WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Stabilitas keamanan di Selat Hormuz kembali terguncang hebat pada hari Kamis. Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam kontak senjata langsung yang menandai pelanggaran paling serius terhadap kesepakatan penghentian permusuhan yang berlaku sejak 7 April lalu.
Insiden berdarah ini meletus saat Washington sedang menanti jawaban resmi Teheran terhadap proposal perdamaian terbaru. Meskipun kedua pihak sempat saling serang selama beberapa jam, kedua negara memberikan sinyal untuk tidak memperluas skala peperangan ke tingkat yang lebih masif.
Tuduhan Pelanggaran dan Serangan ke Pulau Qeshm
Komando militer terpadu Iran melontarkan tuduhan serius terhadap pihak Amerika Serikat. Mereka mengeklaim bahwa armada laut AS menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran dan satu kapal lainnya yang sedang memasuki selat. Selain itu, Teheran melaporkan adanya serangan udara AS yang menghantam kawasan sipil di Pulau Qeshm serta wilayah pesisir Bandar Khamir Sirik di daratan utama.
Sebagai balasan, militer Iran meluncurkan serangan terhadap kapal-kapal militer AS di timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa serangan balasan tersebut menimbulkan “kerusakan signifikan” pada aset Amerika.
Respon CENTCOM: “Kami Tidak Mencari Eskalasi”
Di pihak lain, Komando Sentral AS (CENTCOM) memberikan kronologi yang berbeda. Otoritas militer AS menegaskan bahwa pasukannya hanya melepaskan tembakan sebagai bentuk pembelaan diri atas serangan agresif Iran.
CENTCOM melaporkan bahwa Iran menggunakan kombinasi rudal, drone, dan kapal cepat untuk menyerang tiga kapal penghancur (destroyer) Angkatan Laut AS. “CENTCOM tidak mencari eskalasi, namun kami tetap dalam posisi siap untuk melindungi pasukan Amerika,” tulis pernyataan resmi tersebut pada Kamis malam. Pihak AS membantah klaim Iran mengenai adanya kerusakan pada aset militer mereka.
Diplomasi “Love Tap” Donald Trump
Di tengah desing peluru di Teluk, Presiden Donald Trump justru berusaha meredakan kepanikan publik. Dalam sebuah interaksi singkat dengan wartawan ABC, Trump bersikeras bahwa gencatan senjata secara teknis masih berlaku.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Trump secara mengejutkan menyebut pertukaran tembakan tersebut hanya sebagai “sentuhan kasih sayang” (love tap). Meskipun demikian, manuver ini dipandang sebagai upaya Trump untuk menjaga momentum negosiasi perdamaian yang sedang berjalan. Media pemerintah Iran, Press TV, juga melaporkan bahwa situasi di kota-kota pesisir dan pulau-pulau di sekitar selat telah kembali kondusif beberapa jam setelah insiden berakhir.
Sanksi Baru dan Kebuntuan Meja Rundingan
Pertempuran fisik ini terjadi di tengah kebuntuan diplomatik. Amerika Serikat telah mengajukan draf rencana untuk mengakhiri perang secara formal, namun dokumen tersebut belum menyentuh isu-isu krusial seperti penghentian program nuklir Iran dan pembukaan total Selat Hormuz bagi energi dunia.
Guna menambah tekanan, Amerika Serikat secara terpisah menjatuhkan sanksi baru pada hari Kamis. Sanksi tersebut menyasar Wakil Menteri Minyak Irak serta tiga pemimpin milisi yang Washington tuduh memberikan dukungan strategis bagi kepentingan Iran di kawasan tersebut.
Menanti Kepastian di Jalur Nadi Dunia
Insiden di hari Kamis ini membuktikan betapa rapuhnya garis perdamaian di tahun 2026. Singkatnya, selama isu kepemilikan uranium dan kontrol navigasi selat belum mencapai kesepakatan tertulis, kontak senjata serupa diprediksi akan terus berulang.
Masyarakat internasional kini menanti apakah “sentuhan” militer ini akan mempercepat Iran untuk menyetujui proposal AS, atau justru memicu penutupan selat secara permanen yang dapat melumpuhkan ekonomi global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












