MILETUS, POSNEWS.CO.ID – Di pesisir Ionia, lebih dari 2.500 tahun yang lalu, sebuah revolusi pemikiran meletus secara sunyi. Thales, seorang warga kota Miletus, mulai mengajukan pertanyaan yang belum pernah para penyair zaman kuno ajukan sebelumnya. Dalam konteks ini, ia tidak lagi bertanya “dewa mana yang menciptakan kilat?”, melainkan “terbuat dari apa sebenarnya alam semesta ini?”.
Langkah sederhana ini menandai lahirnya filsafat dan sains. Oleh karena itu, Thales bukan sekadar tokoh sejarah, ia adalah titik nol dari rasionalitas manusia yang mendobrak belenggu takhayul demi pencarian kebenaran yang objektif.
Pergeseran Radikal: Dari Mythos ke Logos
Sebelum era Thales, masyarakat Yunani kuno memahami dunia melalui mythos. Setiap fenomena alam, mulai dari gempa bumi hingga pergantian musim, selalu merujuk pada kehendak para dewa di Gunung Olimpus. Namun, Thales menawarkan pendekatan baru yang disebut logos.
Bahkan, ia berusaha mencari penjelasan yang bersifat naturalistik dan universal. Thales menolak gagasan bahwa mood atau emosi para dewa yang tidak menentu menggerakkan dunia. Sebagai hasilnya, ia memperkenalkan ide bahwa alam memiliki keteraturan dan hukum internal yang akal budi manusia dapat pahami. Pergeseran ini menjadi fondasi bagi setiap penemuan ilmiah yang kita nikmati di abad modern saat ini.
Mengapa Air? Mencari Arche di Tengah Kehidupan
Publik mengenal Thales melalui doktrinnya bahwa “air adalah prinsip dasar (arche) dari segala sesuatu”. Meskipun terdengar sederhana bagi telinga modern, argumen ini memiliki kedalaman observasi yang luar biasa pada zamannya. Dalam hal ini, Thales menggunakan logika Monisme, yakni keyakinan bahwa seluruh keragaman benda di dunia berasal dari satu substansi tunggal.
Terdapat beberapa argumen logis mengapa Thales memilih air:
- Faktor Biologis: Thales mengamati bahwa segala bentuk kehidupan membutuhkan kelembapan. Biji-bijian membutuhkan air untuk tumbuh, dan nutrisi makhluk hidup bersifat basah.
- Perubahan Wujud: Air adalah satu-satunya zat yang secara kasat mata dapat berubah wujud menjadi padat (es), cair, dan gas (uap). Oleh sebab itu, Thales menganggap air memiliki fleksibilitas untuk membentuk berbagai materi di alam semesta.
- Dinamika Bumi: Ia berpendapat bahwa bumi mengapung di atas air, sehingga pergerakan air dapat menjelaskan fenomena alam seperti gempa bumi tanpa perlu melibatkan kemarahan Poseidon.
Warisan “Bapak Filsafat” bagi Sains Modern
Aristoteles menyematkan gelar “Bapak Filsafat” kepada Thales bukan tanpa alasan. Terlebih lagi, warisan terbesarnya bukan terletak pada jawaban “air”, melainkan pada metode bertanya yang ia gunakan. Thales menetapkan standar bahwa bukti dan penalaran yang konsisten harus mendukung setiap klaim tentang kebenaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara simultan, Thales membuktikan kecemerlangannya melalui kemampuan memprediksi gerhana matahari pada tahun 585 SM dan penggunaan geometri untuk mengukur ketinggian piramida. Dengan demikian, ia membuktikan bahwa rasio manusia mampu menyingkap rahasia semesta yang paling rumit sekalipun. Pada akhirnya, semangat Thales yang mencari kesatuan di tengah keragaman materi terus hidup dalam fisikawan modern yang hingga kini masih mencari “Teori Segalanya” (Theory of Everything).
Keberanian untuk Bertanya
Masa depan intelektual manusia berutang besar pada keberanian Thales untuk meragukan narasi tradisional. Pada akhirnya, kebenaran tidak lagi menjadi hak eksklusif para pendeta atau penyair mitos.
Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak sosok yang mampu melihat melampaui permukaan dan mencari akar masalah secara mendalam. Jika Thales tidak pernah berani memandang air sebagai kunci semesta, mungkin kegelapan dogma masih menjebak kita. Thales mengajarkan bahwa awal dari kebijaksanaan adalah kemampuan untuk bertanya “mengapa” dan kesediaan untuk mencari jawabannya dalam keteraturan alam itu sendiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















