WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Dunia kini menghadapi ancaman krisis kemanusiaan dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya tanpa syarat.
Trump menegaskan bahwa militer AS akan menghancurkan berbagai pembangkit listrik Iran jika permintaan tersebut tidak terpenuhi. Penentuan tenggat waktu ini menempatkan pasar global dalam kondisi ketidakpastian tinggi menjelang hari Senin.
Ancaman Balasan: Krisis Air dan Energi di Teluk
Iran segera merespons ancaman Trump dengan peringatan yang mengerikan bagi stabilitas regional. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa infrastruktur vital di Timur Tengah dapat hancur secara permanen. Hal ini berlaku jika Amerika Serikat menyerang jaringan listrik nasional Iran.
Target utama Iran mencakup fasilitas energi, teknologi informasi, hingga pabrik desalinasi air di negara-negara tetangga Teluk. Serangan terhadap fasilitas ini akan berdampak katastrofik karena sebagian besar kota gurun di kawasan tersebut bergantung sepenuhnya pada pemurnian air laut untuk kebutuhan minum.
Serangan Dimona dan Rudal Jarak Jauh 4.000 Km
Ketegangan militer telah mencapai level baru setelah rudal Iran mendarat hanya berjarak 13 kilometer dari reaktor nuklir rahasia Israel di Dimona. Selain itu, sirene peringatan udara terus berbunyi di kota Arad dan Dimona akibat gempuran rudal yang melukai puluhan warga sipil.
Iran juga mendemonstrasikan jangkauan serangannya yang meluas melampaui Timur Tengah. Pada hari Jumat, Teheran menembakkan rudal balistik jarak jauh pertamanya menuju pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia. Meskipun militer AS mengeklaim telah menurunkan kemampuan Iran, peluncuran rudal 4.000 km ini membuktikan kapasitas Teheran masih tetap mengancam.
Perang di Lebanon: Penghancuran Jembatan Litani
Di front kedua, Israel terus mengintensifkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon selatan. Militer Israel memerintahkan percepatan penghancuran rumah-rumah warga di desa-desa garis depan. Langkah ini bertujuan untuk menghentikan ancaman roket yang terus menghujani wilayah utara Israel.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, Israel menghancurkan seluruh jembatan di atas Sungai Litani. Militer mengeklaim jembatan-jembatan tersebut menjadi sarana aktivitas teroris. Akibatnya, lebih dari 1.000 orang tewas di Lebanon dan gelombang pengungsian massal kian tak terkendali. Paus Leo menyampaikan seruan mendesak agar peperangan yang memilukan ini segera berakhir.
Opini Publik dan Dampak Ekonomi Global
Konflik ini mulai menjadi beban politik besar bagi pemerintahan Trump menjelang pemilihan Kongres bulan November mendatang. Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa 59 persen warga Amerika tidak setuju dengan serangan terhadap Iran.
Secara ekonomi, penutupan Selat Hormuz telah memicu krisis minyak terburuk sejak tahun 1970-an. Harga gas di Eropa meroket hingga 35 persen dalam satu pekan terakhir. Jika ultimatum 48 jam ini berujung pada kehancuran fisik infrastruktur energi, analis memperkirakan indeks saham dunia akan terjun bebas pada Senin pagi. Dunia kini menanti dengan cemas berakhirnya hitungan mundur yang dapat mengubah tatanan keamanan global secara permanen.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












