PARIS, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Prancis mengambil langkah diplomatik tegas terhadap seorang pejabat tinggi Israel. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, mengumumkan larangan masuk bagi Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, ke wilayah Prancis pada hari Sabtu.
Keputusan ini mencerminkan kemarahan pemerintah global atas perlakuan terhadap aktivis bantuan Gaza yang sedang ditahan. Oleh karena itu, Paris tidak lagi memberikan ruang bagi pejabat yang dianggap mencederai martabat kemanusiaan.
Respon Atas Video Provokasi
Pemerintah Barat mengekspresikan kemarahan besar setelah Ben-Gvir mengunggah video di media sosial. Video tersebut memperlihatkan dirinya sedang mengolok-olok para aktivis flotilla yang sedang ditahan oleh kepolisian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selanjutnya, beberapa aktivis mengeklaim pihak keamanan melakukan penganiayaan fisik selama masa penahanan. Meskipun demikian, Israel membantah tuduhan tersebut secara resmi. Zivan Freidin, juru bicara Layanan Penjara Israel, menyebut seluruh tuduhan itu “sangat palsu dan tidak memiliki dasar fakta.”
Desakan Sanksi Uni Eropa
Barrot tidak berhenti pada larangan masuk sepihak. Di samping itu, ia mendesak seluruh negara anggota Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi serupa terhadap Ben-Gvir.
“Saya meminta Uni Eropa untuk memberikan sanksi kepada Itamar Ben-Gvir,” tulis Barrot dalam platform X. Sebagai langkah tindak lanjut, otoritas Italia dan beberapa negara lainnya juga mulai memanggil utusan diplomatik Israel. Mereka menuntut penjelasan resmi mengenai standar perlakuan terhadap para aktivis bantuan kemanusiaan tersebut.
Ketegangan di Kabinet Israel
Tindakan Ben-Gvir menuai kecaman dari internal pemerintahan Israel sendiri. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegur keras sang menteri secara terbuka. Netanyahu menilai perilaku Ben-Gvir tidak sejalan dengan norma dan nilai-nilai negara Israel.
Namun, Ben-Gvir tidak tinggal diam. Ia menyerang balik Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, di parlemen. Ben-Gvir menuduh Saar tunduk kepada pihak teroris. Ia juga menegaskan bahwa permintaan maaf kepada para aktivis hanya akan menunjukkan tanda kelemahan bagi posisi Israel saat ini.
Konteks Operasi Flotilla Gaza
Aktivis meluncurkan kapal bantuan dari Turki minggu lalu untuk menembus blokade Gaza. Angkatan Laut Israel kemudian mencegat kapal-kapal tersebut di perairan internasional. Pihak Israel menganggap misi tersebut hanyalah “aksi publisitas untuk mendukung Hamas.”
Walaupun demikian, para aktivis menolak tuduhan tersebut. Mereka menegaskan bahwa misi mereka murni bertujuan untuk menarik perhatian dunia terhadap krisis kemanusiaan di Gaza. Maka dari itu, ketegangan ini menempatkan diplomasi Israel dalam posisi yang semakin sulit di panggung internasional.












