MUSCAT, POSNEWS.CO.ID – Pejabat AS dan Iran mengonfirmasi pembicaraan di Muscat, Oman, pada Jumat mendatang. Keputusan ini mengakhiri perselisihan publik selama beberapa hari mengenai lokasi dan agenda pertemuan tersebut.
Menlu Iran, Seyyed Abbas Araghchi, mengumumkan pembicaraan dimulai pukul 10.00 pagi waktu setempat melalui platform X. Selain itu, ia mengapresiasi Oman karena telah memfasilitasi seluruh pengaturan yang diperlukan.
Tekanan Regional dan Pergeseran Lokasi
Media Barat melaporkan bahwa Washington akhirnya menyetujui pertemuan di Muscat. Langkah ini menyusul desakan sembilan negara Timur Tengah kepada pemerintah Trump agar tidak membatalkan pembicaraan. Negara regional khawatir kegagalan diplomasi memicu tindakan militer AS yang melumpuhkan stabilitas kawasan.
Awalnya, kedua pihak merencanakan pertemuan di Istanbul dengan melibatkan pengamat internasional. Namun, Teheran mengusulkan lokasi Oman dan menuntut format bilateral khusus isu nuklir. Perubahan mendadak ini sempat memicu kemarahan Washington. Meski begitu, AS akhirnya menyetujui usul tersebut demi menjaga peluang damai.
Kalkulasi Strategis Iran
Peneliti Li Zixin menilai desakan Iran pindah ke Muscat mencerminkan kalkulasi strategis yang matang. Oman memiliki reputasi kuat sebagai mediator netral. Selain itu, negara ini menjalin persahabatan panjang dengan Teheran maupun Washington.
Li menganggap format bilateral di Oman memberikan lingkungan diplomatik yang lebih terkendali bagi Iran. Teheran juga membatasi agenda hanya pada isu nuklir dan sanksi. Hal ini bertujuan mencegah koordinasi tekanan dari para sekutu AS di meja perundingan. Selain itu, Iran ingin menegaskan bahwa konfrontasi ini murni melibatkan Washington, bukan negara-negara tetangga.
Eskalasi Militer dan Ancaman Trump
Saat menempuh jalur diplomasi, kedua pihak justru meningkatkan persiapan militer secara besar-besaran. AS memperluas kehadiran militer di Timur Tengah. Mereka mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln serta beberapa kapal penghancur rudal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketegangan memuncak saat jet F-35C AS menembak jatuh drone Shahed-139 milik Iran di atas Laut Arab pada Selasa. AS menyebut tindakan tersebut sebagai “pertahanan diri”. Sebaliknya, Iran menyatakan drone tersebut sedang menjalankan misi pengawasan di perairan internasional.
Sebagai respons, IRGC Iran meresmikan pangkalan rudal bawah tanah baru pada Rabu. Mereka secara tegas mengubah doktrin militer dari defensif menjadi ofensif. Presiden Trump pun memperingatkan Ali Khamenei agar “sangat khawatir” melihat pembangunan kekuatan AS di kawasan tersebut.
Agenda yang Bertolak Belakang
Meskipun sepakat bertemu, kedua pihak tetap memiliki agenda yang sangat kontradiktif. Iran bersikeras agar pembicaraan hanya mencakup isu nuklir dan pencabutan sanksi ekonomi. Teheran menegaskan bahwa kemampuan rudal dan aliansi regional bukan merupakan subjek negosiasi.
Sebaliknya, Menlu AS Marco Rubio menuntut negosiasi mencakup program rudal balistik dan pengaruh regional Iran. Ia juga menyoroti dukungan Iran terhadap berbagai organisasi milisi. Sementara itu, Israel mendesak AS agar menuntut penghentian total pengayaan uranium Iran. Perbedaan tajam ini memicu kekhawatiran bahwa perundingan Muscat hanya akan mengulangi kebuntuan lama.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















