Asia Siap Jadi Raksasa Baru dalam Perlombaan Luar Angkasa

Minggu, 11 Januari 2026 - 13:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Langkah menuju Mars. Empat astronot misi Crew-12 NASA resmi memulai misi sains delapan bulan di ISS guna menguji teknologi medis dan ketahanan pangan di luar angkasa. Dok: Istimewa.

Langkah menuju Mars. Empat astronot misi Crew-12 NASA resmi memulai misi sains delapan bulan di ISS guna menguji teknologi medis dan ketahanan pangan di luar angkasa. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perlombaan menuju bintang bukan lagi sekadar duel ego antara Amerika Serikat dan Rusia. Sejak peluncuran satelit Sputnik pada 1957, teknologi antariksa identik dengan anggaran raksasa dan dominasi negara adidaya. Namun, peta kekuatan di orbit bumi kini berubah drastis.

Eropa, Jepang, China, dan India dengan cepat menerobos masuk ke dalam “klub eksklusif” ini. Kini, dengan munculnya teknologi satelit mikro berkinerja tinggi namun berbiaya rendah, negara-negara kecil di Asia pun mulai bermimpi—dan beraksi—untuk memiliki kemampuan antariksa mandiri.

Faktanya, ambisi ini bukanlah hal baru bagi Asia. Teknologi roket sebenarnya berakar dari “panah api” (tabung bambu berisi bubuk mesiu) yang China gunakan sekitar 500 SM dan saat menghalau penjajah Mongol pada 1232 M.

Kontras dengan masa lalu yang sederhana itu, roket “Long March” China hari ini adalah simbol kecanggihan yang siap menempatkan astronaut di orbit dan membidik pendaratan di bulan.

Tiga Raksasa dan Pengejar Baru

Saat ini, tiga negara Asia—Jepang, China, dan India—telah memiliki kemampuan antariksa “hulu ke hilir” yang komprehensif. Mereka memiliki infrastruktur lengkap: mulai dari teknologi, manufaktur satelit, roket peluncur, hingga pelabuhan antariksa (spaceports) sendiri.

Baca Juga :  Tawuran Berdarah Antar-Remaja di Cipinang Besar Utara, Satu Orang Luka Bacok

Sementara itu, Korea Selatan yang sudah mandiri dalam desain satelit kini berambisi menyusul dengan membangun situs peluncuran sendiri. Tidak mau ketinggalan, negara-negara di perbatasan subbenua India seperti Pakistan dan Bangladesh juga mulai merintis program serupa.

ASEAN: Mata di Langit untuk Bencana

Di Asia Tenggara, dorongan ke luar angkasa bukan soal gengsi, melainkan kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup. Kawasan ini menderita serangkaian masalah lingkungan berskala besar: badai, banjir, kebakaran hutan, hingga gagal panen.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh karena itu, aplikasi antariksa yang paling diminati di sini adalah “penginderaan jauh” (remote sensing). Satelit yang dilengkapi instrumen fotografi canggih ini memberikan data vital untuk manajemen bencana dan pemetaan penggunaan lahan.

Meskipun anggota ASEAN belum memiliki satelit penginderaan jauh sendiri sekelas Jepang atau India, mereka telah membangun fasilitas kelas dunia untuk memproses data dari satelit asing. Thailand, Malaysia, dan Singapura memimpin dalam fasilitas pemrosesan ini, sementara ASEAN kini merencanakan pengembangan satelit milik blok tersebut.

Baca Juga :  China-Kanada Mesra Lagi: Li Qiang dan Mark Carney Sepakati Kerja Sama Energi

Revolusi Satelit Murah

Perubahan fundamental sedang terjadi di lantai produksi. Jika dahulu pembuatan satelit memakan biaya astronomis dan waktu lama, kini muncul tren “satelit kecil” (small satellites).

Adopsi cepat teknologi ini memungkinkan negara-negara Asia memangkas kurva pembelajaran hingga satu dekade atau lebih. Selain itu, penggunaan komponen komersial yang tersedia luas untuk menggantikan komponen standar militer yang mahal menjadikan industri manufaktur satelit Asia sangat kompetitif.

Hukum fisika mungkin sama di Tokyo maupun di Toulouse. Akan tetapi, praktik manajemen dan budaya insinyur sangat memengaruhi biaya dan desain. Banyak negara Asia kini mengirim insinyur mereka untuk berlatih di Barat.

Saat mereka kembali dengan keahlian teknis dan memadukannya dengan teknik manufaktur Jepang yang disiplin, Asia berpotensi memproduksi satelit kelas dunia dengan biaya yang jauh lebih efisien, mengubah wajah industri antariksa global selamanya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jakarta Gelar Car Free Night dan Pawai Obor Raksasa Saat Malam Takbiran
Polisi Sita 86 CCTV Kasus Aktivis KontraS Andrie Yunus, Ribuan Rekaman Dibedah
Diskotek di Denpasar Jadi Sarang Ekstasi, Bareskrim Polri Amankan Ratusan Pil XTC
Kapolri Cek Kesiapan Arus Mudik di Tol Kalikangkung, Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Nasional
BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Jawa Barat Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering
Polisi Ungkap Jejak Empat Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS di Jakarta
Malam Takbiran 2026 di Depok Tanpa Takbir Keliling, Ini Imbauan Wali Kota
Bareskrim Bongkar Tambang Nikel Ilegal di Konawe Utara, 2 Bos Perusahaan Jadi Tersangka

Berita Terkait

Senin, 16 Maret 2026 - 22:02 WIB

Jakarta Gelar Car Free Night dan Pawai Obor Raksasa Saat Malam Takbiran

Senin, 16 Maret 2026 - 21:47 WIB

Polisi Sita 86 CCTV Kasus Aktivis KontraS Andrie Yunus, Ribuan Rekaman Dibedah

Senin, 16 Maret 2026 - 20:48 WIB

Diskotek di Denpasar Jadi Sarang Ekstasi, Bareskrim Polri Amankan Ratusan Pil XTC

Senin, 16 Maret 2026 - 17:54 WIB

Kapolri Cek Kesiapan Arus Mudik di Tol Kalikangkung, Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Nasional

Senin, 16 Maret 2026 - 17:34 WIB

BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Jawa Barat Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

Berita Terbaru