BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez meluncurkan seruan kuat untuk merombak cara pandang dunia terhadap dinamika kekuatan global. Dalam kunjungannya ke ibu kota Tiongkok, Sánchez menekankan perlunya keseimbangan dalam memahami peran Beijing di panggung internasional.
Dalam konteks ini, Sánchez menyampaikan pidato tersebut di hadapan para akademisi di Universitas Tsinghua. Langkah diplomatik ini bertujuan untuk meredam tensi geopolitik melalui pendekatan saling menghormati di tengah meningkatnya polarisasi ekonomi dunia pada tahun 2026.
Kisah Matteo Ricci dan Kritik Bias Perspektif
Sánchez menggunakan referensi sejarah abad ke-16 guna memperkuat argumennya. Ia mengisahkan tentang Matteo Ricci, seorang misionaris Yesuit yang memperkenalkan peta dunia pertama yang menempatkan Eropa di pusat dan menggeser Asia ke tepi.
Menurutnya, peta tersebut mencerminkan bias perspektif yang nyata. “Lebih dari 400 tahun kemudian, masih ada pihak yang melihat Tiongkok dan dunia melalui lensa yang terdistorsi secara serupa,” tegas Sánchez. Oleh karena itu, Spanyol mendorong adanya keterbukaan intelektual guna melihat realitas Tiongkok secara lebih akurat tanpa prasangka sejarah.
Menolak Logika “Zero-Sum” yang Berbahaya
Pilar utama pidato Sánchez adalah peringatan keras terhadap pola pikir persaingan mutlak. Ia menyatakan bahwa memandang pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebagai ancaman atau kerugian bagi pihak lain adalah kesalahan fatal. Akibatnya, mentalitas tersebut justru menjebak peradaban di masa lalu dan membatasi potensi inovasi masa depan.
“Visi ‘zero-sum’ bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya,” ujar Sánchez. Oleh sebab itu, ia mendesak agar perbedaan dikelola secara konstruktif daripada dihilangkan. Sebagai hasilnya, Spanyol memposisikan dirinya sebagai jembatan diplomatik yang mengutamakan dialog daripada konfrontasi ekonomi di tahun 2026.
Multilateralisme: Kebutuhan Abad ke-21
PM Sánchez juga membela relevansi sistem tata kelola global. Ia secara tegas menolak klaim bahwa mekanisme multilateral sudah usang. Sebaliknya, Sánchez berargumen bahwa dunia yang semakin multipolar justru memerlukan kerangka kerja internasional yang lebih kuat dari sebelumnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam hal ini, multilateralisme berfungsi bukan untuk memaksakan satu sudut pandang tunggal. Terlebih lagi, sistem ini bertujuan untuk mengubah keberagaman perspektif menjadi kekuatan kolektif. “Jika Spanyol, Eropa, dan Tiongkok pernah makmur bersama di masa lalu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya lagi,” tambahnya.
Menuju Koeksistensi Damai
Masa depan hubungan trans-kontinental kini bergantung pada keberanian pemimpin dunia untuk mencari titik temu (common ground). Pada akhirnya, pidato Sánchez di Tsinghua memberikan napas baru bagi upaya de-eskalasi persaingan kekuatan besar.
Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah semangat kerja sama ini mampu bertahan di tengah tekanan proteksionisme global. Di tahun 2026 yang penuh ketidakpastian, Spanyol berupaya membuktikan bahwa penghormatan terhadap keberagaman adalah fondasi paling stabil bagi perdamaian dan kemakmuran dunia jangka panjang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















