Thomas Young: Pria Terakhir yang Tahu Segalanya

Selasa, 6 Januari 2026 - 08:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dari teori gelombang cahaya hingga memecahkan kode Batu Rosetta, Thomas Young membuktikan bahwa otak manusia tak memiliki batas spesialisasi. Dok: Istimewa.

Dari teori gelombang cahaya hingga memecahkan kode Batu Rosetta, Thomas Young membuktikan bahwa otak manusia tak memiliki batas spesialisasi. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Thomas Young menyumbangkan 63 artikel untuk Encyclopedia Britannica. Ia menulis entri biografi ilmuwan, esai mendalam tentang jembatan, pasang surut air laut, hingga linguistik. Kemampuannya menulis secara otoritatif di begitu banyak subjek memicu perdebatan sejarah: apakah ia seorang polymath (ahli berbagai bidang), jenius, atau sekadar dilettante (peminat amatir)?

Dalam biografi barunya yang ambisius, penulis Andrew Robinson mengajukan argumen kuat. Ia menyebut Young sebagai kandidat terbaik untuk epitaf “pria terakhir yang tahu segalanya” (the last man who knew everything).

Kejeniusan Sejak Usia Dini

Lahir pada 1773 di Somerset, Inggris, Young telah melahap buku sejak usia dua tahun. Faktanya, ia menguasai bahasa Latin, Yunani, dan matematika atas inisiatif sendiri saat masih kanak-kanak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemudian, ia memilih jalur kedokteran mengikuti jejak paman ibunya, Richard Brocklesby. Setelah menempuh pendidikan di London, Edinburgh, Gottingen, dan Cambridge, Young membuka praktik dokter di London pada 1808. Ia bahkan menjabat sebagai dokter di Rumah Sakit St. George.

Baca Juga :  Hak Konsumen Dijamin, Kemendag Awasi Penanganan Gangguan Listrik PLN

Namun, keahliannya sebagai dokter tidak sebanding dengan kecemerlangannya sebagai sarjana filsafat alam.

Revolusi Optik dan Mata Manusia

Kejeniusan Young bersinar paling terang di dunia sains. Pada usia 20 tahun, ia mempresentasikan makalah pertamanya di Royal Society London. Hanya seminggu setelah ulang tahunnya yang ke-21, para anggota memilihnya sebagai Rekan (Fellow).

Dalam makalah tersebut, Young menjelaskan proses akomodasi mata manusia. Ia menghipotesiskan bahwa mata fokus pada objek dalam jarak berbeda melalui perubahan bentuk lensa.

Tak berhenti di situ, Young juga mengajukan teori bahwa cahaya merambat dalam bentuk gelombang. Ia meyakini bahwa retina mata memiliki tiga reseptor untuk merespons tiga warna utama: merah, hijau, dan ungu. Sains modern akhirnya membuktikan bahwa semua hipotesis liarnya tersebut benar adanya.

Memecahkan Kode Mesir Kuno

Di usia 40-an, Young beralih ke tantangan baru yang jauh dari laboratorium fisika. Ia berperan instrumental dalam memecahkan kode Batu Rosetta yang ditemukan tentara Napoleon di Mesir.

Baca Juga :  TikTokifikasi Musik: Ketika Lagu Diciptakan Hanya untuk Potongan 15 Detik

Batu tersebut memuat teks dalam tiga alfabet: Yunani, hieroglif, dan skrip tak dikenal. Ternyata, Young berhasil mendeduksi bahwa skrip tak dikenal tersebut (kini kita sebut demotik) berhubungan langsung dengan hieroglif. Temuan awalnya ini muncul dalam entri Britannica tentang Mesir.

Selain itu, ia juga menciptakan istilah “Indo-Eropa” untuk menggambarkan rumpun bahasa yang mendominasi Eropa dan India utara.

Warisan yang Melampaui Zaman

Meskipun ia memberikan hingga 60 kuliah setahun di Royal Institution dan menjabat sekretaris Royal Society hingga akhir hayatnya, kehidupan pribadi Young relatif tenang. Ia menikah dengan Eliza Maxwell pada 1804 dalam pernikahan yang bahagia.

Andrew Robinson bertujuan memperkenalkan sosok Young kepada khalayak non-sains. Memang, beberapa sejarawan mungkin melihatnya sebagai orang yang hanya tahu sedikit tentang banyak hal. Akan tetapi, biografi ini menegaskan bahwa Young bukanlah sekadar penikmat ilmu. Ia adalah seorang pionir yang meletakkan dasar bagi banyak disiplin ilmu modern, menjadikannya layak menyandang gelar jenius universal.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Erin Patterson Ajukan Banding atas Vonis Kasus Pembunuhan
Gempa 7,7 SR Guncang Indonesia Timur, 20 Orang Tewas
Trump Tepis Kekhawatiran soal Kondisi Kesehatan Mental
Trump Ancam Jadikan Selat Hormuz sebagai Wilayah AS
Gedung Putih Ungkap Kerugian Pajak Rp310-425 Triliun
USS George Washington Menuju Timur Tengah di Tengah
Lebih dari 110.000 Warga Kanada Tanda Tangani Petisi
Iran Klaim Kendali Penuh atas Selat Hormuz, Bantah Klaim Trump

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Erin Patterson Ajukan Banding atas Vonis Kasus Pembunuhan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Gempa 7,7 SR Guncang Indonesia Timur, 20 Orang Tewas

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:19 WIB

Trump Tepis Kekhawatiran soal Kondisi Kesehatan Mental

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 11:08 WIB

Trump Ancam Jadikan Selat Hormuz sebagai Wilayah AS

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:30 WIB

Gedung Putih Ungkap Kerugian Pajak Rp310-425 Triliun

Berita Terbaru

Erin Patterson, terpidana kasus pembunuhan tiga orang lewat jamur beracun yang menghebohkan dunia, mengajukan banding atas vonisnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Erin Patterson Ajukan Banding atas Vonis Kasus Pembunuhan

Selasa, 18 Agu 2026 - 06:29 WIB

Tim Jibom Polda Metro Jaya mengevakuasi granat aktif di Tambun Selatan Bekasi. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Pemulung Temukan Granat Militer Aktif di Tambun Selatan Bekasi

Selasa, 18 Agu 2026 - 06:26 WIB

Ilustrasi, Cuaca cerah Jakarta dan Jabodetabek Selasa 18 Agustus 2026. (Posnews/iStock)

JABODETABEK

Cuaca Jakarta dan Jabodetabek Hari Ini, Selasa 18 Agustus 2026

Selasa, 18 Agu 2026 - 06:08 WIB