JERUSALEM, POSNEWS.CO.ID – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memicu badai diplomatik baru. Ia mengunggah serangkaian video di media sosial yang mengejek para aktivis bantuan kemanusiaan dalam tahanan. Tindakan ini membuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegur keras sang menteri.
Ben-Gvir merekam dirinya saat berjalan di antara sekitar 430 tahanan. Dalam video tersebut, ia melambai-lambaikan bendera Israel berukuran besar. Ia bahkan menuntut Netanyahu agar menjebloskan para aktivis ke penjara teroris untuk waktu yang lama.
Teguran Keras dari Perdana Menteri
Netanyahu menanggapi tindakan tersebut dengan sangat serius. Meskipun ia mengakui hak Israel untuk menghentikan “armada provokatif pendukung teroris Hamas,” ia tetap tidak membenarkan aksi Ben-Gvir.
“Tindakan menteri tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma Israel,” tegas Netanyahu dalam pernyataan bersama. Selanjutnya, ia menginstruksikan otoritas terkait agar segera mendeportasi para aktivis tersebut secepat mungkin.
Gelombang Kecaman Internasional
Tindakan Ben-Gvir memicu gelombang protes diplomatik di berbagai ibu kota dunia. Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menyebut video tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Oleh karena itu, Italia memanggil duta besar Israel di Roma sebagai bentuk protes resmi.
Selain itu, pemerintah Inggris, Kanada, dan Turki turut melayangkan kritik serupa. Mereka menganggap perlakuan terhadap para aktivis tersebut melanggar martabat kemanusiaan. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menuntut penjelasan resmi dari pemerintah Israel mengenai standar perlakuan terhadap para tahanan tersebut.
Polemik di Parlemen Israel
Ketegangan tidak hanya terjadi di level internasional, tetapi juga di dalam negeri. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengkritik keras rekan sejawatnya tersebut melalui platform media sosial X.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Anda dengan sengaja menyebabkan kerugian bagi negara kita melalui tampilan yang memalukan ini,” tulis Saar. Namun, Ben-Gvir membalas kritik tersebut dengan tuduhan bahwa Saar telah tunduk kepada teroris. Ia berargumen bahwa permintaan maaf Israel kepada para aktivis hanya akan menunjukkan tanda kelemahan dan kepatuhan.
Konteks Operasi Flotilla dan Blokade Gaza
Israel menahan para aktivis setelah melakukan intersepsi terhadap kapal-kapal bantuan di perairan internasional dekat Siprus. Militer Israel mengeklaim armada bantuan tersebut merupakan “aksi publisitas untuk mendukung Hamas.”
Pihak aktivis membantah tuduhan tersebut. Mereka menegaskan bahwa mereka membawa bantuan simbolis untuk memperingatkan dunia mengenai kondisi kemanusiaan di Gaza. Sebagai catatan, lebih dari 72.700 orang telah tewas di Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Blokade laut yang Israel berlakukan sejak 2007 hingga saat ini terus membatasi akses kebutuhan pokok bagi dua juta penduduk Gaza.
Diplomasi di Tengah Konflik
Insiden ini mempertegas betapa sulitnya menjaga citra diplomatik di tengah pertempuran yang brutal. Singkatnya, tindakan provokatif pejabat senior justru memperumit upaya Israel dalam mencari dukungan global.
Dengan demikian, masyarakat internasional kini menanti langkah deportasi yang dijanjikan oleh Netanyahu. Di tahun 2026 yang penuh dengan ketegangan ini, ketegasan pemerintah Israel dalam menindak aksi menterinya sendiri menjadi penentu utama dalam mempertahankan dukungan negara-negara Barat di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












