Australia Wajibkan Perusahaan Gas Cadangkan 20% Ekspor

Jumat, 8 Mei 2026 - 07:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Australia mengambil langkah drastis dengan mewajibkan perusahaan gas raksasa menyisihkan 20 persen ekspor LNG mereka demi menjamin pasokan dalam negeri dan meredam dampak volatilitas harga global. Dok: Istimewa.

Pemerintah Australia mengambil langkah drastis dengan mewajibkan perusahaan gas raksasa menyisihkan 20 persen ekspor LNG mereka demi menjamin pasokan dalam negeri dan meredam dampak volatilitas harga global. Dok: Istimewa.

CANBERRA, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Australia resmi memperketat kendali atas sumber daya gas alamnya. Langkah ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kelangkaan energi nasional. Menteri Energi Chris Bowen menyatakan bahwa perusahaan gas besar kini wajib mengalokasikan sebagian hasil produksi mereka untuk pasar domestik.

Keputusan tersebut mewajibkan perusahaan-perusahaan gas raksasa untuk memagari (ring fence) bahan bakar mereka. Jumlahnya setara dengan 20 persen dari total volume ekspor. Oleh karena itu, kebijakan ini menjadi strategi utama dalam menghadapi volatilitas harga global yang kian tidak menentu di tahun 2026.

Melindungi Rakyat dari Guncangan Global

Bowen menegaskan bahwa pemerintah bertindak cepat guna membentengi masyarakat. Program ini sangat penting untuk mencegah guncangan energi yang merusak ekonomi. Selain itu, menjaga pasokan gas di daratan kini menjadi prioritas utama di samping investasi pada energi terbarukan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami telah bertindak untuk melindungi warga Australia,” ujar Bowen kepada wartawan pada hari Kamis. Pemerintah ingin memastikan lebih banyak gas tetap berada di dalam negeri. Saat ini, Australia memang menghadapi tekanan besar. Hal ini terjadi karena harga LNG di Asia melonjak tajam sejak pecahnya konflik militer yang melibatkan Iran pada akhir Februari lalu.

Baca Juga :  Skandal AI di Kanada: Pemerintah Panggil Pimpinan OpenAI Terkait Kegagalan Deteksi Dini Penembakan Massal

Dampak Bagi Mitra Dagang: Jepang dan Singapura

Selanjutnya, kebijakan ini menjadi perhatian serius bagi mitra dagang utama Australia di Asia. Berdasarkan data Asia Natural Gas and Energy Association, Australia memasok sekitar 40 persen kebutuhan LNG Jepang. Sementara itu, Singapura bergantung pada Australia untuk memenuhi lebih dari 30 persen kebutuhan gasnya.

Meskipun demikian, Menteri Bowen berupaya meredam kekhawatiran internasional tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah berkonsultasi secara mendalam dengan para mitra. Langkah ini diambil guna memastikan Australia tetap menjadi pemasok energi yang andal. “Kami tidak akan mengganggu kontrak apa pun yang sudah ada,” tegas Bowen.

Keamanan Energi dan Cadangan Nasional

Secara geografis, posisi Australia cukup terisolasi. Negara ini juga hanya memiliki dua kilang minyak yang masih beroperasi. Akibatnya, Canberra sangat rentan terhadap gangguan pasokan bahan bakar global. Risiko ini terasa nyata, terutama saat Iran menutup jalur vital di Selat Hormuz.

Sebagai langkah mitigasi tambahan, Perdana Menteri Anthony Albanese mengumumkan rencana baru pada hari Rabu. Australia akan membentuk stok bahan bakar nasional sebesar satu miliar liter. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah lumpuhnya pengiriman minyak dunia akibat blokade militer di Timur Tengah.

Baca Juga :  Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS

Tekanan Politik dan Profitabilitas Perusahaan

Saat ini, perusahaan gas besar seperti Shell, Chevron, dan Woodside tercatat meraup keuntungan luar biasa. Mereka memetik laba dari kenaikan harga LNG di pasar luar negeri. Namun, kondisi tersebut memicu gelombang kritik dari berbagai pihak. Masyarakat mendesak pemerintah untuk menaikkan pajak ekspor secara drastis.

Meskipun begitu, pemerintah Canberra secara resmi menolak usulan kenaikan pajak tersebut pada pekan lalu. Pemerintah lebih memilih mekanisme reservasi fisik pasokan sebagai solusi. Sebab, intervensi fiskal dianggap dapat mengganggu iklim investasi jangka panjang di sektor energi nasional.

Kesimpulan: Menanti Redanya Konflik Iran

Laporan mengenai kebijakan ini muncul saat pasar minyak dunia mulai menunjukkan tanda pelonggaran. Harga minyak global sempat turun pada hari Rabu. Hal tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal mengenai kemungkinan berakhirnya perang di Iran.

Singkatnya, keberhasilan skema reservasi gas domestik ini akan menjadi penentu stabilitas inflasi Australia. Oleh sebab itu, masyarakat internasional kini menanti implementasi undang-undang tersebut pada tahun 2027. Dunia sangat berharap ketegangan di Teluk segera berakhir demi kestabilan ekonomi global secara menyeluruh.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak
Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki
Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual
Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen
Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS
Parlemen Turki Sahkan Amnesti Bersyarat bagi Militan Kurdi
Rencana Gaza Trump Tetap Berlaku, Diskusi dengan Israel
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 13 Orang di Nizhnekamsk

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:44 WIB

Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS

Berita Terbaru

Aeon Co mengakui bahwa staf lapangan sempat mengizinkan karyawan masuk kembali ke mal yang terdampak gempa di Kumamoto. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak

Kamis, 13 Agu 2026 - 06:00 WIB