Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Peringatan dari Takhta Suci. Paus Leo XIV mengeluarkan ensiklik pertamanya,

Ilustrasi, Peringatan dari Takhta Suci. Paus Leo XIV mengeluarkan ensiklik pertamanya, "Magnifica Humanitas," yang menuntut regulasi global atas kecerdasan buatan dan memperingatkan bahaya pengembangan AI untuk persenjataan otonom. Dok: Istimewa.

VATIKAN, POSNEWS.CO.ID – Paus Leo XIV menuntut regulasi ketat terhadap kecerdasan buatan (AI) pada hari Senin. Beliau mendesak para pengembang teknologi untuk bekerja demi kepentingan bersama, bukan demi keuntungan pribadi. Paus merilis manifesto komprehensif ini untuk melindungi umat manusia dari dampak teknologi yang merambah ke berbagai sektor, mulai dari dunia kerja hingga peperangan.

“Magnifica Humanitas” menjadi ensiklik pertama Paus Leo XIV. Sejak terpilih, sang Paus telah mengidentifikasi AI sebagai tantangan terbesar bagi kemanusiaan saat ini.

Menolak “Budaya Kekuasaan” dalam AI

Dalam teks tersebut, Leo XIV mengecam “budaya kekuasaan” yang menggerakkan persaingan AI. Terutama, ia mengkritik pengembangan metode perang jarak jauh yang semakin canggih. Ia menyatakan bahwa manusia tidak boleh membiarkan sistem AI mengambil keputusan mematikan yang tidak dapat dibatalkan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kecerdasan Buatan kini menuntut untuk dilucuti senjatanya. Kita harus membebaskannya dari logika yang mengubahnya menjadi instrumen dominasi, pengecualian, dan kematian,” tegas Paus dalam presentasi khusus di Vatikan. Oleh karena itu, pernyataan ini menciptakan titik ketegangan baru antara Paus Amerika Serikat ini dan pemerintahan Trump yang secara agresif mendorong deregulasi pengembangan AI.

Baca Juga :  Bagaimana Telegraf Mengubah Kecepatan Dunia Selamanya

Menjadi Acuan Global

Para pakar di industri teknologi, akademisi, dan moralis Katolik memuji dokumen tersebut. Mereka memprediksi dokumen ini akan menjadi tolok ukur dalam debat mengenai AI. Selanjutnya, dokumen ini akan menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan masyarakat umum di seluruh dunia.

Teknologi AI yang berkembang setiap hari memicu kekhawatiran serius. Banyak pihak takut AI akan menggantikan pekerjaan manusia, bahkan menyaingi kecerdasan manusia itu sendiri. Taylor Black, seorang eksekutif AI di Microsoft, menyebut dokumen ini akan mendorong orang-orang di garis depan teknologi untuk mempertanyakan kembali hakikat menjadi manusia.

Dialog dengan Anthropic

Peluncuran di Vatikan ini juga melibatkan keterlibatan Anthropic. Perusahaan tersebut kini sedang terlibat dalam pertarungan hukum dengan pemerintahan Trump terkait akses teknologi AI. Dengan demikian, Vatikan sengaja melibatkan Anthropic sebagai bagian dari upaya dialog selama satu dekade dengan Silicon Valley mengenai biaya kemanusiaan dari AI.

Baca Juga :  China Kecam Jepang dan Uni Eropa Soal Isu Maritim

Meskipun demikian, Paus Leo XIV berulang kali mengkritik konsentrasi kekuasaan dan data di tangan segelintir sektor swasta. Ia menganggap hal tersebut berbahaya, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Ia menyerukan regulasi eksternal terhadap pekerjaan mereka.

“Kita tidak cukup hanya menyerukan etika secara abstrak. Kita membutuhkan kerangka hukum yang kuat, pengawasan independen, pengguna yang cerdas, dan sistem politik yang bertanggung jawab,” tulis Paus. Ia menambahkan bahwa moralitas yang ditentukan oleh segelintir pihak tidaklah cukup bagi dunia.

Memilih Kemanusiaan di Atas Kekuasaan

Paus Leo XIV mengimbau para pengembang AI dan pemimpin politik untuk melambat dan merenungkan tindakan mereka. Ia mendorong penggunaan pedoman etis dan spiritual untuk memilih bekerja demi kemajuan kemanusiaan, bukan demi kekuasaan atau keuntungan pribadi.

Singkatnya, langkah ini menegaskan posisi Vatikan dalam debat teknologi global. Masyarakat internasional kini menanti apakah seruan Paus akan mampu menggerakkan para pemimpin dunia untuk menempatkan martabat manusia di atas ambisi teknologi yang tidak terkendali.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Mei Pecah
Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan
KPK Fasilitasi 52 Tahanan Korupsi Salat Idul Adha dan Kunjungan Keluarga
Selebgram Brunei Jadi Tersangka Penganiayaan Maut di Blok M Jakarta Selatan
Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga
Netanyahu Bersumpah Tingkatkan Serangan Saat Gencatan Senjata
AS dan Iran Negosiasikan Akhir Perang di Tengah Krisis
Moskow Ancam Serangan Masif ke Kyiv Jelang Peringatan

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:33 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Mei Pecah

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:00 WIB

Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:43 WIB

KPK Fasilitasi 52 Tahanan Korupsi Salat Idul Adha dan Kunjungan Keluarga

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:31 WIB

Selebgram Brunei Jadi Tersangka Penganiayaan Maut di Blok M Jakarta Selatan

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:21 WIB

Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga

Berita Terbaru

Ilustrasi, Cuaca ekstrem menghantam Eropa. Suhu panas yang memecahkan rekor menyebabkan kematian di ajang olahraga amatir, memicu peringatan dini dari pemerintah, dan memaksa warga mencari perlindungan di tengah bulan Mei yang tak lazim. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Mei Pecah

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:33 WIB

Akhir dari penahanan politik. Pemimpin oposisi Kamboja, Kem Sokha, akhirnya menghirup udara bebas setelah menerima pengampunan kerajaan. Meski demikian, pemerintah tetap melarangnya beraktivitas di dunia politik. Dok: (AP Photo/Heng Sinith, File)

INTERNASIONAL

Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:00 WIB

Ketegangan di zona wabah. Vanny Birungi dan para relawan kemanusiaan di Kongo Timur berjuang melawan penyebaran virus Ebola di tengah ketidakpercayaan penduduk lokal dan ancaman kelompok bersenjata. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

INTERNASIONAL

Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:21 WIB