Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Momentum integrasi Eropa Timur. Negara-negara anggota Uni Eropa sepakat membuka jalur negosiasi resmi keanggotaan bagi Ukraina dan Moldova di Luxembourg pekan depan. Dok: Istimewa.

Momentum integrasi Eropa Timur. Negara-negara anggota Uni Eropa sepakat membuka jalur negosiasi resmi keanggotaan bagi Ukraina dan Moldova di Luxembourg pekan depan. Dok: Istimewa.

KYIV, POSNEWS.CO.ID – Ukraina segera melancarkan reformasi militer besar-besaran pada musim panas ini. Langkah strategis tersebut bertujuan untuk mengatasi krisis kekurangan pasukan infanteri. Selain itu, pemerintah ingin mempercepat pemulangan prajurit yang telah bertugas paling lama sejak awal invasi Rusia.

Presiden Volodymyr Zelenskyy menyampaikan pengumuman tersebut melalui saluran Telegram pada hari Jumat. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan merampungkan seluruh rincian teknis pada bulan Mei. Selanjutnya, hasil nyata dari reformasi ini harus sudah terlihat pada bulan Juni mendatang.

Pembenahan Kesejahteraan: Gaji Lebih Tinggi bagi Infanteri

Zelenskyy menjanjikan kenaikan gaji yang signifikan bagi pasukan infanteri. Jabatan ini merupakan salah satu peran paling berbahaya karena ancaman serangan drone yang terus-menerus di garis depan. Negara ingin menunjukkan penghormatan nyata kepada para prajurit yang menahan lini pertahanan.

Pemerintah akan menaikkan gaji posisi non-tempur menjadi minimal 30.000 hryvnia (sekitar Rp11 juta) per bulan. Angka ini naik sepertiga dari tarif saat ini. Sementara itu, upah untuk posisi tempur, komandan, dan perwira akan jauh lebih tinggi. Zelenskyy juga menyiapkan kontrak khusus bagi infanteri dengan nilai antara 250.000 hingga 400.000 hryvnia.

Transformasi Sistemik di Bawah Mykhailo Fedorov

Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov menyebut perubahan ini sebagai transformasi “sistemik” bagi tentara Ukraina. Fedorov mulai menjabat sejak Januari lalu dengan mandat khusus untuk memperbaiki sistem mobilisasi dan menangani penghindaran wajib militer.

Fedorov sedang menyiapkan beberapa proyek utama di bawah payung reformasi ini. Program tersebut meliputi model penggajian yang adil serta sistem kontrak baru dengan masa layanan yang jelas. Selain itu, kementerian akan menerapkan kebijakan rotasi yang transparan untuk menjaga kebugaran pasukan. Pendekatan baru dalam perekrutan unit juga menjadi fokus utama dalam transformasi ini.

Rotasi Pasukan dan Pemulangan Prajurit Lama

Salah satu keluhan utama prajurit adalah ketiadaan batas waktu layanan yang tetap. Banyak tentara telah bertugas di posisi yang sama selama berbulan-bulan tanpa adanya rotasi. Hal ini menyebabkan kelelahan fisik dan mental yang luar biasa di medan tempur.

Baca Juga :  Komite Teknokrat Palestina Tiba di Kairo, Siap Masuk Gaza

Reformasi terbaru ini memungkinkan pemulangan prajurit yang telah mengabdi dalam waktu lama secara bertahap. Zelenskyy menginginkan adanya kriteria waktu yang jelas untuk pembebasan tugas berdasarkan masa layanan. Serhii Sternenko, penasihat Kementerian Pertahanan, optimis bahwa reformasi ini merupakan kunci untuk mengalahkan agresi Rusia.

Menghadapi Kendala Finansial

Implementasi reformasi ini tentu akan menambah beban keuangan Ukraina. Saat ini, Kyiv sangat bergantung pada bantuan asing untuk menopang kebutuhan militernya yang terus membengkak. Namun, pemerintah memandang pembenahan internal tentara sebagai investasi mutlak demi kedaulatan negara.

Dunia kini memantau apakah Ukraina mampu menjalankan transformasi ini secara efektif di tengah kebuntuan negosiasi damai. Di tahun 2026 yang penuh tantangan, kesolidan struktur militer dan kepuasan prajurit menjadi fondasi utama bagi daya tahan Ukraina di panggung global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB