Mengapa Masalah Dunia Berlari Lebih Cepat dari Solusi Kita?

Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kita punya internet dan AI, tapi mengapa krisis iklim dan politik makin tak terkendali? Jawabannya: kita kekurangan

Ilustrasi, Kita punya internet dan AI, tapi mengapa krisis iklim dan politik makin tak terkendali? Jawabannya: kita kekurangan "kecerdasan sosial". Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Saat kita mendengar kata “kecerdasan” atau ingenuity, pikiran kita biasanya melayang ke gadget canggih, komputer super, atau tanaman tahan kekeringan. Namun, definisi itu terlalu sempit. Kecerdasan sejati, dalam konteks keberlangsungan peradaban, lebih fundamental dari sekadar teknologi: ia adalah ide untuk institusi yang lebih baik, pasar yang efisien, dan pemerintahan yang kompeten.

Dunia kini menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan bertahap selama satu abad terakhir—mulai dari ledakan populasi hingga konsumsi sumber daya—telah terakumulasi menciptakan dunia baru yang menakutkan secara kualitatif.

Akibatnya, kita hidup dalam realitas yang padat dan intens. Interaksi antarmanusia meningkat tajam, beban lingkungan membengkak, dan kekuatan bergeser dari negara ke faksi-faksi kecil.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jebakan Kompleksitas

Masalahnya bukan pada ketiadaan ide, melainkan pada kecepatan. Saat ini, para pemimpin politik dan kita semua harus menghadapi keadaan yang jauh lebih kompleks, mendesak, dan sering kali tidak terprediksi.

Baca Juga :  Demam AI Global Menggila, Ekspor Korea Selatan Tembus Rekor

Kita terus meningkatkan kinerja sistem—mulai dari mobil hingga jaringan keuangan global—yang secara otomatis membuatnya makin rumit. Sistem alam seperti iklim sudah sangat kompleks sejak awal. Kini, saat kita membebani sistem buatan manusia dan alam sekaligus, perilaku sistem tersebut bisa berubah drastis (flip) dari satu mode ke mode lain secara tiba-tiba.

Sayangnya, otak manusia memiliki batas. Dalam banyak kasus, kecepatan operasi sistem ekonomi dan ekologi vital hari ini telah melampaui daya tangkap kita. Kita dikepung oleh “unknown unknowns”—hal-hal yang bahkan tidak kita sadari bahwa kita tidak tahu.

Pasokan vs Permintaan Ide

Kabar baiknya, urbanisasi dan teknologi komunikasi telah memacu pasokan ide baru secara masif. Akan tetapi, ada sebuah “tapi” yang kritis: pasokan kecerdasan tidak selalu meningkat seirama dengan kebutuhan kita.

Hanya karena kebutuhan adalah ibu dari penemuan (necessity is the mother of invention), tidak berarti solusi yang tepat akan selalu muncul saat kita butuhkan. Ada jeda waktu yang berbahaya.

Baca Juga :  Trump Puji Kemenangan Telak Takaichi dan Siapkan Kunjungan ke Tiongkok

Faktanya, banjir informasi justru memperpendek rentang perhatian kita. Alih-alih memperkuat demokrasi, teknologi komunikasi terkadang membuat argumen kebijakan menjadi dangkal karena kita tidak punya waktu untuk merenung.

Sains Sosial yang Tertinggal

Pasar dan sains adalah mesin utama pemasok inovasi. Pasar memberikan insentif bagi pengusaha, sementara sains menembus batas pengetahuan. Namun, kendala praktis tetap ada. Biaya riset sains makin mahal saat menggali alam lebih dalam.

Yang paling mengkhawatirkan adalah lambatnya kemajuan dalam ilmu sosial. Padahal, kita sangat membutuhkan pengetahuan sosial ilmiah untuk membangun institusi canggih yang mampu mengelola perebutan kekayaan dan kekuasaan di era ini.

Tanpa “kecerdasan sosial” ini, teknologi canggih saja tidak akan cukup menyelamatkan kita dari kompleksitas yang kita ciptakan sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang
Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi
Donald Trump Desak Rusia Akhiri Perang Pasca-Pertemuan
Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen
Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo
Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital
Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:01 WIB

Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America

Rabu, 17 Juni 2026 - 09:54 WIB

Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:49 WIB

Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:46 WIB

Donald Trump Desak Rusia Akhiri Perang Pasca-Pertemuan

Selasa, 16 Juni 2026 - 18:14 WIB

Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen

Berita Terbaru

Menghalau senapan mesin siber. SoftBank dan OpenAI meluncurkan layanan keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) guna melindungi sistem infrastruktur vital Jepang. Dok: (AP Photo/Hiro Komae)

TEKNOLOGI

Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Rabu, 17 Jun 2026 - 09:54 WIB

Menyambut perubahan zaman. CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan pentingnya adaptasi teknologi kecerdasan buatan (AI) di tengah kekhawatiran krisis energi nasional. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi

Rabu, 17 Jun 2026 - 08:49 WIB