WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan ancaman militer yang sangat keras kepada Oman. Ia menyampaikan langkah mengejutkan ini dalam rapat kabinet di Gedung Putih pada hari Rabu.
Trump menegaskan bahwa pemerintah Oman harus segera bersikap patuh. Sebab, militer AS siap menghancurkan negara tersebut jika mereka nekat bersekutu dengan Iran. Selain itu, ia menolak keras usulan kesepakatan jangka pendek mengenai pengelolaan Selat Hormuz.
“Selat tersebut harus tetap terbuka bagi semua pihak,” ujar Trump kepada wartawan. Dengan demikian, ia menegaskan bahwa wilayah perairan tersebut merupakan jalur internasional. Oleh karena itu, Oman harus menaati aturan navigasi internasional seperti negara lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebingungan dan Dugaan Salah Ucap
Pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait ancaman tersebut. Sementara itu, beberapa pengamat menduga presiden berusia 79 tahun itu salah menyebut nama negara. Kemungkinan besar, ia sebenarnya berniat merujuk kepada Iran dan bukan Oman.
Sebelumnya, Trump juga sempat keliru menyamakan Iran dengan Venezuela. Sebagai contoh, ia mengeklaim negara Amerika Selatan tersebut tidak lagi memiliki kekuatan militer laut. Padahal, ia biasa menggunakan kalimat sindiran tersebut khusus untuk menggambarkan kondisi militer Iran.
Peran Strategis Oman dan Retribusi Iran
Oman sebenarnya merupakan sekutu pertahanan yang sangat vital bagi Amerika Serikat. Selama ini, Muscat aktif membantu upaya mediasi konflik regional dan bahkan sering mengalami serangan dari pihak Iran. Meskipun demikian, Departemen Luar Negeri AS tetap mengunggah rekaman pidato Trump tersebut tanpa koreksi.
Iran sendiri terus berupaya menerapkan aturan baru secara paksa di Selat Hormuz. Secara spesifik, Tehran ingin menarik tarif upeti bagi setiap kapal dagang yang melintas. Selanjutnya, mereka berencana membagi keuntungan retribusi ilegal tersebut bersama pihak Oman.
Kekecewaan Trump atas Negosiasi yang Macet
Trump tampaknya semakin frustrasi karena proses negosiasi damai kembali menemui jalan buntu. Padahal, ia sebelumnya sempat mengeklaim bahwa kesepakatan damai sudah sangat dekat. Akibatnya, ketegangan geopolitik di jalur pasokan energi dunia ini kini kembali memanas dalam waktu singkat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












