WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran berada dalam titik nadir yang berbahaya pada hari Kamis. Kedua negara menunjukkan sikap kaku terkait syarat gencatan senjata yang memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi militer besar-besaran.
Dalam konteks ini, Presiden Donald Trump mengambil langkah diplomatik dengan memperpanjang masa jeda serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Trump memberikan waktu tambahan selama 10 hari hingga Senin, 6 April 2026, pukul 20.00 waktu setempat.
Uluran Waktu Trump dan “Tol” Selat Hormuz
Trump menyatakan bahwa penundaan ini merupakan tindak lanjut atas permintaan pemerintah Iran. Ia mengeklaim bahwa pembicaraan berjalan sangat baik meskipun media massa menyebut situasi sedang buntu. “Saya memberi mereka periode 10 hari. Mereka meminta tujuh,” ujar Trump dalam program “The Five” di Fox News.
Namun demikian, situasi di lapangan justru menunjukkan pengetatan kontrol oleh pihak Iran. Blok Arab Teluk melaporkan bahwa Iran kini menarik biaya atau “tol” dari setiap kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz secara aman. Oleh karena itu, strategi Iran untuk mencekik ekonomi dunia tetap berjalan meski di bawah ancaman bombardir pembangkit listrik.
Kontradiksi 15 Poin vs 5 Poin Gencatan Senjata
Washington telah menyerahkan daftar 15 poin “rencana aksi” kepada Teheran melalui perantara Pakistan. Utusan khusus Steve Witkoff menyebut dokumen tersebut sebagai kerangka kerja perdamaian yang mungkin. AS menuntut pengakhiran program nuklir dan rudal Iran serta penghentian dukungan terhadap milisi regional.
Sebaliknya, Iran mengajukan proposal tandingan sebanyak 5 poin. Tuntutan Teheran mencakup pembayaran kompensasi perang (reparasi) dan pengakuan kedaulatan mutlak atas Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya sama sekali tidak berencana melakukan negosiasi dengan AS. “Pesan yang dikirim melalui negara lain bukanlah sebuah percakapan apalagi negosiasi,” tegas Araghchi.
Mobilisasi Pasukan: Divisi Airborne ke-82 dan Marinir
Di saat jalur diplomasi dipenuhi hambatan, Pentagon memperkuat kehadiran militer secara masif. Kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa 2.500 personel Marinir kini telah berada sangat dekat dengan Timur Tengah. Selain itu, sedikitnya 1,000 tentara dari Divisi Airborne ke-82 telah mendapatkan perintah untuk segera masuk ke wilayah konflik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasukan lintas udara tersebut memiliki spesialisasi untuk terjun ke wilayah musuh guna mengamankan bandara dan objek vital nasional. Utusan Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahreini, memperingatkan bahwa setiap upaya invasi darat oleh Amerika Serikat dan Israel akan menjadi kesalahan besar. Pada akhirnya, dunia kini menanti apakah jeda 10 hari ini akan membuahkan hasil damai atau justru menjadi tenang sebelum badai pertempuran yang lebih dahsyat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















