TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat secara agresif memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Washington mengambil langkah strategis ini di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Akibatnya, kekhawatiran akan konflik terbuka yang lebih luas pun kian memuncak.
Laporan mengonfirmasi pergerakan masif aset tempur udara AS. Lebih dari selusin jet tempur F-15E Strike Eagle bertolak dari Inggris pada 18 Januari menuju Timur Tengah. Pesawat angkut raksasa C-17 Globemaster III turut mendampingi pergerakan tersebut. Selanjutnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) secara resmi mengonfirmasi penempatan pesawat-pesawat tersebut pada 20 Januari.
Data pelacakan penerbangan sumber terbuka menunjukkan konsentrasi kekuatan yang menakutkan: tiga skuadron F-15E kini telah bersiaga di kawasan tersebut. Selain itu, Pentagon juga berencana segera mengirim jet tempur F-16 dan pesawat serang darat legendaris A-10 Thunderbolt II.
USS Abraham Lincoln Bergerak dalam Mode “Siluman”
Di lautan, manuver militer AS tak kalah serius. Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln terus bergerak mendekati wilayah konflik.
Mengutip data pelacakan maritim pada 20 Januari, pejabat AS mengungkapkan detail menarik. Armada tersebut ternyata telah transit di Selat Malaka dengan mematikan transponder mereka. Mode “senyap” ini sering kali menjadi sinyal kesiapsiagaan operasi tempur tingkat tinggi.
Iran: “Kami Siap Membalas”
Di sisi lain, Teheran merespons pengerahan kekuatan ini pada hari Rabu (21/1). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, segera mengeluarkan peringatan keras.
“Kami akan membalas setiap serangan baru terhadap Iran dengan respons yang tegas,” ancam Araghchi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski demikian, ia tetap membuka celah diplomasi. Araghchi menekankan bahwa Teheran tetap terbuka untuk mencapai kesepakatan yang adil. Oleh karena itu, ia menyerukan Washington untuk terlibat dengan Iran atas dasar rasa saling menghormati.
Tragedi Berdarah di Dalam Negeri
Sementara ancaman eksternal meningkat, Iran juga tengah berdarah-darah di dalam negeri. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran merilis data yang mengejutkan melalui penyiar negara pada hari Rabu.
Kerusuhan yang meletus antara 30 Desember hingga 7 Januari telah menelan korban jiwa sebanyak 3.117 orang. Angka mengerikan ini mencakup 2.427 warga sipil dan personel penegak hukum.
Otoritas Iran menyalahkan “pemimpin kerusuhan yang terorganisir”. Mereka menuduh kelompok ini mengubah protes damai—yang bermula akibat kenaikan harga dan depresiasi mata uang—menjadi tindakan kekerasan. Lebih lanjut, mereka menuduh “teroris” menggunakan senjata api secara luas.
Laporan di lapangan menunjukkan kerusakan infrastruktur yang sangat masif. Pasar, toko, bank, masjid, fasilitas medis, hingga sistem transportasi umum hancur di berbagai kota.
Sehubungan dengan itu, pejabat Iran berulang kali menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan ini. Menlu Araghchi, dalam opini terbarunya di The Wall Street Journal, membela keputusan pemerintah membatasi akses internet selama protes. Ia berargumen bahwa pemerintah perlu mengambil langkah itu untuk mencegah eskalasi lebih lanjut akibat keterlibatan teroris asing dan domestik.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















