AS dan Iran Negosiasikan Akhir Perang di Tengah Krisis

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Harapan baru di Qatar. Pejabat tinggi Amerika Serikat dan Iran bertemu di Doha untuk membahas proposal perdamaian guna mengakhiri konflik yang melumpuhkan pasokan energi global. Dok: Xinhua.

Harapan baru di Qatar. Pejabat tinggi Amerika Serikat dan Iran bertemu di Doha untuk membahas proposal perdamaian guna mengakhiri konflik yang melumpuhkan pasokan energi global. Dok: Xinhua.

DOHA, POSNEWS.CO.ID – Upaya perdamaian di Timur Tengah memasuki babak penting di Doha. Menteri Luar Negeri Iran dan kepala negosiator mereka mengadakan pertemuan strategis dengan Perdana Menteri Qatar. Mereka membahas potensi kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung tiga bulan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan optimisme bahwa diplomasi akan berhasil. Namun, ia mengingatkan bahwa Washington tetap menyiapkan opsi lain jika perundingan menemui jalan buntu.

Proposal Bertahap: Nuklir dan Selat Hormuz

Proposal terbaru yang Iran ajukan menawarkan penghentian perang secara total. Teheran bersedia membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari paket perdamaian. Namun, Iran menuntut penundaan pembahasan program nuklir hingga konflik benar-benar usai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Washington menolak skema tersebut. AS bersikeras bahwa isu nuklir harus menjadi prioritas sejak awal negosiasi. Saat ini, Iran terus memperkaya uranium hingga mendekati standar senjata militer. Oleh karena itu, Amerika Serikat menuntut jaminan transparan agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir di masa depan.

Baca Juga :  1.000 Hari Penentu Masa Depan: Studi Raksasa Selandia Baru Ungkap Fakta Mengejutkan tentang Bayi Modern

Reaksi Pasar: Harga Minyak Dunia Merosot

Kabar optimis mengenai dialog di Doha langsung mengguncang pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent sempat merosot tajam hingga 4% ke level terendah dalam dua minggu terakhir. Investor menyambut baik prospek berakhirnya perang yang selama ini mengganggu rantai pasok energi dunia.

Meskipun demikian, volatilitas pasar masih tinggi. Harga minyak kembali naik sedikit di atas level USD 100 per barel pada penutupan perdagangan. Hal ini mencerminkan keraguan investor terhadap konsistensi kedua pihak dalam menyelesaikan perselisihan yang rumit.

Peran Kunci Mediator dan Tekanan Politik

Dinamika perundingan ini sangat bergantung pada peran mediator. Pakistan terus memainkan peran vital dalam menyambungkan komunikasi antara Washington dan Teheran. Selain itu, Qatar aktif menjembatani perbedaan pendapat guna mencegah eskalasi militer yang lebih merusak.

Baca Juga :  Skandal Epstein Guncang Inggris: Mantan Dubes Peter Mandelson Ditangkap Polisi

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menghadapi tekanan politik yang sangat besar. Pemilihan kongres akan berlangsung dalam enam bulan ke depan. Lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat telah menekan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan. Maka dari itu, keberhasilan mencapai kesepakatan damai menjadi kebutuhan politis yang mendesak bagi Trump guna menjaga dominasi Partai Republik di Kongres.

Menanti Kepastian Teheran

Masyarakat internasional kini menanti langkah teknis selanjutnya dari Teheran. Iran saat ini sedang meninjau draf usulan terbaru dari Amerika Serikat. Singkatnya, keberhasilan mediasi ini akan menjadi kunci utama dalam mencegah krisis ekonomi global yang lebih luas.

Dengan demikian, masyarakat global berharap kedua pihak mampu menurunkan ego mereka. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, perdamaian di Selat Hormuz menjadi kunci utama untuk memulihkan stabilitas rantai pasok global dan menurunkan tekanan inflasi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan
KPK Fasilitasi 52 Tahanan Korupsi Salat Idul Adha dan Kunjungan Keluarga
Selebgram Brunei Jadi Tersangka Penganiayaan Maut di Blok M Jakarta Selatan
Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga
Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat
Netanyahu Bersumpah Tingkatkan Serangan Saat Gencatan Senjata
Moskow Ancam Serangan Masif ke Kyiv Jelang Peringatan
Pyongyang Luncurkan Rudal Balistik ke Perairan Barat

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:00 WIB

Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:43 WIB

KPK Fasilitasi 52 Tahanan Korupsi Salat Idul Adha dan Kunjungan Keluarga

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:31 WIB

Selebgram Brunei Jadi Tersangka Penganiayaan Maut di Blok M Jakarta Selatan

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:21 WIB

Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:30 WIB

Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat

Berita Terbaru

Akhir dari penahanan politik. Pemimpin oposisi Kamboja, Kem Sokha, akhirnya menghirup udara bebas setelah menerima pengampunan kerajaan. Meski demikian, pemerintah tetap melarangnya beraktivitas di dunia politik. Dok: (AP Photo/Heng Sinith, File)

INTERNASIONAL

Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:00 WIB

Ketegangan di zona wabah. Vanny Birungi dan para relawan kemanusiaan di Kongo Timur berjuang melawan penyebaran virus Ebola di tengah ketidakpercayaan penduduk lokal dan ancaman kelompok bersenjata. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

INTERNASIONAL

Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:21 WIB

Ilustrasi, Peringatan dari Takhta Suci. Paus Leo XIV mengeluarkan ensiklik pertamanya,

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:30 WIB