Mengapa Kita Merasa Lelah dan Depresi di Era Kebebasan?

Selasa, 7 April 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penjara tanpa dinding. Filsuf Byung-Chul Han mengungkap bagaimana ambisi untuk selalu produktif telah mengubah manusia modern menjadi tuan sekaligus budak bagi dirinya sendiri, memicu pandemi kelelahan mental di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Penjara tanpa dinding. Filsuf Byung-Chul Han mengungkap bagaimana ambisi untuk selalu produktif telah mengubah manusia modern menjadi tuan sekaligus budak bagi dirinya sendiri, memicu pandemi kelelahan mental di tahun 2026. Dok: Istimewa.

SEOUL, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasa sangat lelah meski tidak sedang mengerjakan tugas fisik yang berat? Di tahun 2026, kelelahan ini bukan lagi sekadar gejala medis, melainkan krisis filosofis. Dalam konteks ini, filsuf Byung-Chul Han menawarkan penjelasan tajam: kita tidak sedang lelah karena bekerja terlalu banyak, melainkan karena kita tidak tahu cara berhenti berprestasi.

Langkah filsafat Han bertujuan membongkar ilusi kebebasan di abad ke-21. Oleh karena itu, memahami konsep Masyarakat Pencapaian adalah kunci untuk menyadari bahwa musuh terbesar kesehatan mental kita sering kali adalah ambisi kita sendiri.

Dari Masyarakat Disiplin ke Masyarakat Pencapaian

Selama abad ke-20, Michel Foucault mendefinisikan dunia sebagai “Masyarakat Disiplin”. Dalam hal ini, manusia diatur oleh institusi seperti penjara, pabrik, dan rumah sakit melalui larangan dan perintah “tidak boleh”. Namun, menurut Han, kita telah melampaui fase itu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tahun 2026, kita hidup dalam Masyarakat Pencapaian (Achievement Society). Subjek modern bukan lagi narapidana, melainkan “entrepreneur bagi dirinya sendiri”. Kata kunci zamannya bukan lagi “seharusnya” (should), melainkan “bisa” (can). Sebagai hasilnya, dinding-dinding pembatas fisik telah runtuh dan digantikan oleh tekanan internal yang tak kasat mata. Kebebasan untuk melakukan apa saja justru berubah menjadi beban untuk melakukan segalanya.

Baca Juga :  Apakah Kebangkitan Multipolaritas Akan Membawa Stabilitas?

Kekerasan Positivitas: Eksploitasi Diri Sendiri

Paradoks terbesar era digital adalah munculnya Kekerasan Positivitas. Berbeda dengan kekerasan fisik yang datang dari luar, kekerasan ini bersifat halus dan memikat. Ia datang dalam bentuk kutipan motivasi, target performa yang tinggi, dan tuntutan untuk selalu tampil bahagia di media sosial.

Lebih lanjut, kondisi ini menciptakan fenomena Eksploitasi Diri Sendiri (Self-exploitation). Kita menjadi mandor sekaligus buruh bagi diri kita sendiri. Kita merasa bersalah jika tidak produktif, merasa tertinggal jika tidak belajar hal baru, dan merasa gagal jika tidak mencapai standar kesuksesan yang terus meningkat. Akibatnya, tidak ada lagi ruang untuk istirahat sejati karena pikiran kita terus-menerus melakukan pengawasan terhadap efektivitas waktu yang kita miliki.

Burnout: Penyakit Masyarakat Tanpa Jeda

Mengapa depresi dan burnout (kelelahan mental kronis) kian meluas di tahun 2026? Han berargumen bahwa burnout adalah hasil dari “kekenyangan akan hal positif”. Ketika sistem menuntut kita untuk selalu terhubung dan bereaksi terhadap informasi, otak kehilangan kemampuan untuk melakukan “perhatian mendalam” (deep attention).

Terlebih lagi, masyarakat saat ini terbiasa dengan multitasking, yang oleh Han disebut sebagai kemunduran ke arah pola hidup hewan liar yang harus selalu waspada terhadap gangguan. Oleh sebab itu, manusia modern kehilangan kemampuan untuk merenung. Kita terus bergerak namun tidak menuju ke mana pun, layaknya tikus dalam roda putar produktivitas yang tidak ada ujungnya. Depresi muncul saat subjek pencapaian menyadari bahwa ia tidak lagi mampu “bisa”.

Baca Juga :  Ritual Kopi Global: Dari Espresso Cepat Hingga Fika Santai

Solusi: Mempelajari Kembali Seni Melihat

Guna mengatasi krisis ini, Han menawarkan solusi melalui Vita Contemplativa atau kehidupan kontemplatif. Secara khusus, ia menekankan pentingnya:

  1. Waktu Luang yang Murni: Melakukan sesuatu yang tidak memiliki tujuan ekonomi atau produktivitas, seperti sekadar duduk diam atau berjalan-jalan tanpa arah.
  2. Kemampuan Berkata “Tidak”: Berani menolak rangsangan informasi yang berlebih dan memutus koneksi digital secara berkala.
  3. Pedagogi Melihat: Melatih kembali mata untuk memperhatikan keindahan yang lambat dan dalam, bukan sekadar memindai konten kilat.

Dengan demikian, kesehatan mental di era modern menuntut keberanian untuk menjadi “tidak produktif”. Di tahun 2026, bentuk pemberontakan yang paling radikal adalah dengan berani membiarkan diri kita merasa bosan. Kebosanan adalah rahim bagi kreativitas sejati dan pemulihan jiwa yang telah lelah oleh kebisingan dunia.

Merebut Kembali Kedaulatan Waktu

Masa depan kesejahteraan kita bergantung pada kemampuan untuk membedakan antara kebebasan sejati dengan kewajiban untuk berprestasi. Pada akhirnya, Byung-Chul Han mengingatkan bahwa hidup yang bermakna bukan diukur dari berapa banyak target yang kita capai.

Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak individu yang berani berhenti mengejar bayangan kesempurnaan digital. Kita harus memastikan bahwa hidup tetap menjadi milik kita, bukan sekadar data poin dalam algoritma pencapaian global. Ketenangan adalah hak asasi yang harus kita rebut kembali dari tangan tirani produktivitas tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen
Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang
Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran
Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru
Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad
Donald Trump Jadwalkan Pertemuan dengan Kim Jong Un
PM Israel Benjamin Netanyahu Targetkan Turki di Suriah
Andy Burnham Luncurkan Program Penanganan Tunawisma

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:59 WIB

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 06:35 WIB

Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:15 WIB

Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:06 WIB

Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad

Berita Terbaru

Pengadilan Tinggi Hong Kong memvonis bersalah dua mantan pemimpin kelompok yang selama puluhan tahun menggelar peringatan tragedi Tiananmen 1989. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen

Sabtu, 22 Agu 2026 - 16:59 WIB

Game Science mendadak merilis trailer gameplay berdurasi 15 menit untuk Black Myth: Zhong Kui. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Game Science Rilis Trailer Gameplay Black Myth: Zhong Kui

Sabtu, 22 Agu 2026 - 14:30 WIB