Balet Bawah Air: Rahasia Aerodinamika Ikan di Lautan

Minggu, 4 Januari 2026 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Di balik gerakan anggun ikan, tersimpan sistem mekanis kompleks yang melibatkan tuas tulang, jenis otot khusus, dan kemudi sirip presisi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Di balik gerakan anggun ikan, tersimpan sistem mekanis kompleks yang melibatkan tuas tulang, jenis otot khusus, dan kemudi sirip presisi. Dok: Istimewa.

MONTEREY, POSNEWS.CO.ID – Dunia bawah air menyimpan tantangan fisik yang tak terlihat namun brutal. Tantangan paling mendasar adalah pergerakan. Densitas air yang tinggi membuat setiap inci pergerakan maju menjadi interaksi kompleks antara gaya dorong dan hambatan. Ditambah lagi, arus kuat membawa tenaga luar biasa yang bisa dengan mudah menyapu makhluk hidup.

Namun, alam menjawab tantangan ini dengan evolusi yang memukau. Hasilnya adalah berbagai metode renang yang menciptakan apa yang ilmuwan sebut sebagai “balet bawah air yang mempesona”.

Kerangka sebagai Tuas Penggerak

Ikan tidak sekadar meliuk; mereka menggunakan prinsip fisika tuas. Tengkorak ikan berfungsi sebagai titik tumpu (fulcrum) yang stabil, satu-satunya bagian yang benar-benar kaku. Sementara itu, tulang belakang bertindak sebagai tuas yang fleksibel.

Ligamen menyatukan serangkaian tulang belakang ini, namun tidak terlalu kencang. Hal ini memungkinkan sedikit gerakan ke samping di antara setiap pasang tulang. Akibatnya, seluruh tulang belakang menjadi fleksibel, memungkinkan gerakan menggelombang dari kepala ke ekor yang menghasilkan gaya dorong.

Mesin Ganda: Otot Merah dan Putih

Sementara tulang menyediakan kerangka gerak, ototlah yang menyuplai tenaga. Seekor ikan memiliki ratusan otot yang membungkus tubuhnya. Menariknya, ikan memiliki dua jenis “mesin” atau otot yang berbeda fungsi.

Baca Juga :  Grand Banks: Kisah Ladang Ikan Terkaya Dunia yang Hancur

Sebagian besar tubuh ikan terdiri dari “otot putih”. Otot ini memiliki suplai darah yang buruk dan sedikit cadangan energi. Sebaliknya, area kecil di akar sirip dan sepanjang sisi tubuh terdiri dari “otot merah”. Otot merah ini kaya akan darah, lemak, dan glikogen.

Ikan menggunakan otot merah untuk berenang santai sehari-hari. Namun, saat bahaya mengancam—misalnya serangan predator—ikan akan mengaktifkan otot putih. Otot ini berfungsi sebagai “paket tenaga tambahan” raksasa yang memungkinkan ledakan kecepatan tinggi dalam waktu singkat untuk melarikan diri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sirip: Kemudi dan Penyeimbang

Banyak orang salah mengira bahwa sirip adalah alat penggerak utama. Padahal, gerakan renang utama justru berasal dari seluruh tubuh yang berotot. Sirip ekor memang menyumbang hingga 40 persen gaya dorong maju, tetapi fungsi utama sirip lainnya adalah stabilitas dan kontrol arah.

Baca Juga :  Bisakah Cacing Membantu Mengatasi Alergi Manusia?

Sirip punggung (dorsal) dan perut (anal) mengontrol gerakan mengguling (rolling) dan membelok (yawing). Sementara itu, sirip dada (pectoral) dan panggul (pelvic) bertindak layaknya sayap pesawat (hydroplanes). Sirip-sirip ini mengontrol ketinggian (pitch), memungkinkan ikan menukik ke bawah atau melesat ke atas, serta berfungsi sebagai rem untuk berhenti.

Kategori Perenang: Dari Penyelundup hingga Pelari Cepat

Kecepatan ikan di alam liar sering kali mengejutkan. Ikan layar (sailfish) memegang rekor sebagai spesies tercepat jarak pendek, mampu melesat hingga 68 mil per jam (mph). Tuna menyusul dengan kecepatan jelajah tinggi, sementara ikan kecil umumnya tidak melebihi 2-3 mph.

Berdasarkan performanya, ilmuwan mengategorikan ikan ke dalam empat grup. Pertama, “sneakers” atau penyelundup seperti belut yang lambat tapi punya daya tahan. Kedua, “stayers” yang mampu berenang cepat dalam waktu lama. Ketiga, “sprinters” atau pelari cepat seperti ikan pike yang mengandalkan ledakan energi. Terakhir, “crawlers” atau perayap yang bergerak lamban seperti ikan bream.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam
Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?
Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer
Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global
Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21
Mengapa Isu Perubahan Iklim Menjadi Alat Tawar Politik Baru?
Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam
ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 15:11 WIB

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Senin, 23 Maret 2026 - 14:22 WIB

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Maret 2026 - 13:23 WIB

Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Senin, 23 Maret 2026 - 12:20 WIB

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Maret 2026 - 11:12 WIB

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Berita Terbaru

Lebih dari sekadar emisi. Perspektif Teori Kritis memandang krisis iklim sebagai manifestasi ketidakadilan sejarah, di mana negara berkembang menanggung beban bencana atas kemakmuran yang dinikmati negara maju. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Mar 2026 - 14:22 WIB

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

INTERNASIONAL

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Mar 2026 - 12:20 WIB

Perebutan urat nadi kehidupan. Geopolitik air kini menjadi medan tempur baru bagi negara-negara yang bersaing memperebutkan kedaulatan sumber daya di tengah ancaman kekeringan global 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Senin, 23 Mar 2026 - 11:12 WIB