Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konfrontasi hukum internasional. Senator Ronald

Konfrontasi hukum internasional. Senator Ronald "Bato" dela Rosa bersumpah melawan upaya ekstradisi ke Den Haag setelah ICC membuka segel surat perintah penangkapan atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan selama perang narkoba era Duterte. Dok: Istimewa.

MANILA, POSNEWS.CO.ID – Senator Filipina Ronald dela Rosa menegaskan perlawanan keras terhadap otoritas hukum internasional. Dela Rosa menyatakan tidak akan pernah bersedia menyerahkan diri kepada “pihak asing” guna mempertanggungjawabkan perannya dalam kampanye berdarah anti-narkotika beberapa tahun silam.

“Jika saya memiliki sesuatu untuk dijawab, saya akan menghadapinya di pengadilan lokal kita dan bukan di hadapan orang asing,” tegas dela Rosa kepada wartawan di gedung Senat pada hari Selasa. Saat ini, Senat Filipina menempatkan dela Rosa dalam “tahanan perlindungan” setelah ia muncul kembali pasca-absen selama beberapa bulan.

Detail Dakwaan: Pembunuhan 32 Warga

Pengadilan global di Den Haag merilis dokumen yang menunjukkan bahwa surat perintah penangkapan tersebut sebenarnya telah terbit sejak November lalu. Dokumen tersebut mendakwa dela Rosa dengan kejahatan terhadap kemanusiaan, khususnya pembunuhan terhadap “tidak kurang dari 32 orang”.

Rangkaian pembunuhan tersebut dilaporkan terjadi antara Juli 2016 hingga akhir April 2018. Pada periode tersebut, dela Rosa menjabat sebagai Kepala Polisi Nasional yang menjadi ujung tombak kebijakan Presiden Rodrigo Duterte. Penyelidik internasional menemukan bukti kuat adanya pola sistematis dalam eksekusi tersangka narkoba yang sebagian besar berasal dari kalangan ekonomi rendah.

Baca Juga :  Kapsul Artemis II Mendarat Sempurna Setelah Jelajahi Sisi Jauh Bulan

Jejak Loyalitas dan Pembelaan Diri

Dela Rosa merupakan sekutu setia Rodrigo Duterte sejak masa jabatan Duterte sebagai Wali Kota Davao. Setelah memenangkan kursi kepresidenan pada 2016, Duterte menunjuk dela Rosa guna memimpin kepolisian nasional dalam perang melawan narkoba yang menewaskan ribuan orang.

Menanggapi besarnya jumlah korban jiwa, dela Rosa berkilah bahwa tindakan kepolisian bersifat defensif. “Peran saya adalah memimpin perang melawan narkoba, dan perang itu tidak bertujuan untuk memusnahkan orang,” ujarnya. Ia bersikeras bahwa petugas kepolisian hanya membela diri saat nyawa mereka terancam oleh para tersangka.

Dilema Kedaulatan: Akankah Manila Menyerah?

Situasi hukum dela Rosa kini bergantung pada keputusan Presiden Ferdinand Marcos Jr. Meskipun Duterte telah menarik Filipina keluar dari keanggotaan ICC pada 2019, pengadilan tersebut tetap memegang yurisdiksi atas kejahatan yang terjadi saat negara itu masih menjadi anggota.

Baca Juga :  Satu Keluarga Ditemukan Tewas di Tanjung Priok, 3 Meninggal Satu Kritis Dirawat di RS Koja

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sinyal dari pemerintah pusat menunjukkan sikap yang lebih kooperatif terhadap Den Haag. Deputi Komunikasi Claire Castro menyatakan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan semua pihak yang bertanggung jawab mendapatkan hukuman. Castro juga menekankan bahwa dela Rosa tidak memiliki hak kekebalan dari penangkapan karena dakwaan yang ia hadapi bersifat sangat serius.

Bayang-Bayang Den Haag di Manila

Saat ini, kepolisian Filipina telah mengerahkan hampir 350 personel di luar gedung Senat. Meskipun otoritas mengeklaim pengerahan tersebut hanya untuk menjaga ketertiban, langkah ini memicu kekhawatiran dari faksi pendukung dela Rosa akan adanya upaya penangkapan paksa.

Singkatnya, nasib dela Rosa menjadi barometer penting bagi penegakan hak asasi manusia di Asia Tenggara pada tahun 2026. Masyarakat internasional kini memantau apakah Manila akan mengikuti preseden penangkapan Duterte tahun lalu, ataukah kedaulatan domestik akan menjadi tameng bagi sang mantan jenderal polisi tersebut.

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan
Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI
Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar
Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik
Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih
Kemlu RI Update Tragedi Kapal WNI di Malaysia: 23 Selamat, Pencarian Masih Berlanjut
KemenHAM–BNNP DKI Kolaborasi Tangani Narkoba di Manggarai, Perkuat Program Kampung REDAM
BMKG Prediksi Hujan Guyur Jabodetabek Saat Libur Kenaikan Yesus Kristus

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:22 WIB

ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:45 WIB

Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:41 WIB

Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Berita Terbaru

Konfrontasi hukum internasional. Senator Ronald

INTERNASIONAL

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

Konfrontasi para titan. CEO OpenAI Sam Altman memberikan kesaksian panas di pengadilan, mengungkap ambisi kontrol absolut Elon Musk yang menjadi pemicu keretakan hubungan di raksasa kecerdasan buatan tersebut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:45 WIB

Sidang darurat anggaran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menghadapi tekanan dari kedua partai terkait pembengkakan biaya perang di Iran dan dampaknya terhadap kesiapan militer AS dalam menghadapi potensi konflik global lainnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:41 WIB

Guncangan otoritas kesehatan. Kepala FDA Marty Makary mengundurkan diri setelah setahun menjabat, meninggalkan lembaga tersebut dalam ketidakpastian di tengah perselisihan mengenai kebijakan rokok elektrik dan tinjauan obat-obatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB