Tupperware: Dari Pesta Ibu-Ibu Amerika 1950-an

Sabtu, 31 Januari 2026 - 17:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ikon plastik ini pernah merajai dapur Barat lewat

Ilustrasi, Ikon plastik ini pernah merajai dapur Barat lewat "Tupperware Party". Kini, di saat penjualan AS meredup, masa depannya justru bergantung pada kelas menengah baru di Asia. Dok: Unsplash/Kate Trifo.

FLORIDA, POSNEWS.CO.ID – Buka lemari dapur siapa pun, dari Andorra hingga Zimbabwe, dan kemungkinan besar Anda akan menemukan benda itu: wadah plastik warna-warni yang ikonik. Tupperware bukan sekadar tempat makan; ia adalah fenomena global.

Bagi banyak orang di negara maju, nama ini membawa nostalgia tahun 1950-an. Era di mana nenek-nenek berkumpul di ruang tamu, menggelar “Pesta Tupperware” sambil bergosip dan bertukar resep.

Namun, zaman berubah. Sementara model “pesta” tradisional mulai ditinggalkan di Barat, Tupperware menemukan nyawa baru di Timur. Sejak tahun 2000, waralaba Tupperware justru tumbuh lebih subur di China daripada di tempat lain mana pun di dunia.

“Hundred Benefits”: Wajah Baru di China

Di Hangzhou, salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di China, toko bernama “Hundred Benefits” (Seratus Manfaat) menjadi simbol revolusi ini.

Terletak di kawasan elit, toko ini tidak dipenuhi ibu rumah tangga, melainkan anak muda usia 20-an. Mereka adalah generasi baru yang optimis, memiliki pendapatan lebih, dan sedang membangun “sarang” impian mereka.

Mengapa Tupperware laku keras di sana? Jawabannya adalah adaptasi budaya. Selain fungsional—tahan microwave, bisa masuk freezer, dan antiberantakan—Tupperware di China tampil beda.

Mereka memproduksi rantang makan siang tradisional empat susun, namun dengan sentuhan modern warna-warni yang “seksi”. Ini adalah simbol status baru bagi kelas menengah urban yang ruang hidupnya kini dua kali lebih luas dibanding generasi sebelumnya.

Baca Juga :  Thailand Bantah Gencatan Senjata: Perang Lanjut Meski Trump Klaim Damai Tercapai

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah: Earl Tupper dan Segel Ajaib

Kisah ini bermula pada 1938, ketika orang Amerika bernama Earl Tupper menemukan formula plastik khusus. Inovasi utamanya—tutup kedap udara yang menjaga kesegaran—datang kemudian.

Perusahaan ini berdiri pada 1946 dan menikmati kejayaan selama lebih dari 40 tahun. Namun, nasibnya belakangan tidak menentu. Tupperware Brands Corporation telah dijual beberapa kali, dan prospek yang menurun di pasar Amerika sempat memicu isu penjualan kembali oleh induk perusahaannya.

Dilema “Pesta” Piramida

Salah satu kunci sukses—sekaligus kontroversi—Tupperware adalah model penjualannya. Hingga 1990-an, mereka bergantung total pada model piramida (pyramid sales).

Sistemnya sederhana: Anda membeli dari teman, teman Anda mendapat komisi. Jika Anda merekrut penjual baru, Anda mendapat potongan dari penjualan mereka. Ini memungkinkan wanita mendapatkan penghasilan mandiri tanpa harus bekerja kantoran.

Namun, model ini punya sisi gelap sosial. “Apakah saya diundang makan malam ke rumah Alison karena dia ingin berteman, atau karena dia ingin menjual gelas takar?” Pertanyaan etis semacam ini membuat model pesta kehilangan pamor di Inggris, Jerman, dan Australia.

Baca Juga :  Zelenskyy Tuding Rusia Langgar Janji ke Trump

Di China, model piramida ini bahkan dilarang keras, memaksa Tupperware beralih ke sistem toko ritel dan waralaba yang ternyata justru sukses besar.

Feminis atau Domestikasi?

Peran Tupperware bagi wanita pasca-Perang Dunia II juga memicu perdebatan sengit.

Saat para pria pulang perang, wanita yang sebelumnya bekerja di pabrik kembali ke rumah. Sebagian feminis mengkritik Tupperware karena melanggengkan citra wanita yang “terkurung di dapur”.

Namun, pandangan lain membela. Model penjualan langsung ini justru memberi otonomi finansial bagi ibu rumah tangga atau wanita hamil yang tidak bisa bekerja penuh waktu di luar rumah. Itu adalah bentuk pemberdayaan awal yang nyata.

Kini, Tupperware berusaha menjembatani kedua dunia. Di AS, program “Chain of Confidence” memperkuat solidaritas wanita dan menyumbang jutaan dolar untuk amal.

Masa depan wadah plastik cantik ini masih belum pasti. Apakah ia akan berakhir sebagai relik masa lalu seperti peti kayu teh, ataukah konsumen China yang antusias dan strategi digital baru akan menyelamatkannya? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Brimob Gagalkan Tawuran di Bekasi, 2 Remaja Ditangkap
Perantau Kejar Mimpi di Jakarta: Kisah Hasibuan, Ojol Ekspedisi Ingin Jadi Atlet Muay Thai
CCTV Gedung Wajib Terkoneksi Pemprov DKI, Jakarta Menuju Kota Terintegrasi
Kuba Bebaskan 2.010 Tahanan di Tengah Tekanan Blokade Minyak AS
72 Siswa Keracunan MBG di Duren Sawit Jaktim, Spageti Diduga Penyebab
Peringatan Jumat Agung di Colosseum: Paus Leo Ingatkan Pemimpin Dunia soal Pertanggungjawaban Kekuasaan
Misteri Kematian al-Mousawi: Bahrain Dituding Gunakan Taktik Represi Arab Spring di Tengah Perang Iran
Banjir Jakarta Barat Meluas, 12 RT Terendam – Jalan Utama Ikut Tergenang

Berita Terkait

Sabtu, 4 April 2026 - 16:43 WIB

Brimob Gagalkan Tawuran di Bekasi, 2 Remaja Ditangkap

Sabtu, 4 April 2026 - 16:26 WIB

Perantau Kejar Mimpi di Jakarta: Kisah Hasibuan, Ojol Ekspedisi Ingin Jadi Atlet Muay Thai

Sabtu, 4 April 2026 - 15:26 WIB

CCTV Gedung Wajib Terkoneksi Pemprov DKI, Jakarta Menuju Kota Terintegrasi

Sabtu, 4 April 2026 - 14:42 WIB

Kuba Bebaskan 2.010 Tahanan di Tengah Tekanan Blokade Minyak AS

Sabtu, 4 April 2026 - 13:36 WIB

72 Siswa Keracunan MBG di Duren Sawit Jaktim, Spageti Diduga Penyebab

Berita Terbaru

Brimob Gagalkan Tawuran di Cikarang Bekasi, 2 Remaja Ditangkap. (Posnews/Ist)

HUKRIM

Brimob Gagalkan Tawuran di Bekasi, 2 Remaja Ditangkap

Sabtu, 4 Apr 2026 - 16:43 WIB

Ilustrasi, Momen kebebasan di Havana. Pemerintah Kuba membebaskan ribuan tahanan sebagai

INTERNASIONAL

Kuba Bebaskan 2.010 Tahanan di Tengah Tekanan Blokade Minyak AS

Sabtu, 4 Apr 2026 - 14:42 WIB