WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengejutkan publik dengan memberikan tanggapan optimistis atas laporan inflasi terbaru. Sebab, ia tanpa ragu menyatakan kecintaan yang mendalam terhadap fenomena kenaikan harga barang tersebut.
Lembaga statistik pemerintah baru saja merilis data Indeks Harga Konsumen untuk bulan Mei. Akibatnya, data tersebut menunjukkan bahwa inflasi nasional melonjak hingga menyentuh angka 4,2 persen. Namun, Trump justru memberikan pujian yang mengejutkan terhadap angka inflasi yang sangat tinggi tersebut.
Reaksi Keras Kubu Demokrat
Pernyataan kontroversial Trump tersebut langsung memicu kemarahan besar dari para politisi Partai Demokrat di Kongres. Oleh karena itu, mereka segera menyebarkan rekaman video ucapan presiden tersebut ke berbagai media sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menilai ucapan Trump membuktikan ketidakpedulian nyata terhadap kesulitan rakyat kecil. Sementara itu, Pemimpin Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, melontarkan sindiran yang tidak kalah tajam kepada Trump. Menurutnya, Trump mencintai inflasi sama besarnya dengan kecintaan sang presiden terhadap diri sendiri.
Misi Rahasia di Selat Hormuz
Trump berdalih bahwa perang melawan Iran merupakan pemicu utama dari lonjakan harga energi saat ini. Meskipun begitu, ia mengklaim bahwa pemerintah telah menjalankan misi militer rahasia untuk mengatasi krisis tersebut.
Trump menjelaskan bahwa pasukan militer Amerika Serikat sukses mengawal pengiriman 100 juta barel minyak mentah. Dengan demikian, armada kapal dagang dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman dari ancaman militer Iran. Akibatnya, pasokan tambahan ini berhasil menurunkan harga minyak dunia hingga berada di bawah 90 dolar AS per barel.
Penurunan Daya Beli Warga
Pihak oposisi tetap meragukan keabsahan data klaim pengiriman minyak mentah secara rahasia dari Trump tersebut. Sebab, para pelaku pasar finansial justru menunjukkan sikap yang sangat hati-hati terhadap pernyataan sepihak pemerintah.
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menegaskan bahwa pemerintah terus mengupayakan penurunan biaya hidup warga. Namun, pengamat ekonomi menilai daya beli masyarakat Amerika Serikat tetap mengalami penurunan yang sangat parah. Pada akhirnya, ketidakpastian ekonomi ini terus membayangi posisi politik Partai Republik menjelang pemilihan umum paruh waktu.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












