Kunjungan Trump ke Beijing: Diplomasi Dagang di Tengah Pukulan Hukum Mahkamah Agung

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tekanan ekonomi maksimum. Presiden Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif 50 persen tanpa pengecualian terhadap negara mana pun yang memasok senjata ke Iran, hanya beberapa jam setelah menyepakati gencatan senjata di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

Tekanan ekonomi maksimum. Presiden Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif 50 persen tanpa pengecualian terhadap negara mana pun yang memasok senjata ke Iran, hanya beberapa jam setelah menyepakati gencatan senjata di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan bertolak ke Tiongkok pada akhir Maret mendatang untuk pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping. Kunjungan ini merupakan perjalanan pertama seorang Presiden AS ke Beijing sejak tahun 2017.

Akan tetapi, pengumuman ini muncul tepat saat Mahkamah Agung Amerika Serikat memberikan pukulan hukum yang telak bagi administrasi Trump. Hakim membatalkan sebagian besar kebijakan tarif yang Trump gunakan dalam perang dagang global, termasuk tarif terhadap produk-produk Tiongkok. Oleh karena itu, Trump kini harus merancang ulang strategi diplomasinya sebelum mendarat di Beijing.

Pukulan Hukum dan Manuver Tarif Global

Mahkamah Agung memutuskan bahwa penggunaan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) untuk memungut tarif 20 persen adalah tindakan inkonstitusional. Alhasil, landasan hukum bagi pajak impor tersebut kini resmi gugur karena dianggap melampaui wewenang eksekutif.

Meskipun begitu, Trump tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Dalam konferensi pers terbaru, ia berencana memberlakukan tarif global baru sebesar 10 persen untuk jangka waktu 150 hari. “Ini akan menjadi kunjungan yang luar biasa,” ujar Trump mengenai perjalanannya ke Tiongkok. Ia menjanjikan sebuah “tampilan terbesar” dalam sejarah hubungan kedua negara guna mempertegas posisi tawar Amerika.

Baca Juga :  Nataru 2026 Diprediksi Padat, Korlantas Polri Siagakan One Way hingga Contraflow

Agenda Ekonomi: Kedelai vs Mineral Kritis

Fokus utama pertemuan di Beijing nantinya mencakup perpanjangan gencatan senjata perdagangan. Selanjutnya, Trump ingin memastikan Tiongkok meningkatkan pembelian kedelai dari Amerika Serikat secara signifikan. Pasalnya, para petani AS merupakan konstituen politik utama bagi Trump yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.

Di sisi lain, Beijing memiliki kartu truf berupa ancaman pemutusan pasokan tanah jarang (rare earths). Tiongkok telah membuktikan efektivitas taktik ini dalam memaksa Washington untuk melonggarkan beberapa kebijakan. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, Trump sudah mulai melunakkan sikapnya terkait ekspor cip komputer canggih dan teknologi drone ke Tiongkok sebagai bagian dari pertukaran konsesi.

Garis Merah Taiwan dan Stabilitas Pasifik

Meskipun diplomasi ekonomi menunjukkan kemajuan, isu kedaulatan Taiwan tetap menjadi ganjalan paling tajam. Pada Februari ini, Presiden Xi Jinping secara eksplisit mengangkat masalah penjualan senjata AS ke Taiwan dalam pembicaraan telepon dengan Trump.

Baca Juga :  Ben Roberts-Smith Ditangkap atas Lima Dakwaan Kejahatan Perang

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai catatan, Washington baru saja menyetujui paket penjualan senjata senilai $11,1 miliar untuk memperkuat pertahanan Taiwan. Tiongkok menganggap langkah ini sebagai campur tangan terhadap urusan internal mereka. Dengan demikian, perundingan di Beijing nanti akan menjadi ujian bagi Trump untuk menyeimbangkan antara dukungan militer bagi Taipei dengan kebutuhan menjaga stabilitas pasar global.

Para analis menilai bahwa kekalahan Trump di pengadilan mungkin membuat posisi tawarnya terlihat lemah di mata pejabat Tiongkok. Namun demikian, Tiongkok cenderung menyukai arah hubungan saat ini yang menghindari eskalasi konflik secara mendadak. Kini, dunia menanti apakah kunjungan “liar” Trump tersebut akan melahirkan tatanan ekonomi baru atau justru memicu konfrontasi babak selanjutnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran
Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung, Terseret Kasus Korupsi Nikel Rp1,5 Miliar
Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok
Bareskrim Bongkar Jaringan Narkoba via Ojol, Lab Vape Etomidate di Jaktim Digerebek
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman RI Langsung Diborgol Kejagung Tersandung Kasus
Sidang Perdana Aktivis Andrie Yunus Digelar 29 April 2026, Publik Soroti Proses Hukum
IEA, IMF, dan Bank Dunia Peringatkan Dampak Destruktif Perang Iran terhadap Ekonomi Dunia
Israel-Lebanon Mulai Negosiasi Langsung Perdana Sejak 1993

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 15:21 WIB

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Kamis, 16 April 2026 - 14:31 WIB

Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung, Terseret Kasus Korupsi Nikel Rp1,5 Miliar

Kamis, 16 April 2026 - 14:13 WIB

Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok

Kamis, 16 April 2026 - 14:02 WIB

Bareskrim Bongkar Jaringan Narkoba via Ojol, Lab Vape Etomidate di Jaktim Digerebek

Kamis, 16 April 2026 - 13:34 WIB

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman RI Langsung Diborgol Kejagung Tersandung Kasus

Berita Terbaru

Mencari kesatuan ekonomi. Para pemimpin keuangan G7 berkumpul di Washington guna menghadapi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global akibat blokade Selat Hormuz yang masih berlanjut di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Kamis, 16 Apr 2026 - 15:21 WIB

Validasi strategi Beijing. Kelumpuhan Selat Hormuz mempercepat transisi energi global ke arah teknologi bersih, memosisikan Tiongkok sebagai penguasa tunggal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok

Kamis, 16 Apr 2026 - 14:13 WIB