara tulang menyediakan kerangka gerak, ototlah yang menyuplai tenaga. Seekor ikan memiliki ratusan otot yang membungkus tubuhnya. Menariknya, ikan memiliki dua jenis “mesin” atau otot yang berbeda fungsi.

Sebagian besar tubuh ikan terdiri dari “otot putih”. Otot ini memiliki suplai darah yang buruk dan sedikit cadangan energi. Sebaliknya, area kecil di akar sirip dan sepanjang sisi tubuh terdiri dari “otot merah”. Otot merah ini kaya akan darah, lemak, dan glikogen.

Ikan menggunakan otot merah untuk berenang santai sehari-hari. Namun, saat bahaya mengancam—misalnya serangan predator—ikan akan mengaktifkan otot putih. Otot ini berfungsi sebagai “paket tenaga tambahan” raksasa yang memungkinkan ledakan kecepatan tinggi dalam waktu singkat untuk melarikan diri.

Sirip: Kemudi dan Penyeimbang

Banyak orang salah mengira bahwa sirip adalah alat penggerak utama. Padahal, gerakan renang utama justru berasal dari seluruh tubuh yang berotot. Sirip ekor memang menyumbang hingga 40 persen gaya dorong maju, tetapi fungsi utama sirip lainnya adalah stabilitas dan kontrol arah.

Baca Juga :  Bagaimana Telegraf Mengubah Kecepatan Dunia Selamanya

Sirip punggung (dorsal) dan perut (anal) mengontrol gerakan mengguling (rolling) dan membelok (yawing). Sementara itu, sirip dada (pectoral) dan panggul (pelvic) bertindak layaknya sayap pesawat (hydroplanes). Sirip-sirip ini mengontrol ketinggian (pitch), memungkinkan ikan menukik ke bawah atau melesat ke atas, serta berfungsi sebagai rem untuk berhenti.

Kategori Perenang: Dari Penyelundup hingga Pelari Cepat

Kecepatan ikan di alam liar sering kali mengejutkan. Ikan layar (sailfish) memegang rekor sebagai spesies tercepat jarak pendek, mampu melesat hingga 68 mil per jam (mph). Tuna menyusul dengan kecepatan jelajah tinggi, sementara ikan kecil umumnya tidak melebihi 2-3 mph.

Berdasarkan performanya, ilmuwan mengategorikan ikan ke dalam empat grup. Pertama, “sneakers” atau penyelundup seperti belut yang lambat tapi punya daya tahan. Kedua, “stayers” yang mampu berenang cepat dalam waktu lama. Ketiga, “sprinters” atau pelari cepat seperti ikan pike yang mengandalkan ledakan energi. Terakhir, “crawlers” atau perayap yang bergerak lamban seperti ikan bream.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS dan Iran Sepakati Perundingan Darurat di Qatar
Venezuela: Warga Menjarah Toko di Tengah Lambatnya Bantuan
Polisi Bongkar Kasus Bom Molotov di Koja, Dua Pelaku Ditangkap Satu Buron
Cuaca Jabodetabek 30 Juni 2026, Jakarta Cerah Berawan – Bogor Berpotensi Hujan
Mobil Boks Hilang Kendali Tabrak Pembatas Tol Cakung-Cilincing, 2 Orang Terluka
Kasus Dugaan Ijazah Jokowi, Polda Metro Jaya Siap Hadapi Praperadilan Roy Suryo
Pramono Anung Hormati Langkah Hukum Keluarga Korban Balita di Proyek Manggarai
Hajime Moriyasu Optimistis Jepang Mampu Tumbangkan Brasil

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 06:30 WIB

AS dan Iran Sepakati Perundingan Darurat di Qatar

Selasa, 30 Juni 2026 - 06:00 WIB

Venezuela: Warga Menjarah Toko di Tengah Lambatnya Bantuan

Selasa, 30 Juni 2026 - 05:41 WIB

Polisi Bongkar Kasus Bom Molotov di Koja, Dua Pelaku Ditangkap Satu Buron

Selasa, 30 Juni 2026 - 05:24 WIB

Cuaca Jabodetabek 30 Juni 2026, Jakarta Cerah Berawan – Bogor Berpotensi Hujan

Senin, 29 Juni 2026 - 20:17 WIB

Mobil Boks Hilang Kendali Tabrak Pembatas Tol Cakung-Cilincing, 2 Orang Terluka

Berita Terbaru

Peluang damai dari Doha. Amerika Serikat dan Iran menyepakati perundingan darurat di Qatar guna meredakan ketegangan perang pasca-sains aksi saling serang di Teluk Arab. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS dan Iran Sepakati Perundingan Darurat di Qatar

Selasa, 30 Jun 2026 - 06:30 WIB

Duka mendalam di Venezuela utara. Gempa bumi kembar merobohkan ribuan bangunan dan mengubur ratusan warga di bawah puing-puing reruntuhan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Venezuela: Warga Menjarah Toko di Tengah Lambatnya Bantuan

Selasa, 30 Jun 2026 - 06:00 WIB