Inggris Tunda Penyerahan Kepulauan Chagos Akibat Tekanan Donald Trump

Selasa, 14 April 2026 - 07:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Inggris dalam siaga

Inggris dalam siaga "Severe". Essa Suleiman menghadapi dakwaan percobaan pembunuhan dalam persidangan perdana di London, sementara pemerintah menaikkan status ancaman teror menyusul serangan yang menargetkan komunitas Yahudi. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara London dan Washington memasuki fase “pembekuan” yang lebih dalam. Pemerintah Inggris mengonfirmasi bahwa undang-undang untuk meratifikasi kesepakatan Kepulauan Chagos telah kehabisan waktu di parlemen.

Dalam konteks ini, kegagalan legislasi tersebut merupakan dampak langsung dari perubahan sikap mendadak Presiden Donald Trump. Oleh karena itu, London memilih untuk menunda pengalihan kedaulatan guna menghindari konfrontasi lebih lanjut dengan sekutu terbesarnya di tahun 2026 ini.

Trump: Penyerahan Chagos Adalah “Kebodohan Besar”

Presiden Donald Trump memicu krisis diplomatik ini dengan mencabut dukungan Washington terhadap perjanjian tersebut pada Januari lalu. Melalui media sosial, Trump secara eksplisit menyebut rencana penyerahan kepulauan di Samudra Hindia itu sebagai tindakan yang sangat bodoh.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, Trump khawatir bahwa Mauritius tidak akan mampu menjamin keamanan operasional pangkalan Diego Garcia dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, Gedung Putih memberikan tekanan hebat kepada pemerintahan Keir Starmer untuk membatalkan proses tersebut. Sebagai hasilnya, tagihan ratifikasi tersebut tidak akan masuk dalam pidato Raja Charles III pada sesi parlemen berikutnya yang dimulai 13 Mei mendatang.

Baca Juga :  Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65

Diego Garcia: Benteng Utama Perang Iran

Pangkalan militer di Diego Garcia kini memegang peranan yang semakin krusial bagi strategi militer Amerika Serikat. Fasilitas ini mendukung operasi pengeboman udara dalam kampanye militer AS-Israel terhadap target-target rudal di Iran.

Meskipun demikian, PM Keir Starmer sempat mencoba membatasi penggunaan pangkalan tersebut hanya untuk serangan terhadap situs peluncuran misil. Starmer menolak izin penggunaan basis Inggris bagi target non-militer lainnya. Akibatnya, Trump mengejek Starmer sebagai sosok yang “bukan Winston Churchill” dan melontarkan kritik pedas terhadap kapabilitas Angkatan Laut Inggris.

Ancaman Pengaruh Rusia dan Tiongkok

Pihak oposisi di Inggris, termasuk Partai Konservatif dan Reform UK, menyambut baik penangguhan kesepakatan ini. Menurut mereka, menyerahkan kedaulatan Chagos kepada Mauritius justru akan membuka celah bagi pengaruh militer Rusia dan Tiongkok di Samudra Hindia.

Selain itu, Mauritius dipandang sebagai aktor yang sangat rentan terhadap infiltrasi intelijen asing. Dalam hal ini, mempertahankan kendali penuh Inggris atas gugusan 60 pulau tersebut dipandang sebagai satu-satunya cara untuk menjamin keamanan operasional pangkalan selama 99 tahun ke depan sesuai rencana sewa balik (lease back).

Baca Juga :  Uni Eropa Pasang Badan: Siap Kirim Pasukan ke Greenland

Nasib 10.000 Warga Chagos yang Terusir

Di tengah perdebatan kekuatan besar, komunitas warga Chagos kembali menjadi pihak yang paling dirugikan. Sebanyak 10.000 pengungsi Chagos dan keturunan mereka kini harus menelan pil pahit karena kepulangan mereka kembali tertunda tanpa batas waktu.

Meskipun PBB dan Mahkamah Internasional telah mendesak Inggris untuk mengakhiri kolonialisme di sana, warga lokal mengaku tidak pernah dilibatkan dalam negosiasi. Oleh karena itu, ketidakpastian hukum ini memicu rasa frustrasi yang mendalam bagi mereka yang telah berjuang di pengadilan Inggris selama puluhan tahun.

Menanti Restu Washington

Masa depan Kepulauan Chagos kini sepenuhnya bergantung pada kemauan politik di Gedung Putih. Pada akhirnya, Inggris tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kehendak Presiden Trump guna menjaga integritas pangkalan militer bersama.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah kesepakatan ini benar-benar mati atau hanya sekadar “hibernasi” diplomatik. Di tahun 2026 yang penuh gejolak keamanan regional, Diego Garcia tetap berdiri sebagai aset militer paling strategis yang tidak akan Washington lepaskan demi alasan kedaulatan apa pun.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Ringkus 2 Pengedar Obat Keras Ilegal Berkedok Toko Kosmetik di Jakpus
Denda Pajak Kendaraan di Jakarta Dihapus Tiga Bulan, Berlaku Mulai 1 Juni 2026
Polda Metro Tangkap 15 Pemuda, Senjata Tajam Disembunyikan di Loteng Kamar Mandi
58 Pasangan Jadi Korban Penipuan WO Marwah, Kerugian Capai Rp2,6 Miliar
Sabu Diselundupkan ke Lapas Karawang dalam Kondom, Polisi Buru Jaringan Pemasok
BMKG Ingatkan Potensi Hujan Sore Hari di Jabodetabek pada Minggu 31 Mei 2026
Gudang di Bekasi Digerebek Bareskrim, 11 Ular Sanca Hijau Papua Dilindungi Disita
Bos Hanania Travel Resmi Ditahan, Polda Metro Jaya Buka Posko Pengaduan Korban

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 11:34 WIB

Polisi Ringkus 2 Pengedar Obat Keras Ilegal Berkedok Toko Kosmetik di Jakpus

Minggu, 31 Mei 2026 - 11:07 WIB

Denda Pajak Kendaraan di Jakarta Dihapus Tiga Bulan, Berlaku Mulai 1 Juni 2026

Minggu, 31 Mei 2026 - 08:34 WIB

Polda Metro Tangkap 15 Pemuda, Senjata Tajam Disembunyikan di Loteng Kamar Mandi

Minggu, 31 Mei 2026 - 07:56 WIB

58 Pasangan Jadi Korban Penipuan WO Marwah, Kerugian Capai Rp2,6 Miliar

Minggu, 31 Mei 2026 - 07:35 WIB

Sabu Diselundupkan ke Lapas Karawang dalam Kondom, Polisi Buru Jaringan Pemasok

Berita Terbaru