Trump Tolak Laporan Draf Damai Sepihak Iran

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa negosiasi perdamaian dengan pihak Iran masih belum mencapai titik temu. Hal ini terjadi setelah Washington secara resmi menolak laporan stasiun televisi pemerintah Iran mengenai draf kesepakatan damai.

Televisi Iran sebelumnya mengeklaim kedua negara telah menyepakati draf pemulihan jalur pelayaran Selat Hormuz dalam waktu sebulan. Namun, Trump membantah klaim sepihak tersebut dalam rapat kabinet di Gedung Putih pada hari Rabu.

Tuntutan Kesepakatan Sempurna dari Gedung Putih

Trump menjelaskan bahwa Iran memang sangat berniat untuk mengakhiri perang yang mencekik pasokan energi dunia ini. Meskipun demikian, ia menilai poin-poin kesepakatan yang ada saat ini belum memuaskan pihak Washington.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kesepakatan tersebut harus berjalan dengan sangat sempurna,” tegas Trump di hadapan media. Dengan demikian, ia menuntut pembukaan total jalur Selat Hormuz tanpa kontrol tunggal dari negara mana pun.

Baca Juga :  Krisis Taiwan: Beijing Pertegas Dukungan Unifikasi

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengonfirmasi adanya sedikit kemajuan dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan utama AS tetap memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Klaim Draf Sepihak dan Blokade Laut

Laporan televisi Iran mengeklaim bahwa draf awal tersebut mengatur pencabutan blokade laut AS terhadap kapal-kapal Iran. Selain itu, militer AS juga wajib menarik mundur pasukannya dari wilayah perairan sekitar Iran.

Akan tetapi, draf tersebut tidak menyinggung masalah pembubaran program nuklir Iran seperti tuntutan utama Washington. Akibatnya, Gedung Putih merilis pernyataan resmi yang menyebut laporan draf tersebut sebagai fabrikasi total.

Pihak Iran sendiri memilih untuk tidak memberikan komentar resmi terkait bantahan keras dari Gedung Putih tersebut. Di sisi lain, bursa energi global langsung merespons isu draf perdamaian ini secara sensitif. Sebagai contoh, harga minyak dunia sempat merosot sebesar $5\%$ sebelum akhirnya kembali stabil.

Baca Juga :  Elon Musk Pernah Rencanakan Pesta di Pulau Jeffrey Epstein

Keberadaan Pasukan AS dan Pembahasan Isu Nuklir

Saat ini, militer AS menempatkan sekitar $15.000$ tentara untuk memperketat blokade maritim di sekitar wilayah perairan Iran. Selanjutnya, ribuan personel militer AS juga bersiaga di pangkalan udara wilayah Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

Para pejabat pertahanan Iran menginginkan pembahasan isu senjata nuklir berlangsung pada sesi perundingan putaran kedua. Oleh sebab itu, penundaan ini memicu penolakan keras dari para pendukung setia kebijakan luar negeri Trump.

Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung Iran, Ali Bagheri Kani, menegaskan belum ada kesepakatan apa pun yang resmi. “Selama kami belum menyetujui semua isu, kami menganggap tidak ada kesepakatan,” tegas Kani di Moskow.

Perang asimetris ini telah menewaskan ribuan orang dan memicu krisis inflasi energi serta pangan secara global. Maka dari itu, Trump menghadapi tekanan politik domestik yang berat menjelang pemilihan umum paruh waktu mendatang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

ORI 2021–2026 Dinilai Paling Bermasalah, Jimly Ungkap Ada Ketidakkompakan Pimpinan
Ditjenpas Beri Remisi untuk 560 Narapidana Lansia, Jawa Barat Terbanyak
Misteri Kematian WN Korea Selatan di Tambun Terungkap, Polisi Amankan Pelaku
Rampok Toko Emas Pasar Pucung Dibekuk Warga, Wajah Pelaku Babak Belur
Rudal Balistik Jadi Andalan Terakhir Putin: Zelenskyy Desak Trump
Trump Ancam Serang Oman Jika Bantu Iran
8 Orang Diciduk Polisi dalam Razia Narkoba Jakarta Pusat
PBB Sebut Suhu Global Berpeluang Lewati Ambang Batas

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 19:57 WIB

ORI 2021–2026 Dinilai Paling Bermasalah, Jimly Ungkap Ada Ketidakkompakan Pimpinan

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:06 WIB

Ditjenpas Beri Remisi untuk 560 Narapidana Lansia, Jawa Barat Terbanyak

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:46 WIB

Misteri Kematian WN Korea Selatan di Tambun Terungkap, Polisi Amankan Pelaku

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:39 WIB

Rampok Toko Emas Pasar Pucung Dibekuk Warga, Wajah Pelaku Babak Belur

Jumat, 29 Mei 2026 - 14:18 WIB

Rudal Balistik Jadi Andalan Terakhir Putin: Zelenskyy Desak Trump

Berita Terbaru

Menepis dominasi udara Rusia. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengirim surat bersama kepada Donald Trump dan Kongres AS guna meminta bantuan mendesak pasokan rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Rudal Balistik Jadi Andalan Terakhir Putin: Zelenskyy Desak Trump

Jumat, 29 Mei 2026 - 14:18 WIB