Raja Charles III Temui Donald Trump di Gedung Putih

Selasa, 28 April 2026 - 11:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pertemuan tingkat tinggi di Washington. Raja Charles III memulai kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat untuk memperbaiki hubungan diplomatik yang merenggang akibat perbedaan pandangan politik dan isu keamanan global. Dok: Istimewa.

Pertemuan tingkat tinggi di Washington. Raja Charles III memulai kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat untuk memperbaiki hubungan diplomatik yang merenggang akibat perbedaan pandangan politik dan isu keamanan global. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Raja Charles III resmi memulai kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat dengan menemui Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada hari Senin. Meskipun kamera menangkap momen sambutan yang hangat, pertemuan ini sebenarnya memikul beban diplomatik yang berat akibat meningkatnya ketegangan transatlantik.

Di bawah sinar matahari Washington, kedua pemimpin tersebut bertukar jabat tangan di luar Gedung Putih. Ibu Negara Melania Trump, yang mengenakan setelan kuning primrose, menyambut Raja Charles dan Ratu Camilla dengan hangat. Pertemuan ini menandai momen penting dalam upaya memperbaiki hubungan kedua negara yang sedang menghadapi ujian serius.

Keretakan di Balik Sambutan Hangat

Di balik kemegahan protokol kenegaraan, terdapat keretakan yang mendalam dalam hubungan antara Washington dan London. Perselisihan ini berakar pada ketidaksepakatan mengenai keterlibatan militer Trump di Iran. Pemerintah Inggris secara terbuka menolak untuk membantu kebijakan konfrontatif Amerika Serikat di kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kunjungan empat hari ini awalnya bertujuan untuk merayakan hari jadi ke-250 kemerdekaan Amerika Serikat dari Kerajaan Inggris. Namun, Raja Charles kini harus menjalankan misi diplomasi untuk meredam kemarahan Trump. Sebelumnya, Trump melontarkan kritik pedas terhadap keengganan London dalam mendukung strategi perangnya.

Baca Juga :  Mengapa Kita Bermimpi? Menelisik Sains di Balik Aktivitas Bawah Sadar

Ujian “Hubungan Spesial” dan Isu Iran

Presiden Trump berulang kali melancarkan serangan verbal terhadap Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Ia mengkritik kebijakan migrasi, energi, serta oposisi Starmer terhadap perang di Iran. Trump bahkan menjuluki Starmer sebagai sosok yang “bukan Churchill,” merujuk pada tokoh legendaris yang mencetuskan istilah “hubungan spesial.”

Meskipun demikian, Trump tetap menunjukkan rasa hormatnya kepada monarki Inggris. Ia menyatakan bahwa kehadiran Raja Charles dapat membantu memperbaiki hubungan kedua negara. “Beliau mewakili bangsanya dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain,” ujar Trump dalam wawancara terbaru.

Keamanan Ketat Pasca Ancaman Pembunuhan

Pihak keamanan memperketat pengamanan kunjungan ini secara drastis menyusul insiden penembakan pada acara makan malam koresponden hari Sabtu lalu. Seorang tersangka yang diduga mencoba membunuh presiden telah menjalani persidangan pada hari Senin.

Kondisi ini memaksa protokol kunjungan berjalan sangat disiplin dengan interaksi media yang terbatas. Hal ini bertujuan untuk menghindari momen-momen yang tidak terencana di tengah situasi nasional Amerika yang sedang bergejolak. Seluruh rangkaian acara kini berlangsung di bawah pengawasan dinas rahasia yang jauh lebih intensif dari biasanya.

Baca Juga :  Laboratorium Narkoba di Apartemen Salemba Digerebek, 5 Kg Tembakau Sintetis Disita

Dampak Skandal dan Agenda Bersejarah

Di luar urusan politik luar negeri, bayang-bayang skandal masa lalu tetap menghantui rombongan kerajaan. Persahabatan Pangeran Andrew dengan Jeffrey Epstein masih menjadi isu sensitif bagi publik Amerika. Meskipun Charles berupaya fokus pada misi diplomatik, isu ini tetap menjadi tantangan bagi citra monarki di mata internasional.

Setelah agenda di Washington, Raja Charles dijadwalkan akan berpidato di hadapan Kongres. Ia akan menjadi monarki Inggris pertama yang melakukannya sejak mendiang Ratu Elizabeth II pada tahun 1991. Setelah itu, rombongan akan melanjutkan perjalanan ke New York untuk mengunjungi memorial 9/11 sebelum mengakhiri kunjungan di Bermuda.

Diplomasi di Atas Bara Api

Masa depan aliansi AS-Inggris kini berada di titik persimpangan yang krusial. Raja Charles memikul tanggung jawab besar untuk menjaga stabilitas hubungan kedua negara di tengah perbedaan kebijakan pemerintah masing-masing.

Kunjungan ini menjadi ujian pribadi bagi sang Raja, sekaligus pembuktian bagi sistem diplomasi tradisional Inggris. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, dunia menanti apakah pesona kerajaan mampu meredam ketegangan politik dan menyatukan kembali dua sekutu terkuat di dunia tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rasa Karya Seni: Corsair Resmi Rilis SHUGO DDR5
Korlantas Polri Gelar Operasi Patuh 2026, Pelanggar Pelat Nomor Jadi Target
Mengapa Komputasi Ini Bisa Mengubah Segalanya?
Lonjakan Harga Dunia Picu Kerusakan Hutan dan Krisis Merkuri
Sopir Angkot Disiram Bensin Lalu Dibakar di Tanah Abang, Pelaku Akhirnya Dibekuk
Bea Cukai Marunda Santuni Yatim dan Lansia di Cilincing, Aksi Nyata Kepedulian Sosial
Laboratorium Narkoba di Apartemen Salemba Digerebek, 5 Kg Tembakau Sintetis Disita
Medan Ekstrem Hambat Evakuasi 8 Korban Helikopter Jatuh di Sekadau Kalimantan Barat

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 13:13 WIB

Rasa Karya Seni: Corsair Resmi Rilis SHUGO DDR5

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:27 WIB

Korlantas Polri Gelar Operasi Patuh 2026, Pelanggar Pelat Nomor Jadi Target

Minggu, 17 Mei 2026 - 08:37 WIB

Mengapa Komputasi Ini Bisa Mengubah Segalanya?

Rabu, 6 Mei 2026 - 14:58 WIB

Lonjakan Harga Dunia Picu Kerusakan Hutan dan Krisis Merkuri

Kamis, 30 April 2026 - 14:27 WIB

Sopir Angkot Disiram Bensin Lalu Dibakar di Tanah Abang, Pelaku Akhirnya Dibekuk

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB